Hubungan erat antara kesehatan mental orang tua dan tumbuh kembang anak menjadi fokus utama dalam kegiatan Tarbiyatul Walidain yang digelar SD Muhammadiyah Kompleks Gresik (SD Mugres) Kampus A, Jumat (10/4/2026).
Bertempat di Aula Sang Surya, kegiatan parenting ini menghadirkan psikolog Muhammad Badril Riza, S.Psi., M.Pd. sebagai narasumber. Mengusung tema “Mengasuh Tanpa Luka: Kesehatan Mental Orang Tua”, acara ini diikuti oleh wali murid prasekolah yang antusias menyimak pentingnya regulasi emosi dalam mendidik anak, khususnya di era digital.
Dalam pemaparannya, Badril mengungkapkan bahwa kondisi psikologis orang tua memiliki dampak signifikan terhadap perkembangan anak, termasuk risiko stunting. Ia menyebutkan bahwa stres yang dialami orang tua dapat meningkatkan risiko stunting ringan pada anak hingga 33–37 persen, bahkan mencapai 40 persen jika kedua orang tua sama-sama mengalami tekanan mental yang tidak terkelola.
“Orang tua yang mengalami stres cenderung kurang optimal dalam memberikan perhatian, nutrisi, dan stimulasi yang dibutuhkan anak. Hal ini tentu berdampak langsung pada tumbuh kembang mereka,” jelas praktisi dari Nature of Learning Infinity Sequence tersebut.
Menurutnya, kesehatan mental orang tua tidak hanya berpengaruh pada aspek emosional anak, tetapi juga pada pola asuh sehari-hari. Kurangnya interaksi berkualitas serta ketidakpekaan terhadap kebutuhan anak menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Hal senada disampaikan guru SD Mugres, Anifah Syafaati, S.Pd. Ia menuturkan bahwa kondisi emosional anak di sekolah kerap menjadi cerminan dari situasi di rumah.
“Kami sering menjumpai siswa yang sulit fokus atau tampak murung. Setelah ditelusuri, ternyata ada tekanan emosional yang dialami orang tua. Melalui kegiatan ini, kami berharap terbangun keselarasan antara pendidikan di sekolah dan di rumah,” ujarnya.
Ia menambahkan, orang tua yang bahagia dan memiliki kesehatan mental yang baik akan lebih mampu mendukung proses belajar anak secara optimal.
Dalam sesi materi, Badril juga menguraikan enam faktor utama yang kerap memicu stres pada ibu, khususnya generasi milenial. Faktor tersebut meliputi isolasi dalam pengasuhan, beban waktu dan peran ganda, fenomena mom shaming, kurangnya dukungan co-parenting, trauma intergenerasional, serta tekanan finansial.
“Ibu yang bahagia akan melahirkan anak-anak yang tangguh. Karena itu, penting bagi orang tua untuk melakukan self-care dan membangun dukungan yang kuat, terutama dari pasangan,” tegasnya.
Melalui kegiatan ini, SD Mugres berharap para orang tua semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai fondasi utama dalam membangun pola asuh yang positif. Dengan demikian, anak-anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat, penuh kasih, dan mendukung perkembangan mereka secara optimal. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments