Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Zamzam, Jejak Siti Hajar dan Pesan Merawat Sumber Kehidupan

Iklan Landscape Smamda
Zamzam, Jejak Siti Hajar dan Pesan Merawat Sumber Kehidupan
Oleh : Maslahul Falah Penulis Buku Sumber Daya Air dalam Persepketif Islam (2019)

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan dalam Kalender Hijriah. Sabda Rasulullah Saw memperjelas eksistensi Bulan Dzulhijjah sebagai bagian dari arba’atun hurum, yaitu bulan-bulan yang mendapat kemuliaan dari Allah. Secara berurutan, bulan tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab (HR. Al-Bukhari).

Di Bulan Dzulhijjah juga terdapat beberapa amal ibadah yang disyariatkan, seperti puasa Arafah dan shalat Idul Adha. Selain itu, terdapat pula amal ibadah yang memiliki nilai historis, seperti penyembelihan hewan kurban dan pelaksanaan ibadah haji.

Namun, ada pula peristiwa sejarah yang hingga kini jejaknya masih dapat dinikmati oleh umat manusia di seluruh penjuru dunia. Apalagi jika dimaknai dan dikontekstualisasikan dalam rangkaian sejarah kehidupan manusia sepanjang masa.

Torehan jejak sejarah tersebut oleh Nabi Allah Ibrahim ‘alaihissalam, Siti Hajar, dan putera bayinya, Isma’il. Walaupun tidak seluruh perjalanan sejarah Nabi Ibrahim Sang Khalilullah dapat terungkap, dalam konteks tulisan ini kita mengenal salah satu peninggalan penuh makna, yaitu Zamzam.

Zamzam merupakan sumur penuh keberkahan yang terkenal di Masjid Al-Haram. Sekilas, kita dapat merenungkan kapan sumur atau air Zamzam itu bermula.

Terkait hal tersebut, kita dapat menyimaknya dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 37. Ayat ini berkaitan dengan doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam ketika meninggalkan Siti Hajar dan puteranya Ismail di sebuah lembah yang tandus dekat Baitullah.

Allah berfirman yang artinya:

“Ya Tuhan, sesungguhnya aku (Ibrahim) telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan, (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Ayat 37 Surat Ibrahim ini juga selaras dengan sabda Rasulullah Saw dalam riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’.

Dalam peristiwa di Bukit Shafa dan Bukit Marwa, tempat Siti Hajar berulang kali berjalan dari Shafa menuju Marwa hingga tujuh kali dalam mencari pertolongan.

Peristiwa Siti Hajar inilah yang dalam sabda Rasulullah Saw:

“Fadzalika sa’y an nasi bainahuma”

“Inilah sa’i manusia di antara keduanya (Shafa dan Marwa).”

Sa’i tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian manasik dalam ibadah haji.

Sumur Zamzam bermula dari hentakan tumit malaikat ke tanah atau gerakan kedua sayapnya hingga air muncul dan terlihat. Siti Hajar kemudian membuat kolam untuk menampung air tersebut dan mengisi tempat minumnya dengan air itu.

Air tersebut terus mengalir ke dalam kolam setiap kali ia mengambilnya.

Zamzam kemudian menjadi sumber mata air yang penuh keberkahan. Proses munculnya air tersebut juga menunjukkan inisiatif dan ikhtiar Siti Hajar dalam menjaga serta memanfaatkan karunia Allah.

SMPM 5 Pucang SBY

Karena itulah Rasulullah Saw bersabda:

Yarhamullāhu umma Ismā‘īla law tarakat Zamzama aw qāla law lam taghrif minal mā’i lakānat Zamzamu ‘ainan ma‘īnan.

“Semoga Allah merahmati ibu Isma’il. Sekiranya dia membiarkan Zamzam atau beliau Saw bersabda: sekiranya dia tidak menyiduknya (mengambilnya), maka sungguh Zamzam merupakan mata air yang mengalir (di permukaan).”

Siti Hajar berusaha agar air di tempat yang tandus tersebut menjadi sumber kehidupan dan memberikan manfaat besar bagi manusia. Dalam perkembangannya, kehidupan manusia tumbuh di sekitar Zamzam.

Bahkan Rasulullah Saw menggambarkan bahwa sekelompok dari Kabilah Jurhum melihat burung-burung terbang di sekitar Zamzam. Air tersebut kemudian menjadi sumber kehidupan yang Allah takdirkan hadir di tanah tandus Makkah.

Kita dapat mengambil banyak ibrah atau pelajaran penting dari rangkaian kisah Siti Hajar, Ismail, dan Zamzam ini.

Salah satunya adalah pentingnya merawat air dan menjaga sumber air. Perilaku ekologis Siti Hajar menjadi inspirasi bagi manusia untuk menjaga keberlangsungan sumber kehidupan.

Kita memiliki kewajiban untuk merawat air, menjaga sumber-sumber air, serta memastikan ketersediaan air bersih bagi kebutuhan manusia.

Air merupakan kebutuhan primer bagi manusia, baik untuk menjaga kesehatan tubuh maupun sebagai sarana ibadah seperti berwudhu dan mandi. Air juga menjadi kebutuhan utama bagi hewan dan tumbuhan.

Tubuh manusia terdiri dari sekitar 80 persen air. Bahkan beberapa organ tubuh memiliki kandungan air yang sangat tinggi, seperti otak yang mengandung sekitar 90 persen air dan darah sekitar 95 persen air.

Manusia membutuhkan air putih sekitar delapan gelas ukuran sedang setiap harinya. Secara umum, manusia dapat bertahan hidup selama dua hingga tiga minggu tanpa makanan, tetapi hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga hari tanpa air minum.

Marilah kita tanpa henti berdoa kepada Allah untuk kebaikan bersama, kebaikan umat manusia, dan kebaikan alam semesta.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjaga air, merawat sumber-sumber air, serta memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.

Wallahu a’lam.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 13/06/2026 11:36
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu