Makna Nabi Kencangkan Sarung di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Salim A Fillah: Makna Nabi Kencangkan Sarung di 10 Hari Terakhir Ramadhan (Tangkapan Layar Sayyidah Nuriyah/PWMU.CO)

PWMU.CO – Makna Nabi Kencangkan Sarung di 10 Hari Terakhir Ramadhan Salim A Fillah bahas pada Pengajian Ramadhan 1442, Senin (3/5/21).

Pengajian yang digelar secara virtual melalui Zoom Clouds Meeting ini bertema Teladan Nabi SAW di Bulan Ramadhan. Penyelenggaranya, Mugeb Islamic Center (MIC) Majelis Dikdasmen Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik.

Salim menceritakan bagaimana Nabi Muhammad SAW semangat ibadah luar biasa dalam menghadapi Ramadhan. “Memang semua hal atau aktivitas bisa kita niatkan untuk ibadah, pengabdian kepada Allah,” ujarnya.

“Mengencangkan Sarung”

Penulis buku-buku Islami itu menekankan, melaksanakan ibadah mahdhah istimewa, apalagi sudah memasuki sepertiga terakhir di bulan Ramadhan.

Seperti kata Aisyah RA, “Nabi kita keadaannya kalau sudah masuk sepertiga akhir Ramadhan, dia mengikat (mengencangkan) sarungnya.”

Mengencangkan sarung, lanjut Salim menjelaskan takwil para ulama, artinya mengurangi makan, tidur, dan tidak mendekat ke para istrinya. Fokus beribadah.

“Saking fokusnya ibadah, tidak ingin waktunya sia-sia membenahi hal remeh-temeh. Termasuk membetulkan sarung melorot, terlalu remeh-temeh mengganggu fokus ibadah, sehingga lebih baik diikat,” tuturnya.

Menghidupkan” Malam

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga menghidupkan malamnya. “Meleknya (terjaga) lebih banyak dari pada meremnya (tidur),” terang pengurus masjid Jogokariyan Yogyakarta ini.

Kata Salim, banyak hal untuk “menghidupkan malam”. Misal, shalat malam di rumah maupun di masjid.

Dia lantas menceritakan bagaimana Ibnu Abbas ra mengikuti shalat di rumah Rasulullah SAW yang bikin kapok. Begini kisahnya: “Saya pernah mengikuti shalat (qiyamul lail) Rasulullah SAW di rumah beliau. Di rakaat pertama, Rasulullah membaca surat al-Baqarah …”

“…Kupikir habis (baca) al-Baqarah rukuk, ternyata disambung ali-Imran. Aku pikir habis ali-Imran rukuk, ternyata disambung an-Nisa. Kupikir habis an-Nisa rukuk, ternyata disambung al-Maidah. Aku pikir habis al-Maidah rukuk, ternyata disambung al-An’am setelah itu.” ceritanya.

Setelah itu, lanjut Salim, Ibnu Abbas kapok ikuti shalat Rasulullah yang di rumah. “Lebih baik aku ikuti yang di masjid,” ungkapnya.

Karena, Rasulullah memperpendek bacaannya saat shalat di masjid, supaya tidak membebani para sahabat. Saat shalat di rumah, tambahnya, berdirinya panjang sekali.

Semangat Ibadah karena Bersyukur

Salim lalu mengutip hadits riwayat lain, “Rukuknya (Rasulullah) sama dengan berdirinya, iktidalnya sama dengan rukuknya, sujudnya sama dengan iktidalnya, duduk di antara dua sujud sama dengan sujudnya.”

“Malah pusing lagi nanti, terus gimana shalatnya?” ujar Salim bertanya-tanya.

Lalu ia menjawab dengan mengutip pernyataan Aisyah RA: “Jangan tanyakan padaku tentang panjang dan bagusnya, tidak tergambarkan itu.”

Di lain kesempatan, lanjutnya berkisah, Aisyah RA bertanya, “Buat apa ya Rasulullah kamu beribadah seberat itu sampai kakimu bengkak? Sampai engkau menangis tersedu-sedu… Padahal, engkau sudah diampuni yang sudah maupun yang akan terjadi.”

Dia lalu menceritakan, Nabi sambil berkaca-kaca menjawab, “Apakah tidak boleh Aisyah, seorang hamba-Nya bersyukur kepada Allah?”

Jadi, Salim menyimpulkan, Rasulullah menyemangati dirinya untuk beribadah dalam rangka bersyukur kepada Allah SWT.

Dunia Melalaikan?

Salim mengajak refleksi, “Mungkin kita sudah lalai karena hiruk-pikuk, kesibukan, dan rutinitas kita seabrek-abrek di bulan lain, sehingga kita tidak lagi menikmati shalat kita?”

Rasanya, kata dia, melakukan ibadah untuk sekadar menggugurkan kewajiban. “Tidak bisa menikmati dzikir-dzikir, sujud-sujud, rukuk kita, berdiri kita… Segala ketersambungan kita dengan Allah,” urainya.

Maka, Salim berharap, Ramadhan menjadi penyembuh supaya bisa memaknai kembali kedekatan dengan Allah SWT. Juga memaknai apa yang dilakukan, dihayati, dan dirasakan.

Perencanaan Serba Lima

Ia menyarankan agar membuat perencanaan ibadah di bulan Ramadhan, termasuk target bulanan maupun harian. “Perencanaan Ramadhan sepuluh hari terakhir kita ketatkan!” ajaknya.

Pengasuh pengajian Majelis Jejak Nabi itu mencontohkan,  “Pokoknya saya shalat lima waktu sehari semalam itu harus berjamaah, seminggu itu tarawih minimal lima kali, baca al-Quran setiap waktu shalat itu minimal lima halaman supaya dapat satu juz sehari.”

Begitu pula, tutur Salim, perencanaan untuk sedekah. Misal, “Minimal 5 ribu atau 50 ribu sehari. Dalam sebulan menyediakan buka puasa untuk orang lain lima kali.”

Perencanaan dengan angka lima ini, menurutnya, akan mempermudah untuk mengingat.

Istikamah Dermawan

Salim mengutip perkataan Aisyah RA, “Rasulullah adalah orang paling dermawan di antara manusia, dermawan beliau bertambah-tambah pada bulan Ramadhan, seakan-akan kedermawanan beliau seperti angin yang tertiup.”
Dia mengungkap, maksud ‘angin yang tertiup’ itu tidak pernah berhenti, terus-menerus dilakukan. Dan kedermawanan itu, lanjutnya, jangan malu memberi sedikit. “Karena ‘tidak memberi karena malu’ itu lebih sedikit dari pada ‘memberi sedikit’,” terangnya.

Apalagi yang wajib, tuturnya. “Zakat fitri tentu harus (ditunaikan), zakat mal siapa tahu sudah mencapai haul, terhitung masuk nisab, keluarkan!”

Salim mengingatkan, di Ramadhan inilah saat-saat yang bisa bertambah berkahnya. Di samping itu, kedermawanan yang sunnah-sunnah, tidak ada batasan. “Bagaimana kita ber-shadaqah berbagai keperluan yang bernilai fii sabilillah,” ucapnya. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah Editor Mohammad Nurfatoni

This post was published on Selasa 4 Mei 2021 | 08:43 08:43

Related Post
Leave a Comment