Sunnah Memberi Nama Baik dan Larangan Bersikap Merasa Baik

Sunnah Memberi Nama Baik dan Larangan Bersikap Merasa Baik (Ilustrasi freepik.com)

Sunnah Memberi Nama Baik dan Larangan Bersikap Merasa Baik oleh Ustadz Muhammad Hidayatulloh, Pengasuh Kajian Tafsir al-Quran Yayasan Ma’had Islami (Yamais), Masjid al-Huda Berbek, Waru, Sidoarjo

PWMU.CO – Sunnah Memberi Nama Baik dan Larangan Bersikap Merasa Baik ini berangkat dari hadits riwayat Muslim.

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ قَالَ : سَمَّيْتُ ابْنَتِي بَرَّةَ , فَقَالَتْ لِي زَيْنَبُ بِنْتُ أَبِي سَلَمَةَ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِوَسَلَّمَ نَهَى عَنْ هَذَا الِاسْمِ , وَسُمِّيْتُ بَرَّةَ, فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّمِنْكُمْ ) فَقَالُوا : بِمَ نُسَمِّيهَا , قَالَ : ( سَمُّوهَا زَيْنَبَ ). رواه مسلم

Dari Muhammad bin ‘Amru bin ‘Atha dia berkata; “Aku menamai anak perempuanku ‘Barrah’. Maka Zainab binti Abu Salamah berkata kepadaku; ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang memberi nama anak dengan nama ini. Dahulu namaku pun Barrah, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Janganlah kamu menganggap dirimu telah suci, Allah Taala-lah yang lebih tahu siapa saja sesungguhnya orang yang baik atau suci di antara kamu.’ Para sahabat bertanya; ‘Lalu nama apakah yang harus kami berikan kepadanya? ‘ Beliau menjawab: ‘Namai dia Zainab’. (HR Muslim)

Definisi Barrah

Barrah merupakan bentuk isim alam (ghairu mashruf) dari albirr. Asal kata barrayabirru birran yang bermakna al-Ikhsanat-thaa’ah yakni kebaikan atau ketaatan. 

Ungkapan yang sering menggunakan kata ini adalah birrul waalidaini yakni berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tua. Al-Birr jamaknya alAbraar wa buruur, dan isim maf’ul-nya al-mabruur.

Allah menjelaskan tentang al-birr sebagaimana dalam firman-Nya:

۞لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِوَٱلنَّبِيِّيْنَ وَءَاتَى ٱلۡمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينَ وَٱبۡنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِي ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَوَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلۡمُوفُونَ بِعَهۡدِهِمۡ إِذَا عَٰهَدُواْۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِي ٱلۡبَأۡسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلۡبَأۡسِۗ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْۖ وَأُوْلَٰٓئِكَهُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ  

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (al-Baqarah 177)

Jadi kebaikan itu bersumber dari keimanan. Dengan keimanan itu melahirkan sikap memiliki kepedulian sosial dan memiliki pertahanan diri dari berbagai tantangan yang ada. Dan semua albirr itu muaranya adalah memiliki sikap takwa kepada Allah. Sebagaimana dalam ayat yang lain Allah berfirman:

۞يَسۡئَلُونَكَ عَنِ ٱلۡأَهِلَّةِۖ قُلۡ هِيَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلۡحَجِّۗ وَلَيۡسَ ٱلۡبِرُّ بِأَن تَأۡتُواْ ٱلۡبُيُوتَ مِن ظُهُورِهَا وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنِ ٱتَّقَىٰۗ وَأۡتُواْٱلۡبُيُوتَ مِنۡ أَبۡوَٰبِهَاۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ  

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ‘Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.’ (al-Baqarah189)

Pemberian Nama yang Baik

Dalam hadits di atas Rasulullah melarang untuk memberikan nama dengan hanya satu suku kata yang bermakna kebaikan. Dengan kata lain seolah memastikan bahwa dialah kebaikan itu. Sedangkan nama yang baik adalah nama yang mengandung harapan atau doa, untuk laki-laki menggunakan nama hamba Allah (Abdullah), Abdurrahim (Hamba Dzat Yang Penyayang) dan seterusnya. 

Ada harapan agar nama tersebut menjadi pribadi dengan benar-benar menghamba kepada Allah Dzat Yang Maha Sempurna. Demikian pula dengan nama yang dimulai dengan Muhammad atau Ahmad, dengan harapan akan menjadikan Rasulullah sebagai idola dan panutan utama dalam kehidupan. Walaupun demikian tidak harus dengan bahasa Arab, dengan bahasa apapun hendaknya nama mengandung harapan kebaikan.

Jangan Merasa Diri Mulia 

Hadits di atas sekaligus melarang kita untuk merasa menjadi orang yang bersih dan suci juga merasa mulia. Tidak ada alasan sedikitpun bagi kita untuk merasa mulia dari orang lain. Karena status kita semuanya adalah sama di sisi Allah yaitu sebagai hamba-Nya. Persoalan kita memiliki status sebagai tokoh masyarakat baik formal maupun nonformal, sebagai pimpinan, pejabat atau menjadi pengusaha sukses semua itu hanyalah peran saja di dunia. 

Dan bukanlah semua itu menjadi indikator bahwa seseorang itu mulia sehingga boleh merasa mulia. Tidak ada jaminan bahwa diri ini benar-benar mulia di sisi Allah Subhanahu wa Taala. Bahkan jika semua amanah tersebut kemudian hanya dijadikan sandaran kemuliaan dan kebahagiaan yang semu, maka ia telah tertipu dengan angan-angannya sendiri. 

Siapa yang dapat menjamin kemuliaan dirinya sehingga harus merasa diri adalah mulia yang kemudian harus dimuliakan. Karena implikasi dari sikap merasa mulai ini adalah menganggap rendah orang lain, entah atas nama penegakan sesuai regulasi atau system. Sehingga orang lain dilarang berijtihad atau mengambil keputusan sekalipun dalam kondisi tertentu dan mendesak. Semua argumentasi dianggap salah jika tidak sesuai dengan keingiannya. 

Harga dirinya harus lebih tinggi dari yang lain dan tidak boleh ada yang mengganggunya apalagi mengunggulinya. Dengan demikian semua peran dan perjuangan orang lain dianggap tidak ada sama sekali dan tidak perlu dianggap, karena yang perlu dianggap hanyalah dirinya saja. Panas setahun dihapus hujan sehari, sekian banyak kebaikan akan terhapus karena kesalahan sekali yang tidak tersengaja.

Allahlah yang tahu siapa di antara manusia itu yang mulia. Manusia tidak berhak sedikitpun merasa mulia dari yang lainnya, dari mana ia tahu bahwa dirinya mulia? Justru sangat berat memikul tanggung jawab atas kelebihan amanah Allah dari orang lain. Karena perasaan mulia itu kemudian dapat menjerumuskan dirinya pada sifat ‘ujub atau bangga diri. 

Ujian Berat

Dimuliakan orang lain itu adalah ujian berat, karena hal itu berarti kita selalu di puji dan di puji, apalagi jika harapan pujian itu secara tidak langsung justru selalu menjadi harapannya, jika tidak dimuliakan akan tersinggung berat, maka nilai pengabdian yakni keikhlasan kepada Allah menjadi hilang, yang ada hanyalah subyektifitas diri yang dipertuhankan.

Sikap demikian menabrak etika sudah tidak menjadi perhatian. Seolah demi dan atas nama kepentingan yang lebih besar halal saja baginya membuat stetmen yang menyakitkan hati kelompok lain atau orang laian. Padahal kesuksesan yang sejati itu adalah tatkala tercapainya kedamaian yang berlandaskan kebahagiaan dan kesejahteraan lahir dan batin, dunia sampai akhirat. Dalam hal ini secara bersama berarti telah tercapainya kepuasaan kreatif dan bukan hanya kepuasan konsumtif secara duniawi, juga kepuasan batiniyah sebagai modal ukhrawinya.

Seorang hamba hanyalah berharap ridha-Nya semata. Semua pengabdiannya merupakan wujud dari rasa terima kasih atas kasih sayang-Nya yang sangat luar biasa. Tidak ada yang dapat menjamin diri ini dapat selamat dari murka Allah kecuali hanyalah mengharapkan belas kasih-Nya atau rahmatNya. Dan tidak ada prestasi yang dapat kita banggakan sebagai hamba di sisi Allah jika kemudian dibandingkan dengan begitu besar dan luar biasanya kasih Allah kepada kita. 

Maka yang ada hanyalah ketundukan dan ketaatan yang memadukan perasaan khauf dan raja’ yaitu antara takut dan harap-harap cemas. Takut tidak lagi disayangi dan berharap selalu dengan pengabdian yang sangat tidak seberapa ini untuk tetap disayangi-Nya. (*)

Sunnah Memberi Nama Baik dan Larangan Bersikap Merasa Baik adalah versi online Buletin Jumat Hanif Edisi 3 Tahun XXVI, 12 November 2021/8 Rabiul Akhir 1443.

Hanif versi cetak sejak 17 April 2020 tidak terbit karena pandemi Covid-19 masih membahayakan mobilitas fisik.

This post was published on Jumat 12 November 2021 | 05:23 05:23

Related Post
Leave a Comment