Lailatul Qadar, Malam Penetapan Takdir

Lailatul Qadar, Malam Penetapan Takdir (Ilustrasi freepik.com)

Lailatul Qadar, Malam Penetapan Takdir ditulis oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Lailatul Qadar, Malam Penetapan Takdir ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ رواه البخاري

Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Carilah lailatul qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan.;”

Lailatul Qadar, Malam Teristimewa

Telah mafhum bahwa lailatul qadar adalah malam teristimewa, karena setara dengan 1000 bulan atau 83 tahun 4 bulan. Semua kebaikan akan dilipatgandakan dengan rentang waktu yang sangat panjang itu.

Dan itulah malam kemuliaan yang selalu ada dalam setiap tahun di bulan Ramadhan, lebih khusus di malam yang 10 akhir, lebih khusus lagi di malam yang ganjil; sebagaimana isyarat hadits di atas. sekalipun hal itu juga tidak dapat dipastikan, hanya Allah Yang Maha Tahu.

اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan (qadar). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar. (al-Qadar 1-5)

Malam Penetapan segala Urusan

Di antara penjelasan tentang lailatul qadar adalah pada malam itu menjadi malam penetapan dalam satu tahun ke depan segala urusan seorang hamba. Yaitu tentang usia yakni hidup dan matinya, tentang bahagia atau dalam kesedihan, selamat atau celaka, mulia atau terhina, dan semua urusan lainnya yang ditetapkan pada malam itu.
Termasuk di dalamnya adalah tentang nikahnya, rezekinya, dan lain sebagainya.

Hal ini disandarkan pada firman Allah surah ad-Dukhan ayat 4-5.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ اَمْرًا مِّنْ عِنْدِنَاۗ اِنَّا كُنَّا مُرْسِلِيْنَۖ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan dari sisi Kami. Sungguh, Kamilah yang mengutus rasul-rasu.”

Jadi lailatul qadar adalah malam di mana ditetapkan di dalamnya apa yang ada (taqdir) dari satu tahun ke tahun berikutnya. Sebagaimana penjelasan dari para mufasir dalam ayat tersebut.

Walaupun ada yang berbeda pendapat tentang tafsir ayat tersebut yaitu malam itu adalah malam nifsu sya’ban, hal ini disandarkan pada hadits Nabi yang bersumber dari Abu Hurairah RA.

تقطع الآجال من شعبان إلى شعبان ، حتى إن الرجل لينكح ويولد له وقد خرج اسمه في الموتى. رواه الديلمى

“Ajal (umur) diputuskan dari Sya’bah ke Sya’ban. Hingga seseorang (dikala) menikah dan mempunyai anak maka namanya sudah keluar (dalam catatan) orang yang mati.” (HR ad-Dailami)

Tetapi para ahli hadits menyatakan hadits ini dhaif bahkan ada yang mengatakan hadits ini munkar.

Amalan pada Lailatul Qadar

Amalan apa saja yang sebaiknya dilakukan pada lailatul qadar, di antaranya yang sudah masyhur dan secara khusus adalah qiyamullail, iktikaf, dan banyak berdoa.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. رواه البخاري

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya”. (HR Bukhari)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ بِمَ أَدْعُو قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari Abdullah bin Buraidah, dia berkata, Aisyah berkata: ‘Wahai Rasulullah! Apabila saya menjumpai malam lailatul qadar, dengan apa saya harus berdoa?’ Beliau bersabda: ‘Katakanlah Allahumma innaka affuwun tuhibbul afwa fa’fu anni (ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Engkau mencintai seorang pemaaf, maka ampunilah aku).” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan an-Nasa’i)

Waktu Lailatul Qadar

Lailatul qadar hanya pada bulan suci Tamadhan dan isyarat terkuat adalah di malam ganjil sepuluh hari terakhir. Malam ini tentu berpindah-pindah—hari dan tanggalnya di bulan Ramadhan—dari tahun ke tahun dan tidak ada yang dapat mengetahui sebelumnya dengan pasti. Oleh karena itu harus ada upaya bagi setiap hamba untuk memperolehnya.

Waktunya juga ada yang berpendapat mulai ghurubusysyams yakni wakti Maghrib sampai mathla’il fajr yakni terbitnya fajar. Dan sebagaimana penjelasan dalam surah al-Qadar, para malaikat pada malam itu turun disertai Malaikat JIbril untuk menebarkan salam atau keselamatan dan kedamaian bagi hamba-hamba Allah Subhanahu wa Taala.

Tanda Lailatul Qadar

Di antara tanda bahwa malam itu lailatul qadar adalah sebagaimana riwayat Imam Muslim dalam kitab shahihnya yaitu malamnya langit cerah dan paginya matahari terbit dengan berwarna putih dan sinarnya tidak menyorot.

عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُا وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُا مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

“Dari Zirr ia berkata, saya mendengar Ubay bin Ka’ab berkata, dan telah dikatakan kepadanya bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam lailatul qadar.’

Ubay berkata, ‘Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu terdapat dalam bulan Ramadlan. Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu.’

Lailatul qadar itu adalah malam, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.'” (HR Muslim)

Dalam riwayat yang lain juga dari Imam Muslim bahwa malam itu langit cerah tapi kemudian datang awan dan turun hujan.

Tanda Mendapatkan Lailatul Qadar

Tanda seorang hamba mendapatkan lailatul qadar adalah pada sisi kesadarannya. Yaitu sadar sebagai hamba Allah yang selalu berusaha mensifati diri dengan sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna dalam kapasitas kehambaan-Nya.

Allah bersifat Ar Rahman Ar Rahim maka iapun bersifat kasih sayang kepada sesama makhluk, Allah bersifat al-Ghafur dan al-Afwu maka ia pun mejadi pemaaf dan begitu seterusnya.

Semoga kita dapat memperoleh makna lailatul qadar di bulan suci 1442 Hijriyah ini untuk memperbaiki langkah kita di tahun pasca-Ramadhan ini. Amin! (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.