Makna Kurban: Temukan Jati Diri

Makna Kurban: Temukan Jati Diri (Ilustrasi freepik.com)

Makna Kurban: Temukan Jati Diri oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo.

PWMU.CO – Kajian Makna Kurban: Temukan Jati Diri ini berangkat dari hadits riwayat Bukhari sebagai berikut:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ فَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا يُسَمِّي وَيُكَبِّرُ فَذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ. رواه البخاري

Dari Anas bin Malik dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor domba yang warna putihnya lebih banyak daripada warna hitam, aku melihat beliau meletakkan kaki beliau di atas rusuk domba tersebut sambil menyebut nama Allah dan bertakbir, lalu beliau menyembelih domba itu dengan tangan beliau sendiri.” (HR Bukhari)

Makna Berkurban

Idul Adha bermakna hari raya kurban. Kurban merupakan bahasa serapan dari bahasa Arab qarraba yuqarribu yang bermakna mendekatkan. Sehingga ibadah kurban pada hari raya Idul Adha adalah bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Taala.

Dalam hal ini karena prosesi ini adalah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah maka tentu bagi seorang mukmin akan termotifasi untuk memberikan yang terbaik dari yang dimilikinya.

Pada Hari Raya Kurban dilaksanakan penyembelihan hewan kurban. Para ulama menyepakati hukumnya sunnah muakkadah. Dan bagi siapa saja yang mampu berkorban tetapi tidak mau melaksanakannya Rasulullah memberikan peringatan tegas agar jangan mendekati tempat shalat kami.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا. رواه أحمد)

Dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Bersabda: “Barangsiapa mendapatkan kelapangan dalam rezeki namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali mendekati masjid kami.” (HR Ahmad)

Tetapi makna kurban dalam pengertian yang lebih luas adalah setiap kesempatan senantiasa kita diperintahkan untuk selalu berkurban dengan memberikan yang terbaik, yang Allah telah karuniakan kepada kita.

Baik berupa harta, ilmu, atau keahlian, serta apa saja yang dapat selalu kita persembahkan untuk agama ini. Sehingga makna kurban bukan hanya berhenti pada saat datangnya Idul Adha, tetapi lebih dari itu adalah pengabdian yang terbaik sepanjang kehidupan yang sedang dijalaninya ini.

وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ ٧٧

“Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu.” (al-Qhashas 77)

Ayat di atas memberikan dorongan untuk kita selalu berbuat yang terbaik sebagaimana Allah telah memberikan yang terbaik bagi setiap hamba.

Jauh sebelum itu, berkurban ini telah menjadi ujian bagi anak Adam yaitu Qabil dan Habil. Dan yang diterima oleh adalah yang benar-benar berlandaskan keimanan kepada Allah dan keimanan tersebut melahirkan rasa takwa kepada Allah.

۞وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱبۡنَيۡ ءَادَمَ بِٱلۡحَقِّ إِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانٗا فَتُقُبِّلَ مِنۡ أَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ ٱلۡأٓخَرِ قَالَ لَأَقۡتُلَنَّكَۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡمُتَّقِينَ ٢٧

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban. Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”. (al-Maidah 27)

Penyembelihan Itu

Manusia adalah makhluk yang tercipta sangat sempurna, karenanya ia diberikan bekal atau kelengkapan yang tidak diberikan kepada mahkluk lainnya. Kelengkapan itu adalah akal untuk berfikir.

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِۖ لَهُمۡ قُلُوبٞ لَّا يَفۡقَهُونَ بِهَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٞ لَّا يُبۡصِرُونَ بِهَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٞ لَّا يَسۡمَعُونَ بِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَٱلۡأَنۡعَٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡغَٰفِلُونَ ١٧٩

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf; 179)

Ayat di atas menjelaskan ketika seorang manusia tidak mendayagunakan akalnya maka ia seperti binatang, dan binatang dalam hidupnya hanya dibekali nafsu dan insting. Maka ia tidak dapat membedakan mana baik mana buruk, mana benar mana salah, juga tidak tahu etika atau akhlak, sehingga binatang tidak ada pertanggung jawaban terhadap sikapnya.

Oleh karena itu dalam hari raya ini menjadi smbol terhadap penyembelihan sifat kebinatangan manusia. Manusia memiliki sifat kehewanan yang kalau dituruti akan lebih dahsyat dari cara hidup binatang, nafsunya selalu diperturutkan tanpa bisa dikendalikan.

Akibatnya hancurlah peradaban manusia yang seharusnya memiliki peradaban yang sangat tinggi, bukan dari sisi kemampuan teknologinya, akan tetap yang lebih penting adalah moralitasnya atau etikanya, tanpa memiliki etika manusia lebih jahat dari binatang dan lebih berbahaya bagi kehidupan sesamanya.

Potensi Akal

Anugerah akal bagi manusia wajib dimanfaatkan untuk berpikir, tetapi konsep berpikir manusia tidak boleh berpikir bebas tanpa panduan. Maka al-Quran adalah panduan berfikir itu. Sehingga logika kebenaran itu adalah al-Quran. Karena sesungguhnya tidak ada yang terlupakan di dalam al-Quran.

وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٖ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُمۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِي ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَيۡءٖۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ ٣٨

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (al-An’am; 38)

Berpikir bebas besar kemungkinan menjerumusukan dalam kesesatan, maka panduan al-Quran dan hadits Nabi adalah panduan baku yang tidak dapat ditawar.

Jika kemudian dari keduanya ditarik pemahaman dengan selera sendiri besar kemungkinan terjebak pada kebid’ahan. Maka dalam hal ini kita perlu hati-hati dan waspada, jangan sampai akal kita menjebak diri sendiri kearah yang diridlai oleh Allah.

Menemukan Jati Diri

Idul Adha mengajarkan kita untuk menemukan jati diri. Bahwa kita adalah makhluk terbaik yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Taala. Dan Allah sudah memberikan konsep terbaik pula serta keteladan Rasulullah dan para sahabat beliau yang termasuk almahdiyyin yakni yang terkawal petunjuk.

Yakni acuannya tetap pada nilai al-Quran dan al-Hadits, dan hal itu telah jelas ada pada al Khulafa ar Rasyidin yakni Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar Ibn al-Khaththab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalim radlhyallahu anhum. Maka sudah seyogyanya kita pegang teguh hal itu dengan sekuat-kuatnya.

عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ لَهَا الْأَعْيُنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ . رواه ابن ماجه، وأبو داود، وأحمد، والحاكم، والترمذي، وقال: حديث حسن صحيح، وصححه السيوطي.

Dari Al ‘Irbadl bin Sariyah berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam shalat fajar bersama kami, lalu beliau menghadap kepada kami dan memberi nasehat kepada kami dengan nasehat mendalam, yang menyebabkan mata bercucuran dan hati tergetar.

Kami bertanya atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan, maka wasiatkanlah kepada kami.” Beliau bersabda: “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walau kepada budak dari Habasyah.

Sungguh siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak. Berpeganglah dengan sunahku dan sunah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kalian dengan gigi geraham. Hindarilah kalian hAl hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah ada sesat.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, al hakim dan Tirmidzi). (*)

Editor Mohammad Nurfatoni

Artikel Makna Kurban: Temukan Jati Diri ini adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 40 Tahun XXV, 16 Juli 2021/6 Dzulhijjah 1442.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

Related Post
Leave a Comment

This website uses cookies.