Empat Macam Niat dan Balasannya

Empat Macam Niat dan Balasannya. (Ilustrasi freepik.com)

Empat Macam Niat dan Balasannya ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Empat Macam Niat dan BalasannyaMenasihati Diri Sendiri ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari dan Muslim.

عَنِ ابْنِ عَبّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللّهِ صلى الله عليه وسلم فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، قَالَ: “إِنّ الله كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسّيّئَاتِ. ثُمّ بَيّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا الله عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا الله عَزّ وَجَلّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ. وَإِنْ هَمّ بِسَيّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا الله عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً… وَإِنْ هَمّ بِهَا فَعَمِلَهَا، كَتَبَهَا الله سَيّئَةً وَاحِدَةً” رواه البخاري ومسلم

Dari Ibnu Abbas dari Rasulullah dalam meriwayatkan dari Tuhannya Dzat Yang Maha Mulia dan Maha Luhur, bersabda: Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan kejahatan-kejahatan. Kemudian di antara keduanya (berlaku hukum).

Barang siapa yang bermaksud melakukan kebaikan, dan ternyata ia tidak menjalankannya maka Allah menulisnya sebagai kebaikan yang sempurna. Dan jika maksud tersebut dilaksanakannya maka Allah Azza wa Jalla menulisnya dengan sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat sampai berlipat-lipat yang sangat banyak.

Dan jika seseorang bermaksud melakukan keburukan dan ia tidak melaksanakannya maka Allah menulisnya sebagai kebaikan yang sempurna. Dan jika ia melaksanakannya maka Allah menulis sebagai keburukan yang satu.”

Definisi Hamma

Hamma bermakna mengkhawatirkan atau memperhitungkan. Sedangkan jika hamma bi menjadi bermakna berniat, bermaksud, atau merencanakan. Sehingga sebagaimana dalam hadits di atas hamma didefinisikan dengan al ‘azmul muakkadu wal harshu ‘alal fi’li. Yakni tekad yang kuat dan keinginan untuk melakukan sesuatu.

Dalam hal ini hamma merupakan pekerjaan hati (‘amalul qalbi). Hati orang yang beriman selalu diisi dengan niat-niat kebaikan. Karena bukti dari keimanannya tersebut adalah selalu berpihak dan cenderung dalam kebaikan. Tentunya hamma dalam hal ini haruslah terbebas dari kontaminasi nafsu pribadi. Dengan demikian semua niat tersebut adalah dalam rangka mencari ridla Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Balasan sesuai Niat dan Amal

Allah Dzat Yang Maha Kasih dan Sayang, selalu memberikan kemudahan dalam meraih kebahagian bagi umat manusia. Sekaligus memberikan dorongan dan motivasi agar umat manusia senantiasa berbuat yang baik dan meninggalkan yang buruk atau kejahatan.

Karena perbuatan baik pasti akan membahagiakan dan menyehatkan bagi jiwa, sedangkan perbuatan buruk pasti merugikan dan membuat resahnya jiwa.

اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِكُمۡ‌ۖوَاِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَهَا…

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…” (al-Isra’ 7).

Dalam hadits di atas, Rasulullah menjelaskan tentang kebaikan dan kejahatan. Dan sekaligus menjelaskan tentang konsekwensi bagi keduanya.

Ada empat hal yang berkaitan dengan hadits di atas. Pertama, jika ada seorang mukmin yang berniat melakukan kebaikan, akan tetapi ia tidak jadi melaksanakannya atau karena tidak sanggup menjalankannya, maka niat tersebut telah dicatat sebagai satu kebaikan yang sempurna (hasanah kaamilah).

Maka bagi seorang mukmin keinginan untuk berbuat baik tentu sangat banyak. Dan seringkali pula tidak tersampaikan untuk dilaksanakan. Maka hal ini adalah suatu kebaikan bagi dirinya.

Kedua, jika seorang mukmin sudah berniat melaksanakan kebaikan, dan kemudian niat tersebut dapat dilaksanakan dengan baik, maka Allah mencatatnya sebagai kebaikan yang berlipat menjadi sepuluh kebaikan (‘asyra hasannat) sampai tujuh ratus kali lipat (sab’u mi ah dli’fin) dan bahkan sampai berlipat-lipat tak terbatas (adl’aafun katsiiratun).

Tentu kebaikan tersebut haruslah dengan niat semata-mata karena Allah dan dalam rangka menggapai ridha Allah Subhanahu wa Taala. Sungguh betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Niat Buru dan Balasannya

Ketiga, jika seorang mukmin berniat melakukan keburukan atau kejahatan kemudian ia tidak menjalankannya karena takut kepada Allah. Maka hal tersebut termasuk sikap takwa kepada Allah dan hal itu merupakan kebaikan bagi dirinya.

Dalam hal ini berarti ia telah meninggalkan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah. Maka Allah mencatanya sebagai kebaikan yang sempurna.

Keempat, jika seorang mukmin berniat melakukan keburukan atau kejahatan, dan kemudian ia menjalankan niat tersebut maka Allah mencatatnya sebagai satu keburukan saja (sayyiah waahidah).

Harapan itu Bahagia semuanya

Dengan demikian betapa fasilitas dan ruang bagi setiap mukmin untuk meraih kebahagiaan sungguh sangat besar. Dengan menjalankan kebaikan demi kebaikan, dan selalu berniat untuk menjalankan kebaikan. Seorang mukmin tentu akan memiliki program idialitas. Maka cita-citanya adalah bagaimana hukum Allah menjadi tegak terwujud dalam kehidupan umatnya.

Sebagaimana dalam sebuah pepatah yang menyatakan: “Burung terbang dengan dua sayapnya, sedangkan seseorang terbang dengan cita-citanya.” Cita-cita seorang mukmin tiada lain adalah bagaimana ia dapat menjadi orang-orang yang memiliki kompetensi atau keunggulan diri secara maksimal, dan selanjutnya bagaimana ia dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi umat manusia.

Hidup adalah pengabdian kepada yang telah memberi amanah hidup. Maka hidup yang sekali ini janganlah disia-siakan untuk sesuatu yang justru merugikan diri dan orang lain.

Dan sebaliknya, hidup harus dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya bagi kebahagiaan banyak orang. Tentu tolak ukur manfaat dan tidaknya tiada lain adalah hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tanpa mengacu kepada hukum Allah pastilah menjadi mafsadah atau destruktif. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni.

Artikel Empat Macam Niat dan Balasannya ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 8 Tahun ke-XXV, 22 Oktober 2020/5 Rabiul Awal 1442 H.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

This post was published on Jumat 23 Oktober 2020 | 00:01 00:01

Related Post
Leave a Comment