Perang antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki pekan keempat dengan intensitas yang masih tinggi. Namun, harapan akan berakhirnya konflik secara cepat mulai memudar. Sejumlah analis dan mantan pejabat menilai situasi ini menunjukkan pola yang mengingatkan pada perang-perang panjang yang pernah dijalani Washington di Timur Tengah.
Mengutip laporan The Wall Street Journal edisi Rabu (25/3/2026), mantan kolonel Angkatan Darat AS, Peter Mansoor, menilai ada kemiripan kuat antara konflik saat ini dengan invasi Irak tahun 2003. Dilansir dari Kompas.com, ia menyebut perencanaan militer cenderung berfokus pada keberhasilan awal, tanpa memikirkan secara matang fase pascaperang.
Menurut Mansoor, dalam perang Irak, keberhasilan operasi tempur tidak diikuti kesiapan menghadapi situasi setelah rezim runtuh. Ia menilai kondisi serupa kini terjadi, bahkan dengan ketidakjelasan tujuan yang lebih besar, termasuk soal apakah Washington benar-benar menginginkan perubahan rezim di Iran.
Pada awal konflik, pemerintahan Presiden Donald Trump memperkirakan operasi militer hanya berlangsung sekitar empat hingga enam pekan. Namun, proyeksi tersebut kini semakin diragukan. Meski serangan udara berhasil melemahkan sejumlah kemampuan militer Iran, potensi konflik berkepanjangan tetap terbuka lebar.
Diplomat senior AS, Alan Eyre, mengingatkan bahwa dampak jangka panjang perang ini bisa sulit diprediksi dan berpotensi negatif, seperti yang terjadi pada konflik Irak.
Risiko eskalasi juga terus meningkat. Salah satu skenario yang paling dikhawatirkan adalah kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Jika hal ini terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan secara militer, tetapi juga akan mengguncang ekonomi global.
Pakar militer dari University of Chicago, Robert Pape, menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “eskalasi horizontal” yang digunakan Iran untuk menyeimbangkan kekuatan terhadap AS.
Situasi ini menempatkan Washington dalam dilema. Melanjutkan perang berarti berisiko terjebak lebih dalam, termasuk kemungkinan pengerahan pasukan darat. Sebaliknya, jika mundur, AS menghadapi ancaman penurunan reputasi global serta kemenangan simbolis bagi Iran.
Analis geopolitik Robert Kaplan menilai, jika rezim Iran tetap bertahan dan terus melancarkan serangan, kawasan Teluk berpotensi mengalami ketidakstabilan yang lebih luas.
Di dalam pemerintahan sendiri, perdebatan terkait arah kebijakan mulai muncul. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menolak perbandingan dengan perang Irak, dengan menegaskan bahwa konflik saat ini memiliki fokus yang lebih jelas. Sementara itu, mantan utusan Timur Tengah, Jason Greenblatt, menyatakan bahwa waktu akan menjadi faktor penentu apakah perang ini akan berlarut-larut.
Di sisi lain, tanda-tanda ketidakpuasan juga terlihat. Mantan pejabat kontraterorisme, Joe Kent, memilih mundur karena menilai komitmen untuk menghindari “perang tanpa akhir” tidak lagi dipenuhi.
Sejumlah analis menilai kesalahan lama kembali terulang. Seperti pada invasi Irak, konflik ini juga dipicu oleh isu ancaman senjata pemusnah massal yang kini mulai dipertanyakan. Selain itu, perencanaan dinilai terlalu menitikberatkan pada kekuatan militer tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang secara menyeluruh.
Kaplan juga menilai Washington cenderung meremehkan ketahanan rezim Iran, yang hingga kini masih mampu bertahan di tengah tekanan militer.
Dampak tak terduga juga menjadi perhatian. Pengalaman perang Irak menunjukkan bahwa intervensi militer justru dapat memperkuat pihak yang sebelumnya ingin dilemahkan. Mantan pejabat Departemen Luar Negeri, Jen Gavito, mengingatkan bahwa upaya menggulingkan kepemimpinan Iran berpotensi melahirkan rezim yang lebih keras.
Selain itu, posisi strategis Iran dalam mengendalikan Selat Hormuz menjadi faktor penting yang meningkatkan daya tawarnya dalam konflik ini.
Mantan pejabat Pentagon, Colin Kahl, menegaskan bahwa kejelasan tujuan politik menjadi kunci dalam setiap perang. Tanpa tujuan yang pasti, konflik berisiko meluas dan kehilangan arah, sementara alasan awal perlahan memudar.
Sementara itu, Gedung Putih melalui juru bicara Anna Kelly menegaskan bahwa tujuan AS tetap jelas, yakni melemahkan kemampuan militer Iran dan mencegah negara tersebut memiliki senjata nuklir. Meski demikian, seperti pengalaman di Irak, hasil akhir dari konflik ini masih sulit dipastikan.
Bahkan, menurut Eyre, tekanan yang terus diberikan justru bisa mendorong Iran untuk meningkatkan aksi balasan, yang berpotensi memperpanjang konflik dan memperbesar dampaknya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments