Yakin dengan Iqra, Kubur Keraguan

Yakin dengan Iqra, Kubur Keraguan, (Ilustrasi freepk.com)

Yakin dengan Iqra, Kubur Keraguan ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Ngaji Ramadhan hari ini membahas hadits riwayat Tirmidzi sebagai berikut:

عَنْ أبي مُحَمَّدٍ الْحَسنِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أبي طَالِبٍ، رَضيَ اللَّهُ عَنْهما، قَالَ حفِظْتُ مِنْ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: “دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَريبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمأنينَةٌ، وَالْكَذِبَ رِيبةٌ” رواه التِرْمذي 

Dari Abu Muhammad al Hasani bin ‘Ali Bin Abi Thalib RA berkata, ‘Aku menghafalkan dari Rasulullah SAW: “Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu. Sungguh kejujuran itu mentramkan dan kedustaan itu mersahkan (hati)”  

Menuju kebenaran membutuhkan keyakinan dan penyakit yakin adalah keraguan. Yakni sikap antara yakin dan tidak yakin; antara percaya dan tidak percaya; antara mantap dan tidak mantap.

Dengan kondisi demikian prinsip hidupnya tidak jelas dan cenderung ikut-ikutan (taqlid). Bisa ikut ke sana bisa juga ke sini, tergantung posisi mana yang dianggap menguntungkan bagi dirinya.

Al-Islam memberikan konsepsi supaya manusia berjalan di atas keyakinannya. Akal dan hati (fuad) merupakan kelengkapan potensi yang tidak dikaruniakan kepada lainnya.

Akal sebagai alat menyaring dan menyeleksi keyakinan, mana yang harus diyakini. Karena dengan yakin manusia bisa berbuat maksimal dan bersungguh-sungguh, sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal.

Manusia akan menjadi yakin dengan sepenuh hati, yakin mana benar mana salah, mana lurus mana sesat. Bukan dalam keraguan dan ketidakpastian sehingga terjadi spekulasi tingkat tinggi dalam hal ini. Sebab hidup memiliki konsekuensi dan risiko yang tinggi pula.

Kewajiban Menggunakan Akal

Berpikir menggunakan akal merupakan fardlu ‘ain. Hal yang mendasar adalah berpikir tentang fenomena kehidupan ini. Dimulai dari penciptaan alam dan semua fenomenanya. Termasuk fenomena dalam diri kita, yang merupakan sistem otomatis, Misalnya terdiri dari pencernaan, pernafasan, pertumbuhan, atau pembuangan.

Ada pula rasa, asa, karsa, dan lain-lain yang juga sangat mengagumkan. Sungguh sesuatu karya yang sangat luar biasa tanpa tanding. Dan penciptanya adalah Dzat Yang Maha Sempurna.

Berpikir mengacu pada isyarat wahyu pertama: iqra’, Dalam bentuk fiil amr, iqra’ berarti perintah untuk membaca. Perintah tersebut bersifat umum, sehingga wajib bagi setiap individu melakukannya.

Apa yang perlu dicari dan dipikirkan? Tiada lain adalah kebenaran atau al-haq. Kebenaran sejati, kebenaran hakiki. Dengan proses demikian dan jika alur yang dilaluinya benar, maka di sanalah manusia akan menemukan sandaran keyakinannya.

Keyakinannya akan berlabuh pada posisi yang tepat. Posisi yang sesuai dengan proporsinya, dan memiliki keyakinan yang teguh, tidak mudah terombang-ambing oleh badai sekalipun. Bagai batu karang di tengah samudra, kokoh dan tidak bergeser sedikit pun.

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِي بِيَدِهِ ٱلۡمُلۡكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلٗاۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ ٢ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖ طِبَاقٗاۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَٰنِ مِن تَفَٰوُتٖۖ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٖ ٣ ثُمَّ ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئٗا وَهُوَ حَسِيرٞ ٤

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.

Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (al-Mulk 1-4]

وَفِي ٱلۡأَرۡضِ ءَايَٰتٞ لِّلۡمُوقِنِينَ ٢٠ وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٢١

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (adz-Dzariyaat 20-21).

Iqra: Teliti dan Pahami

Ilmu yang utama adalah tauhid, yang merupakan kesimpulan dari prosesi iqra’. Jika kita perhatikan hampir semua para nabi dan rasul memiliki fase ini. Selalu iqra dan iqra: bacalah dan bacalah, teliti dan pahami.

Yakin dengan iqra kita akan mengenal siapa diri kita? Siapa pencipta kita? Siapa yang berhak membimbing kita atau memberikan hidayah? Siapa yang berhak ditaati secara mutlak? Siapa yang berhak membuat konsepsi untuk semua kebutuhan kehidupan umat manusia?

Kita akan mengenali diri kita, dan tidak malah lupa diri. Karena jika lupa diri akibatnya kita tidak sayang diri kita sendiri, sering-sering malah menjerumuskan diri kita ke lembah kesengsaraan karena terjerembab kesesatan.

Akal kita yang selalu iqra dan dipandu dengan hidayah-Nya yakni al-Quran dan as-Sunnah, akan menghasilkan prinsip yang teguh, karena di sinilah ilmu. Keyakinan tanpa ilmu ibarat kapal tidak tahu tempat berlabuhnya.

Ilmulah yang menyebabkan seseorang menjadi yakin. Maka Rasulullah mewajibkan setiap kita menuntut ilmu, untuk menghindarkan diri dari sikap ragu. Tanpa ilmu menjadikan kita selalu taqlid membabi buta padahal attaqliidu hijabuttafkiir ( taqlid itu penghalang fikiran) begitulah ungkapan syaikhul islam ibnu taimiyyah.

Hadits di atas tegas sekali, jangan hidup dalam keraguan. Jika ragu maka tinggalkan. Cari keyakinan yang mantap tanpa ragu. Maka tuntutlah ilmu, jika pola pembelajaran kita banar, maka hasilnya pasti benar.

Ketidaktahuan menjadikan keraguan, tidak ada spekulasi dalam hal ini, karena panduan al-Islam adalah jelas, qad tabayyanarrusydu minal ghay. Sungguh telah jelas antara jalan lurus dan sesat. (al-Baqarah 256).

Halal dan haram telah jelas, di antara keduanya ada ruang musytabihaat. Barang siapa yang dapat menghindarkan diri dari musytabihaat, maka dia akan selamat, demikian isyarat Rasulullah SAW.

Maka tuntutlah ilmu, di tengah kesibukan kita! Bukan shalat saja yang wajib. Menuntut ilmu juga wajib! Bukan hanya babi yang haram, musytabihaat juga masuk wilayah haram! Mari sama-sama berduyun-duyun menuntut ilmu.

Yakin dengan iqra dan kubur keraguan! (*)

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.