Hijrah dan Semangat Perubahan

Hijrah dan Semangat Perubahan (lustrasi freepik.com)

Hijrah dan Semangat Perubahan ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Hijrah dan Semangat Perubahan ini berangkat dari hadist riwayat Bukhari dalam Bab Bad-u Alwahyi.

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا، أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

”Bahwa semua amalan manusia tergantung niatnya. Dan bahwa bagi tiap-tiap orang (balasannya) tergantung niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya itu akan mencapai (ridha) Allah dan Rasul-Nya.

Dan barangsiapa yang hijrahnya karena kepentingan dunia atau karena untuk menikahi seorang wanita maka pahalanya sesuai dengan tendensi hijrahnya tersebut.”  

Makna Hijrah

Hijrah dari akar kata hajara-yahjuru artinya meninggalkan atau perjalanan menuju. Khurujun min makaanin ilaa makanin yakni keluar dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Tetapi dalam definisi ini, ada sebuah riwayat laa hijrata ba’da fathu makkah, tidak ada hijrah setelah terbukanya Kota Makkah.

Hijrah dalam definisi yang lebih luas adalah semangat taghyiir atau berubah. Sebagaimana irman Allah SWT: ”…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’du 11].

Semangat taghyiir menuju dari tidak paham menuju paham. Dari tidak sempurna menuju kesempurnaan dan selalu menuju perbaikan.

Perjalanan kehidupan manusia sesungguhnya sangat terbatas. Waktu yang tersedia seharusnya selalu menuju ke arah perbaikan diri, kematangan jiwa, kedewasaan sikap, dan prilaku.

Maka taghyiir merupakan program yang mesti selalu dicanangkan. Agar selalu ada perubahan ke arah yang lebih baik. Yalni semakin banyak capaian prestasi sebagai hamba Allah SWT. Prestasi dalam melaksanakan amanah kehidupan yang telah dibebankan kepadanya.

Adanya sebuah tahapan-tahapan yang mestinya dicapai. Khususnya berkenaan dengan kualitas diri kita yang sejati. Shalat misalnya, sebagai puncak ibadah dan zikir kepada Allah SWT. Pada tahap awal barangkali cuma mengikuti gerakannya sudah dianggap sah. Tapi tentu tidak berhenti sampai di situ.

Peningkatan ke arah menghafal bacaan-bacaannya harus menjadi program berikutnya. Kemudian dilanjutkan memahami apa yang dibaca. Sampai pada tataran tertentu mampu memahami apa yang dibaca. Puncaknya adalah mampu memahami secara filosifis tentang shalat sehingga menemukan ketentraman dan kedamaian diri di sana.

Proses menuju perbaikan kualitas diri inilah juga merupakan bentuk hijrah. Kadang diperlukan bentuk hijrah dari suatu tempat ke tempat lainnya. Karena esensi dari hijrah adalah bagaimana kita mempertahankan tauhid dengan segala implementasinya. Sehingga jika dibutuhkan perpindahan diri dari tempat tertentu, maka itupun harus dilakukan.

Hijrah dari apa yang dilarang oleh Allah SWT. Menghindarkan diri segala apa yang dilarang oleh Allah, dan selalu menuju dan meraih hikmah dari apa yang diperintahkan oleh-Nya.

Semakin bertambahnya usia semakin banyak mutiara-mutiara hikmah yang diperolehnya. Sehingga semakin bertambah usia semakin meningkat pula kualitas diri ini sebagai hamba-Nya.

Yang Tak Hijrah Dikecam

Allah SWT mengecam orang-orang yang enggan berhijrah. Bahkan sampai ia meninggal dunia tidak selalu memperbaiki diri. ”Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:

‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’
Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’ Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa 97).

Hijrah adalah upaya perubahan menuju perbaikan kualitas diri. Dan betapa ruginya manusia-manusia yang lupa memperhatikan masalah ini. Padahal sebagaimana ayat diatas taruhannya adalah neraka Jahannam, sebagai tempat yang paling mengerikan dan mengenaskan.

Hijrah adalah ciri bagi mukmin. Hampir semua nabi dan rasul memiliki fase ini. Karena memang hijrah suatu kebutuhan terus-menerus. Selalu berubah dan berubah untuk berbenah.

Tiada yang sempurna bagi manusia, dan tidak perlu merasa telah sempurna. Selalu ada celah untuk kita harus beistighfar mohon ampun kepada-Nya, sembari memperbaiki dan memperbaiki diri sampai ajal menjemput kita. Hijrah, hijrah. dan hijrahlah jangan berhenti berhijrah.

Canangkan cita-cita, raih masa depan yang lebih baik. Perjuangan tidak pernah berhenti. Dengan segala kemungkinan, hijrah harus dilakukan demi meyelamatkan iman ini. Karena iman merupakan mutiara yang teramat mahal untuk dilepaskan.

Jangan terhanyut dengan kondisi. Karena tiada kenikmatan kecuali dengan menggenggam iman. Walaupun mungkin seperti menggenggam bara. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni.  

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.