Pada Field Research Ini, Ada yang Baru Kali Pertama Injakkan Kaki di Sawah

61
Pasang Iklan Murah
Taufiq menyampaikan tentang reproduksi tanaman kopi. (Anis Shofatun/PWMU.CO)

PWMU.CO – SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik, atau yang dikenal dengan Spemdalas, melaksanakan kegiatan Field Research di Wisata Edukasi Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan, Kamis (11/4/19).

Saat siswa memasuki daerah pedesaan Sekarmojo menuju tempat wisata edukasi yang berjarak sekitar dua kilometer, mereka dapat mengamati pemandangan alam nan asri, hijau, dan menyejukan mata yaitu area persawahan yang lapang dan luas.

Sepanjang jalan pun siswa dapat mencermati tatanan yang rapi dan menjulang tinggi kurang lebih 3-4 meter populasi tanaman Sengon Laut atau yang memiliki nama latin Albizia chinensis. Setelah melewati jalan yang berliku-liku dan semakin menanjak di lereng gunung Arjuno itu, akhirnya tibalah mereka sampai di lokasi Field Research yaitu Wisata Edukasi Kebun Pak Budi.

iklan

Sebanyak 203 siswa dan 10 guru pendamping menuju ke Amphiteater untuk mengeksplorasi pengetahuan dan wawasan tentang kopi luwak. Kopi khas Indonesia yang dikeluarkan dari feses (kotoran) hasil proses enzimatis sistem pencernaan hewan nokturnal luwak atau yang memiliki nama Latin Paradoxurus hermaphroditus.

Selanjutnya, siswa dalam kelompok yang lebih kecil melakukan observasi lingkungan dan praktik secara langsung tentang pertanian seperti perkembangbiakan vegetatif tanaman kopi, sistem hidroponik sawi pakcoy, tanaman pepaya Thailand dan praktik langsung menanam padi di sawah.

Taufiq, konsultan ahli tanaman dan hama di Kebun Pak Budi menyampaikan tanaman kopi di perbanyak dengan cara vegetatif dan tidak secara generatif (kawin). ” tanaman kopi disini diperbanyak dengan cara stek batang, kenapa tidak menggunakan cara kawin atau generatif saja?” tanyanya kepada peserta.

Siswa melakukan pengamatan hasil tanaman hidroponik. (Ilmi/PWMU.CO)

Taufiq menjelaskan bila perbanyakan tanaman kopi dilakukan dengan cara generatif akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Tanaman kopi baru mulai menghasilkan biji pada usia 2,5-3 tahun.

Mirza Anindita, siswa kelas VIII E, menyampaikan ketertarikannya mengikuti kegiatan ini khususnya tentang konsep sederhana budidaya tanaman dengan sistem hidroponik. “Ternyata asyik ya belajar menanam seperti ini, khususnya saat menyemai dan menanam bibit sawi di rockwool,” ujarnya

Menurut Mirza, hidroponik ini menjadi potensi budidaya tanaman di kotanya, Gresik yang sudah penuh dengan pabrik dan bisnis perumahan mengakibatkan lahan tanam menanam langsung di tanah makin menipis. “Saya kira kita bisa menanam di depan rumah atau di lantai paling atas rumah,” katanya memberikan ide.

Tidak hanya wawasan tentang perkebunan dan pertanian. Pada kegiatan tersebut, para siswa juga memperoleh wawasan tentang perikanan dan peternakan. Pengetahuan tentang budidaya ikan gurami, patin, dan nila diperoleh siswa selama kegiatan ini. Selain itu, siswa diberikan wawasan tentang perkembangbiakan ayam petelur sebagai sumber protein hewani. Jenis ayam, frekuensi produksi serta pemeliharaan kesehatan dan distribusi ayam petelur menjadi bahan diskusi yang gayeng antara siswa dan kakak pembina.

Aktivitas yang lebih menarik lagi bagi siswa adalah belajar tentang reproduksi peternakan kambing etawa, sapi limosin, dan kuda poni Jawa. Lokasi kebun yang ada di lereng gunung Arjuna ini sangat mendukung kehidupan hewan ternak tersebut. Rumput Kolonjono adalah makanan kesukaan dari sapi Limosin karena rumput ini mudah didapat di sekitar kebun.

Praktek menanam padi di sawah. (Ilmi/PWMU.CO)

Pada area peternakan, Anjas Yuniarto menjelaskan cara reproduksi sapi Limosin yang ada di lokasi tersebut dengan sistem reprodukai seksual alami dan dengan cara kawin suntik. “Kawin suntik atau itu, di mana sudah tersedia bank sperma yang disimpan dalam tabung-tabung. Bila saatnya mau kawin, sapi betina tinggal disuntikan yang disebut dengan inseminasi buatan,” jawabnya saat menanggapi pertanyaan siswa.

Sementara itu, lanjut Anjas, jenis peranakan kambing Etawa yang dimilikinya bukan sebagai penghasil susu tapi penghasil daging.

Semangat siswa ini pun tidak surut saat hujan mengguyur lokasi perkebunan. Merekapun tetap melanjutkan aktivitas dengan fun game yang juga tidak kalah serunya. Game ini difokuskan pada latihan konsentrasi dan kecepatan dalam merespon instruksi.

Nurus Shobakhil Faricha, siswa kelas VIIID ini mengaku senang pertama kali menginjakkan kaki di sawah. Begitu pula, kesan yang disampaikan oleh Naila Zahra Aulia kelas VIIIF. Dia menyampaikan memperoleh manfaat dari beberapa kegiatan game charakter building yang diterimanya. “Seru, game-nya karena dapat mengecoh konsentrasi kita,” terangnya.

Dengan mengangkat tema “Gardening Exploration for Young Scientist” diharapkan siswa Spemdalas dapat memiliki literasi sains yang lebih luas dan semakin memiliki kesadaran akan pentingnya memahami, menjaga dan melestarikan alam sekitar.

Setelah kegiatan di lapangan, siswa diberikan penugasan untuk mengolah data yang diperoleh, mendiskusikan bersama kelompok yang sudah ditentukan dan selanjutnya menyajikan pelaporan dalam bentuk makalah dan poster ilmiah. (Anis Shofatun)

Peserta Field Research berfoto di depan lokasi kebun. (Ilmi/PWMU.CO)