Ternyata Mahfud MD Itu Mengidolakan Prof Malik Fadjar, Ini Alasannya

Izzudin/pwmu.co
Mahfud MD, paling kanan, bersama Malik Fadjar, dan Rektor UMM Fauzan.

PWMU.CO-Prof Dr Mahfud MD ternyata dari dulu ingin menjadi seperti Prof Malik Fadjar. Alasannya, selain pintar, Malik Fadjar dinilai mulia akhlaknya, tidak sombong, dan masih mau bergaul dengan siapa saja.

”Sejak saya kuliah dan nanti jadi pejabat ingin menjadi seperti Pak Malik Fadjar,” ujar Mahfud MD kepada ribuan mahasiswa baru saat menyampaikan orasi ilmiah pada Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Dome, Senin (3/9/2018).

Dia mengungkapkan alasan kenapa Malik Fadjar menjadi idolanya. Menurut Prof Malik Fadjar ini pintar cerdas. Meski pintar tetap bersahaja. ”Dulu waktu masih jadi menteri beliau ini tetap bersahaja. Meski jadi menteri, makannya tetap di warung di pinggir jalan, dan biasa saja. Beda dengan menteri sekarang yang serba minta dilayani, atau disurvei dulu tempat atau makanan yang akan dimakan oleh menteri tersebut,” jelasnya.

”Maka jadilah generasi muda yang bisa meniru Malik Fadjar karena selain pinter tapi juga berakhlakul karima,” sambungnya.

Kemudian dia bercerita dan yakin sekali dulu ia dan Prof Malik Fadjar memiliki orangtua yang hidup di masa yang sama, yaitu masa perjuangan. ”Saya dan juga Pak Malik, saya yakin sama memiliki ayah yang lahir dan hidup di zaman perjuangan,” curhat anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

”Sekolah saja sulit. SR (Sekolah Rakyat) saja hanya untuk kalangan tertentu. Jika ingin sekolah lebih lanjut hanya untuk kelompok dan anak pejabat atau orang kaya terpandang saja,” katanya sambil membawa suasana zaman perjuangan.

Mahfud menyampaikan, mahasiswa baru bisa menjadikan Prof Malik Fadjar sebagai contoh ketokohan dan teladan akhlak mulia. ”Masuk kampus ini jangan hanya menjadi sarjana saja, karena sarjana itu gampang,” seloroh mantan Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur ini.

Menurut dia, sekarang ini sudah gampang untuk mendapatkan istilah baru. Tinggal googling sudah ditemukan. Beda dengan ia dulu kuliah. ”Seperti kata persekusi saja dulu saya harus kuliah untuk mengetahui maknanya, tapi sekarang tinggal cari di google,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini.

Dia mengajak mahasiswa menjadi lebih dari sekadar sarjana tapi harus bisa menjadi cendekiawan. ”Tapi menjadi cendekiawan itu tidak mudah. Sarjana yang sujana, yaitu sarjana yang pinter dan akhlaknya mulia,” lanjutnya. ”Berpikiran cerdas tidak boleh sombong, tidak boleh merasa sok kuasa.”

Mahfud lalu menyebutkan kata bijak. Orang yang selalu berpikir tapi hati tidak berdzikir, maka banyak orang pinter tapi suka membodohi masyarakat.  Sebaliknya, banyak orang yang berdzikir tapi tidak berpikir, karena itu banyak orang yang bodoh dibodoh-bodohkan oleh orang pintar.  (Izzudin)

This post was published on Rabu 5 September 2018 | 08:31 08:31

Related Post
Leave a Comment