Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Belajar dari Peristiwa Gedung Runtuh

Iklan Landscape Smamda
Belajar dari Peristiwa Gedung Runtuh
The Titanium Building, SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Malang, Jawa-Timur, diresmikan tahun 2015. Foto: Pribadi/PWMU.CO
Oleh : Imam Robandi Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah (2010–2015), dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur (2010–2017)
pwmu.co -

Setiap kali terjadi kecelakaan, kita sering mendengar kalimat, “Semoga kejadian ini tidak terulang lagi.” Faktanya, peristiwa serupa kerap kembali terjadi. Kita tentu masih ingat tragedi runtuhnya gedung di Bangladesh pada tahun 2013 yang menewaskan lebih dari seribu orang.

Sayangnya, banyak di antara kita yang tidak melakukan ikhtiar nyata untuk memperbaiki kesalahan yang sudah terjadi. Segala sesuatu dianggap selesai, cukup diserahkan kepada takdir, tanpa upaya perbaikan sistemik. Tak jarang, alasan yang digunakan adalah karena pimpinan sebelumnya juga melakukan hal yang sama—seolah hanya meneruskan tradisi manajemen yang sudah ada.

Naluri untuk melakukan perubahan dan kemajuan memang tidak selalu dimiliki oleh setiap individu atau setiap zaman. Padahal, kemajuan lahir dari keberanian untuk memperbaiki kesalahan dan membangun sistem yang lebih baik.

Makna Membangun Gedung

Akhir-akhir ini kita kembali digemparkan oleh peristiwa gedung ambruk yang menelan banyak korban. Kejadian seperti ini sebenarnya bukan yang pertama. Sudah beberapa kali terjadi di berbagai tempat, hanya saja sering luput dari perhatian publik karena jumlah korbannya tidak banyak.

Yang perlu digarisbawahi, peristiwa gedung runtuh tidak sedikit yang disebabkan oleh bukan karena gempa, tsunami, dan bencana alam, melainkan karena kelalaian manusia dalam membangun dan menggunakan gedung.

Membangun gedung bukan sekadar proyek untuk mendirikan bangunan. Ia memerlukan persiapan matang, ketaatan pada kaidah profesional, dan kesadaran bahwa bangunan adalah bagian dari lingkungan harmoni yang menopang kegiatan dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan. Gedung yang baik harus dibangun melalui proses yang benar, bukan sekadar “asal berdiri” atau “yang penting jadi.”

Tommy Zung, pendiri dan pimpinan Direktori AD PRO di New York, menekankan pentingnya fokus pada hal-hal esensial dalam merancang bangunan. Ia menegaskan bahwa proses membangun adalah perjalanan panjang yang melelahkan, namun keamanan, keselamatan, dan kenyamanan harus menjadi prioritas utama.

Sebelum memulai, perlu ada TOR (Term of References) yang jelas tentang bentuk, fungsi, dan kebutuhan ruang. Sayangnya, dalam banyak kasus, gedung dibangun tanpa dokumen perencanaan memadai—hanya berdasarkan perintah lisan, hasil rapat singkat, atau bahkan secarik kertas fotokopi.

Zung juga menegaskan pentingnya perencanaan matang dan profesional. Membangun gedung yang aman memerlukan desain tepat, material berkualitas, dan pengerjaan konstruksi yang teliti.

Sebagai contoh, Jepang yang sering dilanda gempa memiliki standar pembangunan yang sangat presisi. Gedung-gedung di sana dibangun dengan teknologi rekayasa seismik canggih seperti base isolation dan inverted pendulum system untuk menahan guncangan gempa dan banjir.

Para ahli Jepang menggabungkan teknik modern dengan metode tradisional, termasuk penggunaan rangka baja fleksibel, beton bertulang, dan sistem kayu rumit (Itakura), yang sudah diterapkan sejak era Edo (1603–1868). Semua dilakukan secara terukur oleh tenaga profesional dengan jadwal dan target yang jelas.

Arsitek modern seperti Fumihiko Maki juga menekankan pendekatan humanis dalam arsitektur, memadukan modernisme dengan konteks sosial dan spiritual. Ia menaruh perhatian besar pada harmoni cahaya, bayangan, dan ruang publik yang fungsional.

Artinya, membangun gedung bukan sekadar menumpuk bata dan semen, atau “swakelola keikhlasan” tanpa perencanaan. Membangun gedung adalah tanggung jawab serius yang menjadi bagian dari ikhtiar membangun peradaban—melalui langkah-langkah yang benar, terukur, dan bertanggung jawab.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Rancang Bangun yang Bertanggung Jawab

Membangun gedung berarti memikul tanggung jawab besar, dan semua tahapan harus dilakukan secara definitif dan terukur.

Langkah awal yang sering diabaikan adalah pengujian tanah melalui investigasi geoteknik untuk mengetahui jenis tanah, daya dukung, serta potensi risiko banjir, longsor, atau gempa. Aspek infrastruktur dasar seperti saluran listrik, air, drainase, gas, telepon, dan internet juga wajib diperhatikan sejak tahap perencanaan.

Arsitek bertugas merancang tata letak, fungsi, dan estetika bangunan. Insinyur struktur merancang kerangka—kolom, balok, pelat, dan pondasi—agar kuat dan stabil. Sementara insinyur sipil mengawasi kelayakan konstruksi. Insinyur mekanik, elektrikal, dan perpipaan memastikan sistem utilitas bekerja aman dan efisien.

Desain gedung wajib menyertakan kajian daya dukung tanah dan beban bangunan. Penggunaan beton bertulang atau baja struktur harus sesuai spesifikasi desain, termasuk penempatan tulangan, penutup, serta perawatan beton yang benar. Drainase yang baik dan sistem kedap air sangat penting untuk mencegah erosi dan penurunan struktur.

Semua material—semen, pasir, agregat, air, baja—harus diuji dan memenuhi standar mutu. Hindari bahan yang tidak sesuai spesifikasi atau kedaluwarsa. Proses konstruksi harus diawasi insinyur berpengalaman, dan pekerja wajib memiliki pelatihan dasar keselamatan.

Hal-hal ini mungkin tampak sepele, tetapi justru di sanalah letak keseriusan kita dalam membangun peradaban melalui tata kerja yang benar dan profesional.

Gedung tidak boleh dirancang sembarangan, apalagi tanpa keputusan resmi dari lembaga yang berwenang. Sayangnya, masih sering terjadi, gedung sudah dibangun dan diresmikan secara meriah, namun Surat Keputusan pembangunan belum dibuat. Tidak ada nama yang jelas sebagai penanggung jawab.

Akibatnya, ketika terjadi masalah, semua saling melempar tanggung jawab.

Membangun gedung bukan sekadar mendirikan bangunan fisik, tetapi membangun sistem nilai, kedisiplinan, dan tanggung jawab moral.

Karena itu, setiap pembangunan harus dimulai dengan niat lurus, ketaatan terhadap aturan, dan profesionalisme yang terukur. Gedung yang kokoh bukan hanya berdiri di atas fondasi beton, tetapi juga di atas fondasi etika, integritas, dan ilmu yang benar.

Selamat berbenah.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡