Antara Total Football dan Perang Total Pilpres

138
Hikmah Press
Anwar Hudijono (MN/PWMU.CO)

PWMU.CO – Rinus Michels dengan sistem total football saat menukangi tim nasional Belanda benar-benar menggemparkan jagat sepak bola dunia. Sangat impresif dan fenomenal. Maka, ketika pasukan Belanda memasuki Stadion Olympiastadion, Munich, Jerman Barat, 7 Juli 1974, puluhan ribu penonton bersorak gegap gempita seolah membuat stadion hendak runtuh.

Kapten kesebelasan Belanda Johan Cruyff, Johny Repp, Johan Neeskens, Rud Krol, Ari Haan, dan kawan-kawan seolah menjelma menjadi singa-singa jantan raksasa yang siap menerkam, mencakar, dan mencabik-cabik lawan.

iklan

Hari itu Cruyff dan kawan-kawan akan berlaga melawan tuan rumah Jerman Barat pada babak final Piala Dunia. Biasanya tuan rumah selalu diunggulkan. Tetapi pada final ini kalangan tokoh, pengamat, dan jurnalis bola lebih mengunggulkan Belanda.

Padahal Jerman Barat juga bukan tim sembarangan. Pasukan yang diasuh Helmut Schoen ini juga luar biasa hebat. Ada kapten jenius Franz Beckenbauer, “Bomber” Gred Muller, Paul Breitner, jagal lugas Berti Vogts.

Tetapi Belanda lebih diunggulkan berdasar rekam jejaknya di babak penyisihan maupun pertandingan persahabatan. Misalnya melumat Argentina 4-1.

Belum lagi semenit wasit Jack Taylor dari Inggris meniup peluit pertama, pemain Jerman Uli Hoeness menjatuhkan Cruyff di kotak penalti. Wasit menunjuk titik putih. Johan Neeskens sebagai algojo membobol gawang Jerman yang dijaga Sepp Maier.

Unggul 1-0 Belanda menjadikan bermain kesetanan. Apalagi ditingkahi tempik sorak suporternya yang seolah sudah menang. Belanda benar-benar merajalela seolah ingin secepatnya melumat Jerman. Seperti ingin pertandingan segera berakhir dengan pulang membawa piala dunia untuk pertama kalinya.

Jika penonton di stadion riang gembira, para pemerhati bola justru terbungkam kelu. Khawatir terulang misteri bahwa kesebelasan yang unggul lebih dulu justru pada akhirnya akan kalah. Misteri itu menimpa Brasil (1950), Hungaria (1954), Swedia (1958), Ceko (1962), Jerman Barat (1966). Istilah dalam masyarakat Jawa: lakon kalah disik (sang juara kalah lebih dulu).

Ketinggalan satu gol, Jerman tetap sabar, tenang laksana Danau Konstanz, danau terbesar di Jerman. Kematangan spiritual Franz Beckenbauer bisa menenangkan dan menjaga keyakinan teman-temannya. Sangat mungkin Beckenbauer sudah mempelajari pandangan filosuf Goethe bahwa ketergesa-gesaan itu persilangan antara velocitas denganb lucifer, Raja setan. Tergesa-gesa itu bahaya.

Kesabaran panjang Jerman Barat membuahkan hasil. Menit 25 Paul Brietner berhasil menjaringkan gol ke gawang Belanda yang dikawal Jongboled.

Overconfidence yang berlebihan Belanda berbalik arah. Begitu Jerman berhasil menyamakan gol, permainan Belanda mulai agak semrawut. Emosi pemain mulai meledak-ledak. Sebaliknya otimisme Jerman semakin kuat karena ternyata bisa membobol gawang Belanda yang terkenal kokoh. Menjelang akhir babak pertama, Muller menambah satu gol untuk Jerman.

Misteri terulang. Jerman menang 2-1. Misteri ini di kalangan insan sepak bola dikenal dengan istilah “bola bundar”. Artinya, di dalam sepak bola pun ada campur tangan Sang Adikodrati. Tidak semua seluk hidup itu bisa dikalkulasi secara matematis dan teoritis.

Perang Total
Sistem total football itu kalau di dalam politik mungkin dinamai perang total. Dalam sistem total football setiap pemain bisa bergerak menempati posisi apapun. Pendekatan pemain pada permainan bukan pada orang tetapi pada posisi. Semua harus serentak bergerak secara cepat berpadu seperti putaran cakram.

Terminologi perang total itu tidak lazim di dunia politik. Maka, ketika Moeldoko, Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, meniupkan terminologi perang total, jagat politik berguncang-guncang. Soalnya, di samping suatu yang tidak lazim (baru), yang meniupkan itu seorang mantan Panglima TNI berpangkat Jenderal.

Kalau saja yang menyampaikan Ketua Umum PSI Grace Natalie tidak akan mengagetkan karena khalayak pasti mafhum Grace tidak pernah perang. Tidak berlatarbelakang milter. Kalaulah pernah perang pasti medan tempurnya bukan di hutan tapi di tempat lain yang wow. Kalau yang melontarkan Ketua Umum PPP Romahurmuzy alias Rommy, paling oleh publik dianggap lucu-lucuan belaka karena tokoh ini “bakat” jadi artis stand up comedy.

Sekali lagi karena yang meletupkan Moeldoko maka publik jadi bertanya, perang total seperti apa? Bahkan orang awam seperti saya membayangkan perang total itu seperti Sportspalast atau perang total yang disampaikan oleh Joseph Goebbels pada tanggal 18 Februari 1943, ketika Jerman Nazi mulai mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Sama mengerikannya dengan yang disampaikan sesepuh PAN Amien Rais bahwa pilpres bisa seperti Baratayuda dan Armageddon.

Tafsir mengerikan pada perang total hilang sudah tatkala melihat debat pilpres kedua antara Jokowi melawan Prabowo Subianto, 17 Februari lalu. Semua berlangsung datar-datar saja. Tanpa senjata apa-apa. Jokowi juga cuma pegang pulpen yang itupun cuma dipencet-pencet. Bukan dilemparkan ke lawan. Tanpa jotos-jotosan, apalagi pertumpahan darah.

Mario Zagalo
Seperti biasa, kesebelasan akan dievaluasi setelah pertandingan, baik kalah maupun menang. Apalagi jika masih mau bertanding lagi. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan baik dirinya maupun lawan. Agar dalam pertandingan berikut bisa tampil lebih jos.

Berdasar evaluasi netral, stretegi total foatball Rinus Michels sebenarnya sudah tepat. Kalau tidak bisa menghasilkan juara karena ada kekurangan. Sang Maestro Johan Cruyff kurang mendapat assist bola yang matang. Banyak bola yang dioperkan ke Cruyff tanggung sehingga mudah diserobot lawan bahkan bisa memudahkan lawan menyikat kakinya. Akibatnya Cruyff seperti bermain sendiri dan tersandera.

Sebagian pemain mulai memunculkan ego masing-masing. Mau menunjukkan kehebatan individual untuk menaikkan pasaran transfer. Sebab, transfer tidak diukur keberhasilan tim tetapi penampilan individual. Mereka tidak sadar bahwa ketika ego invidual memuai maka soliditas tim menurun.

Terjadi kecemburuan di dalam tim. Di kesebelasan Belanda ada problem klasik yaitu perseteruan antara klub Ajax Amsterdam dengan Feyenoord Roterdam. Kedua klub ini penyumbang terbanyak pemain timnas. Diduga pemain Feyenoord khawatir jika Cruyff terlalu mentereng akan mengangkat supremasi Ajax dan sebaliknya memburamkan pamor Feyenoord.

Pada debat Pilpres, jika dianalogkan dengan Johan Cruyff, Jokowi telah tampil sangat bagus. Menunjukkan ketinggian kuateknisnya. Layak menyandang gelar Sang Maestro.

Di antaranya dia mampu menunjukkan kepada publik jika dirinya adalah pemberani. Dia tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Selama ini ada publik yang menganggap dia petugas partai yang takut kepada Megawati.

Anggap saja debat capres kedua itu hanya episode dari perang total yang waktunya masih lebih 50 hari. Artinya perang masih berlangsung. Untuk episode ini keduanya akan bertarung lagi di episode berikut yaitu debat terakhir.

Agar episode terakhir bisa bisa lebih jos perlu ada pembenahan di sana sini. Pada pertandingan kemarin, ibaratnya Jokowi harus memperoleh assist bola yang kurang ciamik. Terlihat pasokan data seperti kebakaran hutan dan ladang gambut, panjang jalan, jumlah impor jagung, tanah Prabowo .

Untuk itu, jika diperlukan Manajer Tim Eric Thohir harus berani melakukan perubahan komposisi tim. Ada pemain yang dibangkucadangkan, ada pemain cadangan yang dijadikan starter. Bahkan merekrut pemain baru.

Lihat bagaimana Pelatih Argentina di Piala Dunia Rusia 2018 Jorge Sampaoli yang berani membangkucadangkan Sergio Aguero karena tidak tawaduk ke pelatih, betapapun Aguero seorang pemain kunci. Demikian pula Pelatih Manchester United Jose Mourinho memarkir Paul Pogba karena persoalan etika.

Pemain seperti Ali Ngabalin, Budiman Sujatmiko, Abdul Kadir Karding, atau Rommy boleh dipertimbangkan untuk masuk bangku cadangan. Ada baiknya merekrut Puan Maharani untuk menjadi second striker.

Puan mewarisi bakat Megawati. Memiliki karisma yang kuat di massa PDIP. Selama ini dia kurang diberi kesempatan. Megawati pada waktu jadi anggota DPR/MPR di bawah pimpinan Soerjadi juga kurang diperhitungkan. Tetapi begitu mendaat kesempatan memimpin PDIP menampilkan prestasi yang cemerlang. Sekaligus menyiapkan Puan untuk Pilpres 2024 dan cadangan utama jika Ma’ruf Amin mengalami halangan tetap.

Sangat patut dipertimbangkan untuk masuk lebih intens di tim adalah Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB. Muhaimin sudah menunjukkan sebagai real politisi, pinjam istilah Buya Syafii Ma’arif. Kalau tidak hebat mustahil bisa mendepak Gus Dur dari PKB. Dia juga layak menjadi cadangan Ma’ruf Amin.

Perlu juga mengotimalkan peran tokoh-tokoh sepuh seperti Agum Gumelar, Hendro Priyono, Wiranto, Sutiyoso yang memiliki kapasitas dan pengalaman matang. Mereka ahli strategi. Demikian pula politisi matang seperti Pramono Anung. Tjahyo Kumolo juga sangat direkomendasikan.

Kalau Mahfud MD kurang direkemandasikan karena bukan tipe playmaker. Mahfud tipe pemain yang menunggu bola muntah. Daripada Mahfud masih mending Ahok karena memiliki basis pendukung yang solid dan riil. Demikian pula Oesman Sapta Odang (OSO), meski hebat tapi ibarat pemain Fernando Tores yang masih berkutat dengan cidera engkel. OSO masih sibuk ngurusi konflik internal partainya.

Perlu dievaluasi apakah situasi Tim Kampanye Nasional (TKN) diwarnai kecemburuan seperti pemain Ajax dan Feyenoord, atau terjadi konflik faksional. Sebab koalisi itu belum tentu luruh dalam satu tim yang utuh.

Koalisi politik itu seperti kelompok judi kartu remi. Mereka kumpul di satu tempat, ketawa-ketiwi, asyik bermain tapi sebenarnya mereka saling ingin mengalahkan, berusaha mengeruk keuntungan total dari orang-orang sebelahnya.

Di koalisi Jokowi juga ada partai-partai yang sebenarnya saling bersaing. PDIP dengan Golkar adalah musuh bebuyutan. PKB dengan PPP kelihatan akur tapi sebenarnya saling berebut konstituen yang sama, khususnya warga NU. Nasdem dengan PDIP juga diam-diam bersaing sehingga mencuat kasus impor beras. Dengan adanya konflik internal koalisi berarti ada masalah integrasi yang harus diselesaikan.

Yang paling harus dicermati Eric adalah Golkar. Golkar itu punya watak partai berkuasa, cenderung oportunis. Maunya siapa pun yang menang Golkar akan ikut. Untuk itu, bukan mustahil saat ini Golkar menaruh telornya di dua sarang. Di sarang Jokowi dan sekaligus juga di sarang Prabowo. Tinggal tunggu saja siapa yang menang di situ Golkar berlabuh.

Eric tidak boleh menafikan kemungkinan pemain-pemain itu sekarang membangun ego masing-masing baik untuk menaikkah harga dirinya maupun partainya. Atau bermain individual untuk meraup saldo sebanyak-banyaknya. Lihat saja bagaimana PSI yang menggunakan jurus dewa mabuk sepak kanan sepak kiri, bahkan nyepak paha temannya untuk menaikkan elektabilitas. Lihat bagaimana Nasdem melemparkan soal impor beras langsung ke Jokowi.

Opsi paling mutakhir untuk diambil oleh pihak otoritas TKN adalah penggantian Manajer Tim Eric Thohir. Seperti di sepak bola, penggantian pelatih atau manajeer tim di tengah kompetisi atau turnamen itu biasa belaka.

Di Piala Dunia Rusia Spanyol memecat pelatih Julen Lopetegui karena dinilai melanggar etika. MU memecat Mourinho karena kinerja tim yang buruk. Otoritas bola Arab Saudi memecat pelatih Edgardo Bauza karena penampilan tim yang buruk.

Dua bulan sebelum digelar Piala Dunia Mexico tahun 1970, otoritas sepak bola Brasil mengganti pelatih Joan Saldanha karena kondisi tim Brasil sangat mengkhawatirkan. Penggantinya Mario Zagalo. Keputusan itu tepat. Di tangan Zagalo, Brasil berenah total dan keluar sebagai juara dengan mematahkan Italia 4-1. Gusti Allah nyuwun ngapura.

Kolom oleh Anwar Hudijono, wartawan senior; tinggal di Sidoarjo.