Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si menyampaikan ceramah reflektif yang menekankan pentingnya mengasah rasa syukur, memperkuat tauhid, serta membangun budaya memaafkan sebagai fondasi utama gerakan Muhammadiyah.
Ceramah tersebut disampaikan dalam suasana bulan Syawal, sebagai bagian dari momentum halal bihalal dan evaluasi pasca-Ramadan.
Dalam pembukaan ceramahnya, Nazaruddin menegaskan bahwa rasa syukur tidak boleh berhenti pada ucapan semata. Syukur harus diasah secara multidimensi dalam kehidupan sehari-hari.
“Syukur itu bukan sekadar lafaz pembuka, tetapi harus menjadi energi yang melahirkan gerakan besar,” ujarnya seperti dilansir di kanal Youtube Masjid Muhammadiyah Enha Kepanjen.
Dia mengingatkan bahaya sikap “excited sesaat”, yakni semangat yang hanya muncul pada momen tertentu lalu menghilang tanpa bekas. Menurutnya, sikap tersebut justru merusak konsistensi amal.
Moderasi sebagai Wujud Tauhid
Nazaruddin menjelaskan bahwa dalam Muhammadiyah, teologi tauhid diwujudkan dalam perilaku moderat (wasathiyah). Moderasi bukan berarti serba membolehkan, melainkan berada di tengah: tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan.
“Perilaku moderat itu seperti gelombang yang terus bergerak, konsisten, tidak meledak-ledak lalu hilang,” jelas Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim itu.
Dia menambahkan bahwa moderasi lahir dari rasa syukur yang terus diasah, yang menjadi manifestasi keimanan kepada Allah.
Menurut Nazaruddin, Ramadan adalah ruang evaluasi untuk mengukur kualitas tauhid dan syukur yang telah dilatih selama setahun.
“Ramadan itu tempat kita mengecek, sejauh mana rasa syukur dan kekuatan tauhid kita berkembang,” katanya.
Sementara itu, tradisi pengajian Syawal atau halal bihalal menjadi titik kulminasi untuk melakukan refleksi, koreksi, dan perbaikan diri.
Memaafkan: Jalan Menuju Kemuliaan
Salah satu pesan utama dalam ceramah tersebut adalah pentingnya melatih kemampuan memaafkan. Nazaruddin menekankan bahwa memaafkan bukan hal mudah, tetapi merupakan kunci untuk meraih ampunan Allah.
“Dosa kepada sesama hanya bisa diampuni jika kita sudah dimaafkan oleh orang yang kita zalimi,” tegasnya.
Dia mengutip berbagai ayat Al-Qur’an yang menegaskan keutamaan memaafkan, termasuk ajakan untuk menahan amarah dan berlapang dada.
Menurutnya, sifat pemaaf akan melahirkan ketenangan hati, keterbukaan, serta kemampuan berpikir jernih.
Lebih jauh, Nazaruddin menjelaskan, memaafkan merupakan pintu menuju ihsan, yakni kondisi spiritual di mana seseorang terdorong untuk selalu berbuat baik.
“Ihsan itu melahirkan hasrat untuk memberikan yang terbaik dalam setiap tindakan,” ujarnya.
Dia menambahkan, kebaikan yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan kembali kepada diri sendiri, sebagaimana prinsip dalam Al-Qur’an bahwa setiap kebaikan pasti dibalas dengan kebaikan.
Pengalaman Memimpin: Amanah Tanpa Ambisi
Nazaruddin juga berbagi pengalaman memimpin beberapa perguruan tinggi Muhammadiyah. Ia menegaskan bahwa amanah tersebut bukan hasil ambisi pribadi, melainkan bagian dari proses pengabdian.
“Saya tidak pernah meminta jabatan. Di Muhammadiyah itu, kerja saja. Tunjukkan manfaatnya,” ungkapnya.
Dia menilai, kunci keberhasilan organisasi adalah kekompakan, bukan tanpa perbedaan, tetapi mampu bergerak dalam satu irama setelah keputusan diambil.
Nazaruddin mengingatkan bahwa konflik internal dapat menghancurkan organisasi. Dia mencontohkan berbagai pengalaman dalam mengelola institusi yang terpuruk akibat perpecahan.
“Jangan konflik karena hal kecil. Itu bisa membuat organisasi bangkrut,” katanya.
Nazaruddin menekankan pentingnya menghindari budaya “rasan-rasan” tanpa tindakan nyata, dan menggantinya dengan kerja konkret yang memberi solusi.
Dalam konteks gerakan Muhammadiyah, Nazaruddin menyoroti pentingnya teologi Al-Maun sebagai dasar gerakan sosial.
Dia menegaskan, kepedulian terhadap fakir miskin, pendidikan, dan kesejahteraan umat harus menjadi gerakan nyata.
“Bukan sekadar membantu, tapi membangun masa depan umat,” jelasnya.
Ia juga mendorong penguatan ekonomi melalui konsep social enterprise untuk membangun kelas menengah yang kuat di Muhammadiyah.
Etos Kerja dan Transformasi Berkelanjutan
Nazaruddin menekankan bahwa hasil dari proses spiritual seperti puasa, syukur, dan memaafkan harus melahirkan etos kerja yang kuat dan berorientasi solusi.
“Jangan hanya pandai berdiskusi, tapi tidak bekerja. Muhammadiyah itu kerja nyata,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa teologi Muhammadiyah bukan sekadar reformasi, tetapi transformasi berkelanjutan yang terus melahirkan inovasi dan perbaikan.
Nazaruddin menegaskan, inti Muhammadiyah adalah perpaduan antara iman dan amal saleh. Ia mengajak seluruh jamaah untuk terus bergerak, berkontribusi, dan menjaga keikhlasan dalam beramal.
“Teruslah bermuhammadiyah. Apa yang kita lakukan hari ini, manfaatnya akan dirasakan oleh banyak orang,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments