
Oleh Alfain Jalaluddin Ramadlan (Wakil Sekretaris LSBO PDM Lamongan, Ketua PC IMM Lamongan Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman, Ketua Bidang Pustaka dan Literasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Timur, Pengajar Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, KM3 Pimpinan Pusat Muhammadiyah)
PWMU.CO – Pendidikan tauhid merupakan inti dari ajaran Islam dan fondasi utama dalam pembentukan karakter seorang Muslim. Tauhid, yaitu keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, menjadi dasar segala amal perbuatan.
Dalam konteks pendidikan anak, pengenalan tauhid sejak dini adalah keniscayaan agar generasi Muslim tumbuh dengan pemahaman yang lurus tentang Tuhannya dan menjalani hidup berlandaskan keimanan yang kokoh.
Pendidikan anak dalam Islam dimulai dari pengenalan siapa Tuhan mereka, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman dalam Surah Luqman ayat 13:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'” (QS Luqman: 13)
Dalam ayat di atas dijelaskan:
Pertama, wa idz qāla Luqmānu libnihi wa huwa yaʿiẓuhu. Kalimat ini menunjukkan momen mendidik yang sangat personal dan penuh kasih sayang. Luqman tidak hanya memerintah, tapi menasihati (yaʿiẓuhu), artinya mendidik dengan kelembutan, hikmah, dan penuh perhatian. Ini adalah teladan komunikasi yang ideal antara orang tua dan anak.
Kedua, yā bunayya.
Ungkapan ini berarti “wahai anakku yang tersayang”. Bentuk sapaan ini sarat makna emosional dan kelembutan. Pendidikan tauhid seharusnya juga disampaikan dengan penuh cinta, bukan dengan kemarahan atau ancaman.
Ketiga, lā tusyrik billāh.
Inilah pesan pertama dan utama Luqman: jangan menyekutukan Allah. Ini adalah bentuk pendidikan akidah murni, karena syirik adalah dosa paling besar yang tidak akan diampuni jika tidak bertobat, sebagaimana dijelaskan dalam QS An-Nisa ayat 48:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang sangat besar.”






0 Tanggapan
Empty Comments