Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hati Nurani Mati: Tanda Iman Melemah dan Jiwa Kian Gelap

Iklan Landscape Smamda
Hati Nurani Mati: Tanda Iman Melemah dan Jiwa Kian Gelap
Foto: istockphoto
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Ketika hati nurani mati dan seseorang jauh dari agama maka jiwanya menjadi gelap, sehingga tidak segan melakukan kejahatan paling keji yang bahkan melanggar fitrah kemanusiaan. Hati yang tidak lagi peka terhadap dosa akan kehilangan arah, seperti kapal tanpa kompas di tengah lautan—terombang-ambing oleh hawa nafsu, tanpa tujuan yang jelas.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat bagaimana gelapnya hati itu bekerja. Ada seseorang yang awalnya jujur, namun karena terbiasa mengambil hal kecil yang bukan haknya, lama-kelamaan ia tidak lagi merasa bersalah.

Dari yang awalnya “hanya” mengambil sedikit, berubah menjadi kebiasaan menipu. Dari yang awalnya sekadar berbohong untuk menutupi kesalahan kecil, berubah menjadi kebohongan besar yang merugikan banyak orang. Di titik itulah hati nurani mulai mati—tidak lagi bergetar ketika melakukan dosa.

Islam hadir sebagai cahaya yang membedakan halal dan haram, menjaga manusia dari perilaku keji seperti zina, pemukulan, pembunuhan, atau penipuan, sebab orang beriman akan senantiasa sadar bahwa setiap dosa membawa konsekuensi berat di dunia dan akhirat. Cahaya iman itu seperti lampu di dalam hati—jika dijaga, ia akan menerangi jalan hidup. Namun jika dibiarkan padam, maka kegelapan akan mengambil alih.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: “Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada.” (QS. Al-Ḥajj : 46)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kebutaan yang paling berbahaya bukanlah kebutaan fisik, melainkan kebutaan hati. Seseorang bisa saja melihat dengan mata, tetapi tidak mampu membedakan kebenaran dan kebatilan karena hatinya telah tertutup.

Ilustrasi lain dapat kita temukan dalam kehidupan keluarga. Ada orang tua yang dahulu lembut dan penyayang, namun karena sibuk mengejar dunia hingga melupakan nilai-nilai agama, perlahan menjadi keras dan mudah marah.

Anak-anaknya tidak lagi merasa nyaman, bahkan takut untuk mendekat. Padahal, perubahan itu berawal dari hati yang mulai jauh dari zikir, jauh dari nilai-nilai keimanan. Ketika hati tidak lagi disirami dengan iman, maka yang tumbuh adalah kekeringan jiwa.

Oleh sebab itu, dosa dan kejahatan bukanlah hal yang patut dicoba, karena bukan hanya merusak nama baik di dunia, tetapi juga mengundang murka Allah Wa Ta’ala yang lebih dahsyat daripada rasa nikmat sesaat dari maksiat tersebut. Kenikmatan dosa hanyalah fatamorgana—tampak indah di awal, tetapi berujung pada kehampaan dan penyesalan.

Di sisi lain, kehidupan ini memang tempat ujian. Kita ditempa dengan berbagai macam cobaan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Ada yang diuji dengan kesulitan ekonomi, ada yang diuji dengan kehilangan orang tercinta, ada pula yang diuji dengan jabatan dan kekuasaan.

Seorang pedagang, misalnya, diuji ketika memiliki kesempatan untuk menipu timbangan. Tidak ada yang melihat, tidak ada yang mengetahui. Namun di situlah iman berbicara: apakah ia memilih keuntungan sesaat atau keberkahan jangka panjang?

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Begitu pula seorang pejabat, diuji dengan kesempatan menyalahgunakan wewenang. Ketika ia menahan diri karena takut kepada Allah, di situlah tanda hidupnya hati.

Jangan maknai ujian sebagai kebencian-Nya. Allah hanya ingin menguji iman di dalam dada. Ujian adalah cara Allah “menghidupkan” kembali hati yang mulai lalai, agar kembali ingat kepada-Nya.

Karena keistiqamahan baru terlihat setelah badai ujian reda. Apakah pada akhirnya ujian dari-Nya semakin mengokohkan keimanan atau justru memudarkannya.

Allah Azza Wa Jalla berfirman: “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ikhwalmu.” (QS. Muhammad : 31)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai kualitas agamanya.” (HR. Tirmidzi)

Dari sini kita belajar bahwa beratnya ujian bukan tanda kelemahan, melainkan bisa jadi tanda kuatnya iman yang sedang Allah uji dan tingkatkan.

Bayangkan seseorang yang tetap jujur meski rugi, tetap sabar meski disakiti, tetap taat meski godaan begitu besar—itulah tanda hati yang hidup. Hati yang hidup tidak akan mudah tergelincir dalam kegelapan, karena selalu ada cahaya iman yang menuntunnya kembali.

Mari kita selalu mendekatkan diri kepada Allah, menjaga hati tetap hidup dengan iman, memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, serta menjauhi sekecil apa pun dosa yang mengundang kegelapan jiwa. Sebab, hati yang hidup adalah sumber dari segala kebaikan, dan hati yang mati adalah awal dari segala kerusakan.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa meneguhkan hati kita di atas kebenaran, menghidupkan nurani kita dengan cahaya iman, dan melindungi kita dari gelapnya dosa dan kejahatan. Āamīin. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 14/04/2026 13:24
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡