Refleksi Akhir Tahun 2019: Milenial Vs Kolonial

192
Pasang Iklan Murah
Dhimam Abror Djuraid. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.COAnak-anak muda zaman now disebut sebagai generasi milenial. Sedangkan generasi zaman old seangkatan orangtua mereka disebut sebagai generasi kolonial.

Sedikit lebih keren, generasi kolonial disebut sebagai baby boomers, yang lahir pada masa-masa Perang Dunia II sampai masa awal 1960-an. Mereka merasakan era-era terakhir masa pendudukan kolonial Eropa.

Generasi ini kemudian menikmati kemerdekaan dan pembebasan dari kekuasaan kolonial. Di era penjajahan kolonial Eropa sumber daya alam dan ekonomi kita habis disedot kolonialis Eropa. Setelah merdeka, harapannya, tentu saja, kita ingin hidup sejahtera menikmati kekayaan alam untuk kemakmuran bangsa sendiri.

Tujuh puluh tahun lebih merdeka harapan itu tetap menjadi utopia. Sampai saat ini para baby boomers itu sebagian sudah uzur, sebagian lainnya berada pada masa-masa akhir usia produktif, dan sebagian lainna mulai memasuki masa pensiun. Dalam beberapa tahun ke depan generasi ini secara total akan menjadi generasi tidak produktif dan sebagian terbesar dari mereka menjadi liabilitas ekonomi bagi generasi di bawahnya.

Tongkat estafet segera berpindah generasi X, generasi Y, generasi Z, atau generasi Z+ yang lebih muda lagi. Masa kolonial lama berlalu tapi tidak sepenuhnya hilang. Kolonialisme model baru tetap menjajah dunia ketiga sejak 1940-an sampai sekarang. Kolonialisme tetap ada dari dulu sampai sekarang, menjajah dan menyedot kekayaan dunia ketiga, esensinya tidak pernah berubah, hanya bentuknya saja yang berubah.

Kolonialisme mengalami metamorfosa. Mereka melakukan metamorfosa terhadap dirinya sendiri. Tiap saat memperbarui dirinya sendiri. Setiap kali ada tantangan berat dari luar, trio kolonialisme, liberalisme, dan kapitalisme selalu bisa menyelamatkan diri, memerbaiki diri, dan muncul lagi lebih segar dan lebih kuat.

Begitu terus-menerus, sampai akhirnya mencapai titik ketika mereka memproklamasikan diri bahwa sejarah telah berakhir, the end of history, pada 1990, kapitalisme, liberalisme, dan juga kolonialisme telah menjadi raja dunia.

Francis Fukuyama (1991), saat itu memproklamasikan kemenangan universal kapitalisme-liberalisme atas semua ideologi di atas planet bumi, tidak ada satu ideologi pun yang cocok bagi umat manusia kecuali kapitalisme dan liberalisme.

Baca Juga:  The Joker, Ini Kelucuan Presiden-Presiden Kita

Fukuyama tidak menyebutkan kolonialisme sebagai bagian dari ideologi juara dunia, karena hal itu politically incorrect, secara politik tidak bisa dibenarkan. Tetapi, trio itu tak terpisahkan dari kapan sampai kapan pun. Meminjam terminologi kristiani yang dipopulerkan Joseph Stiglitz (2001), trio itu adalah “The Unholy Trinity”, trinitas yang tidak suci.

Di era penjajahan fisik awal abad ke-20 trinitas tidak suci kolonialisme-liberalisme-kapitalisme menjajah habis Asia dan Afrika. Pada 1940-an penjajahan fisik oleh bangsa Eropa secara formal berakhir. Tapi muncul penjajahan baru oleh Amerika Serikat yang muncul sebagai adikuasa baru pemenang Perang Dunia. Tidak ada kolonialisme formal. Tapi kapitalisme dan liberalisme masih ada disana, malah makin kuat.

Ada persaingan dari komunisme Uni Soviet yang sempat sedikit merepotkan pada setengah abad paska-perang. Tapi, kemudian layu dan ambruk menyisakan Trinitas Tidak Suci sendirian seng ada lawan.

Sejak era pasca-perang praktis Amerika, sebagai biang Trinitas Tidak Suci, memegang remote control dunia sendirian. Melalui PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) Amerika dan Eropa mengendalikan dunia. Koalisi Amerika-Eropa hanya 12 persen dibanding total anggota PBB lainnya. Pun demikian, koalisi 88 persen itu tak berkutik menghadapi koalisi Trinitas Tidak Suci yang hanya minoritas.

PBB harusnya menjadi global government, pemerintahan global, yang efektif menjaga ketenteraman dunia dari ancaman konflik perang terbuka, ancaman nuklir, ancaman terorisme internasional, ancaman bahaya pemanasan global, ancaman krisis pangan, krisis air, dan semua potensi bahaya lainnya. Tapi, Trio Trinitas Tidak Suci sengaja mengebiri PBB. Mereka tak ikhlas memberi peran penting itu kepada PBB. Lembaga ini tak berdaya karena biaya operasionalnya sangat berantung pada belas kasih Trinitas.

Dalam percaturan geopolitik Amerika mengendalikan dunia dengan mendominasi PBB. Dalam urusan geoekonomi Amerika dan Eropa mengendalikan Badan Perdagangan Dunia (WTO), Bank Dunia, dan Dana Moneter Internasional (IMF). Inilah tiga lembaga pengendali ekonomi dunia yang oleh Stiglitz dijuluki sebagai The Unholy Trinity.

Trinitas ini sangat perkasa. Semua negara dunia harus bergabung kalau tak mau dikucilkan. Bahkan, China pun berkepentingan untuk menjadi anggota Trinitas. Maka berabunglah China di dalamnya. Ideologi komunisme tidak laku lagi, menyerah kepada ideologi trinitas.

Baca Juga:  Korupsi Stadium Empat, Perlu Pemimpin Tegas untuk Memberantasnya

China berani melawan Amerika dalam perang dagang terbuka. Tapi itu tak lebih dari sandiwara saja. Mereka tahu persis bahwa sekarang bukan lagi era zaman perang. Sekarang tak ada lagi batas kawan (friend) dan lawan (enemy). Sekarang adalah era dimana kawan sekaligus bisa menjadi lawan (frenemy), mereka melebur jadi satu.

Kini, ekonomi dunia bergeser ke era ekonomi digital. Peran Trinitas akankah hilang? Tidak. Amerika tetap raja dunia. Di era ekonomi digital sekarang Amerika tetap menjadi raja dunia. Kali ini bahkan Amerika adalah penguasa tunggal ekonomi digital dunia karena Amerika menguasai internet dan tidak akan mau berbagi dengan siapapun.

Di era ekonomi digital ini The Unholy Trinity baru telah lahir menjadi penguasa baru dunia digital dan ketiganya lahir di bumi Amerika. Tiga Trinitas Tidak Suci itu adalah Google, Facebook, dan Amazon. Google menguasai ekonomi dunia melalui mesin pencari (search engine), Facebook menguasai jagat media sosial, dan Amazon merajai dunia e-commerce.

Koalisi Trinitas baru ini menguasai ekonomi digital dunia dan bertiga menjadi wajah baru metamorfosa kolonialisme-kapitalisme-liberalisme digital dengan kekuatan yang maha-dahsyat.

Kalau dulu kolonialisme menghadapi perlawanan senjata, saat ini kolonialisme digital tidak menghadapi perlawanan apapun. Kita, manusia seluruh dunia, dengan senang hati, dengan sukacita dengan ikhlas mempersilakan kolonialisme digital masuk sampai ke dalam ruang privat kita.

Kita dengan sadar menyerahkan data-data kehidupan privat kita kepada mereka melalui penggunaan medsos dan mesin pencari yang tanpa batas. Data-data pribadi yang triliunan jumlahnya itu menjadi harta karun tak ternilai harganya yang kita serahkan secara cuma-cuma.

Big data, cloud data, artificial intelligence, adalah bisnis multi-triliun dolar yang kita persembahkan sebagai upeti gratis kepada para penjajah digital. Dan kita semua menikmati penjajahan ini sambil ngopi, tertawa-tawa, dan baca WhatsApp.

Tahun Baru 2020! (*)

Kolom oleh Dhimam Abror Djuraid, wartawan senior.