Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ulama Tak Mungkin Berfatwa yang Bertentangan dengan Hukum Allah

Iklan Landscape Smamda
Ulama Tak Mungkin Berfatwa yang Bertentangan dengan Hukum Allah
pwmu.co -
Ustadz Adi Hidayat di Pengajian Orbit Virtual (Tangkapan layar Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

Ulama Tak Mungkin Berfatwa yang Bertentangan dengan Hukum Allah, laporan Sayyidah Nuriyah, kontributor PWMU.CO Gresik. 

PWMU.CO – Ulama tak mungkin keluarkan fatwa yang bertentangan dengan hukum Allah. Tidak mungkin pula melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemuliaan.

BegitulahUstadz Dr Adi Hidayat Lc MA (UAH) mengungkap ciri ulama yang semestinya. Dia menegaskan, “Ciri ulama bukan hanya menguasai berbagai bidang keilmuan, tapi ada pancaran kekhusukan yang melahirkan khasyah!” 

Khasyah merupakan pancaran kekhusukan, sifat siap menerima perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. “Saking dekatnya dengan Allah, takut kalau lisannya berkata keliru,” imbuhnya. 

Hal ini dia ungkap ketika berceramah pada Pengajian Virtual Orbit binaan Prof KH M Din Syamsuddin MA PhD, Kamis (27/1/2022) malam. Para Orbiters—sebutan jamaah—yang meliputi artis, akademisi, dan berbagai profesi lain lintas karya dari seluruh pelosok Indonesia maupun luar negeri khusuk menyimak penjelasannya. 

Pancaran Iman 

UAH menerangkan, ada banyak tanda khusuk sudah sampai di jiwa manusia, juga sudah dipraktikkan dalam shalat. Misal, bergetar saat mendengar adzan. 

Tanda lainnya, orang tersebut akan menyambut dan mempersiapkan ibadah dengan baik. Seperti sudah bersiap shalat sebelum adzan berkumandang, bahkan sudah pemanasan dengan shalat sunnah sebelumnya. 

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Semakin tinggi kekhusukannya, semakin tinggi kemuliaan terlihat, bagaimana pancaran ibadah dalam dirinya,” ujar UAH. 

Selain itu, kata dia, tanda lainnya adalah ketika mendengar bacaan ayat al-Quran, tampak ekspresi tubuhnya yang menunjukkan kekhusukan.  

Level inilah yang dimaksud dalam Fusshilat ayat 39. “Orang khusuk itu ibaratnya seperti tanah kering yang subur kembali, siap jiwanya untuk menerima apapun,” ungkapnya. 

Artinya, siap menerima perintah Allah apapun. Dengan kata lain, sami’na wa atha’na. Misal, kalau diperintahkan shalat, langsung shalat, tidak bertanya waktu. “Jadi tidak ada kami dengar kami bertanya!” selorohnya. 

Baca sambungan di halaman 2: Tanda Orang Khusuk

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu