Masak Suara Tuhan Cuma Dihargai Rp 100 Ribu?

1281
Pasang Iklan Murah
Chusnul Mariyah. (Dennis Nugroho/PWMU.CO)

PWMU.CO – Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tapi kenapa sekarang orang Islam selalu dipinggirkan dalam kehidupan berpolitik?

“Karena orang Islam yang punya identitas Islam yang baik tidak berada di pusat kekuasaan,” kata Chusnul Mariyah.

Anggota Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menyampaikan pernyataan itu dalam Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Brondong di halaman Perguruan Muhammadiyah Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Kamis (21/2/19).

iklan

“Hari ini kita dipimpin oleh orang yang tidak paham dengan Islam. Bahkan melafalkan salam saja kadang tidak teteh, belajar kalimat laa haula walaa quwwata illa billah saja kadang tidak benar, bagaimana mungkin mereka memimpin negara yang penduduknya adalah Muslim terbesar di dunia,” tegasnya.

Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia itu memaparkan bahwa perpolitikan Indonesia saat ini dikuasai oleh orang kaya, non-muslim, dan non-pribumi. “Kita ini banyak, tapi kita miskin. Dan miskin selalu mendekati pada kekufuran. Maka seringkali dikasih Rp 100 ribu, Rp 200 ribu, Rp 300 ribu saja sudah tergadai,” ujarnya. Padahal, imbuhnya, prinsip politik adalah vox populi, vox dei; suara rakyat adalah suara Tuhan.

“Masak suara Tuhan cuma dibayar Rp 100 ribu,” tandas Chusnul Mariyah disambut tepuk tangan hadirin. Chusnul menyatakan, konstruksi bangsa Indonesia ini dibangun oleh umat Islam dan pekikan kalimat takbir berkumandang ketika merebut kemerdekaan.

“Maka tidak ada ceritanya agama dan politik itu dipisah. Identitas agama sah dalam politik. Banyak teks Alquran yang sangat pro dengan Islam. Itulah kemudian Profesor Amien Rais menulis buku Revolusi Moral yang jelas berdasar pada Quran dan Hadits,” tuturnya.

Mantan Komisioner KPU itu juga menegaskan keinginan untuk memisahkan antara agama dan negara merupakan cara pandang pemikiran politik Barat yang tidak sesuai untuk diterapkan di Indonesia.

“Dalam Islam, berpolitik adalah bagian dari ibadah. Di Amerika pun, voting behavior tetap didasarkan pada agama. Coba bayangkan kalau politisinya dilarang ke rumah ibadah, padahal tempat ibadah itu menjadi sumber moral. Bayangkan kalau politisi dijauhkan dari perguruan tinggi, padahal perguruan tinggi adalah tempat kontestasi akal sehat,” katanya.

Maka dalam memilih pemimpin, Chusnul berpesan agar mengutamakan prinsip Islam. “Pilih pemimpin sesuai kriteria agama kita. Pemimpin yang shiddiq, amanah, tabligh dan fathanah. Gak bohong-bohong,” pesannya.

“Ada tidak pemimpin kita yang bohong?” Chusnul melempar pertanyaan kepada peserta kajian yang sontak dijawab dengan gemuruh: “Ada….”

“Kalau begitu jangan pilih lagi,” tegasnya. (Nely Izzatul)