Mandi Keringat di Padang Mahsyar

Mandi Keringat di Padang Mahsyar. (Ilustrasi freepik.com)

Mandi Keringat di Padang Mahsyar oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Mandi Keringat di Padang Mahsyar ini berangkat dari hadits riwayat Ahmad sebagai berikut:

عَنْ عُقْبَةَ بْنَ عَامِرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَدْنُو الشَّمْسُ مِنْ الْأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ فَمِنْ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْعَجُزَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ وَسَطَ فِيهِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ فَأَلْجَمَهَا فَاهُ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ هَكَذَا وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً

Dari Uqbah bin Amir berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Matahari akan mendekat ke bumi, lalu manusia pun berguyuran keringat. Di antara mereka ada yang keringatnya menyentuh kedua tumitnya, ada juga yang sampai menyentuh setengah betisnya, dan ada juga yang sampai menyentuh kedua lututnya, ada juga yang sampai menyentuh lambungnya, dan ada yang sampai menyentuh kedua bahunya, ada yang sampai menyentuh leher, serta ada juga yang sampai menyentuh setengah bibirnya.”

Beliau pun memberi isyarat dengan tangannya dan menutup mulutnya. Dan saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi isyarat seperti ini. “Dan di antara mereka ada yang tenggelam dalam keringatnya.” Beliapun memberi isyarat dengan tangannya.

Matahari Sangat Dekat

Tadnu dari kata danaa yadnu yang diartikan qaruba atau mendekat. Asy-syams bermakna matahari. Pada Hari Mahsyar matahari didekatkan ke bumi. Di antara para ulama ada yang berpendapat, jaraknya tinggal hanya 1 mil atau kurang lebih 1,5 km. Jadi sangat dekat sekali.

Dan pasti semua manusia akan merasakan terik panasnya yang sangat luar biasa. Sekarang saja jarak matahari dan bumi sekitar 92.960.000 mil, sudah sedemikian panasnya. Bagaimana jika jaraknya berkisar 1 mil saja. Maka sungguh sangat panasnya yang sangat luar biasa.

Sebagaimana dalam hadits di atas, manusia pada saat itu semuanya berkeringat. Dalam hadits yang lain disebutkan berdasar kadar amalnya masing-masing. Ada yang hanya sampai mata kakinya saja dan ada yang bahkan sampai mereka berenang dengan keringatnya sendiri. Dan yang lebih parah lagi adalah mereka yang sampai tertutupi atau tenggelam dalam keringatnya sendiri. Sungguh luar biasa keadaan manusia pada saat itu.

Kejadian sebagaimana dalam hadits di atas adalah pada saat di Padang Makhsyar, yaitu masa di mana manusia semua setelah dibangkitkan dari kuburnya dan kemudian dikumpulkan dalam satu tempat yang kemudian disebut makhsyar atau tempatnya berkumpul. Masa itu adalah masa penantian sebelum manusia akan dihisab satu persatu atau sendiri-sendiri.

Tiada Makna Kemuliaan Dunia

Pada kodisi demikian tidak ada lagi kehormatan yang selama ini diagung-agungkan oleh manusia. Tidak adalagi kebanggan dan kesombongan manusia atas lainnya. Semua akan menghadapi pertanggung jawabannya di sisi Allah Subhanahu wa Taala. Kebanggaan atas duniawi, mobil mewah, rumah mewah, berbagai macam lahan dan bisnisnya yang selama ini seolah mengekalkan dirinya telah tidak berguna sama sekali. Jabatan yang disandangnya saat itu tidak lagi berguna.

وَيۡلٞ لِّكُلِّ هُمَزَةٖ لُّمَزَةٍ ٱلَّذِي جَمَعَ مَالٗا وَعَدَّدَهُۥ يَحۡسَبُ أَنَّ مَالَهُۥٓ أَخۡلَدَهُۥ كَلَّاۖ لَيُنۢبَذَنَّ فِي ٱلۡحُطَمَةِ

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. (al-Humazah 1–4)

Semua kemewahan dunia dengan segala yang ada pada saat ini justru akan lebih banyak menjadikan manusia mengalami kesulitan di akhiratnya. Boleh jadi saat ini manusia berbangga-banggaan dengan apa yang dikaruniakan kepadanya.

Dan bahkan merasa semua itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri dan kehebatan dirinya, sehingga ia dapat mencapai semua itu. Kemudian lupa bahwa semua itu karunia Allah dan sekaligus sebagai amanah yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi agama ini. Padahal tidak berapa lama lagi ia akan meninggalkan semua itu, dan tidak dibawanya sedikitpun.

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. (at-Takatsur 1-2)

Begitulah kehidupan dunia ini. Hanya sebentar. Tetapi menjadikan banyak manusia lupa akan bekal perjalanan berikutnya. Menjadikan manusia berbangga-banggaan dengan yang dititipkan kepadanya. Bahkan kehidupannya dipenuhi dengan kesibukan yang tiada habisnya terhadap urusan duniawi. Sehingga timbullah cinta dunia dengan segala kesenangan di dalamnya yang walaupun sebenarnya hanyalah kenikmatan yang menipu.

Dunia, Kesenangan yang Memperdayakan

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوۡنَ أُجُورَكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ فَمَن زُحۡزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدۡخِلَ ٱلۡجَنَّةَ فَقَدۡ فَازَۗ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran 185)

Allah Subhanahu wa Taala telah mengingatkan kepada kita semua, bahwa kenikmatan dunia hanyalah kenikmatan yang menipu, kenikmatan dunia hanyalah fatamorgana. Tetapi mengapa kita dapat diperdaya olehnya? Padahal janji Allah untuk mereka yang bertaqwa akan memberikan kebahagiaan yang sebenarnya pasti akan terjadi. Adakah keraguan dalam diri kita akan janji-Nya?

Kesungguhan dalam menjalani kehidupan ini jangan sampai menjadikan kita lupa akan tugas diri sebagai ‘Abdullah atau hamba Allah, yang kemudian di dalamnya ada fungsi kekhalifahan untuk kita menjadi wakil Allah di muka bumi ini.

Misi utamanya adalah mentauhidkan Allah dan menegakkan hukum-hukum-Nya dalam setiap aktifitas kita. Tidak ada satupun celah untuk kita menjadi orang-orang yang sombong dengan tidak mengindahkan aturannya. Dalam setiap saat dan kesempatan dan dalam kondisi yang bagaiamanapun. Tidak hanya di masjid saja, tetapi di semua lapangan kehidupan kita di dunia ini.

Maka dalam penyelenggaraan suatu komunitas, baik negeri maupun swasta, formal atau non formal, semuanya seharusnya dan wajib mengedepankan hukum-Nya sebagai landasan sikap atau etika dan aturan di dalamnya.

Maka tanggung jawab ini adalah tanggung jawab semuanya tanpa kecuali, tetapi terutama adalah yang memegang sebagai decision maker atau pengambil keputusan di dalamnya.

Sungguh akhirat jauh lebih baik dari dunia. Dan jangan sampai dunia ini menjadi penyebab sulitnya kita dalam hidup di akhirat kelak. Naudzubillah min ‘adzabinnaar. Amiin. Kita berlindung kepada Allah dari siksa api neraka. Wallahu a’lam bishshawab. (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel Mandi Keringat di Padang Mahsyar ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 37 Tahun XXV, 18 Juni 2021/8 Dzulqaidah 1442.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.