Tiga golongan yang tidak diajak bicara Allah pada hari kiamat menjadi tema utama khotbah Jumat di Masjid Al-Khoory, kompleks Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Jumat (24/7/2026).
Khatib Dr. Riduwan Zaenal, M.Hes menjelaskan, golongan tersebut adalah orang tua yang berzina, pemimpin yang gemar berbohong, dan orang miskin yang sombong. Ketiganya, berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW, tidak dipandang dengan rahmat Allah, tidak disucikan, dan akan mendapat azab yang pe
Riduwan membuka khotbah dengan mengingatkan pentingnya mengikuti ajaran Rasulullah saw secara utuh. Menurutnya, orang yang menyelisihi petunjuk Nabi berada dalam kerugian besar.
Dia mengutip hadis riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas yang menegaskan bahwa seseorang akan celaka apabila berpaling dari apa yang telah dibawa Rasulullah saw. Oleh karena itu, setiap muslim dituntut menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai pedoman hidup.
Riduwan juga mengajak umat Islam memanfaatkan sisa umur dengan memperbanyak ibadah dan menjauhi dosa-dosa besar.
“Janganlah berhenti meski hanya sejenak sampai kaki kita benar-benar menginjak surga. Beribadahlah sampai akhir hayat,” katanya.
Riduwan kemudian mengisahkan dialog antara Khalifah Umar bin Khattab dengan Abdullah bin Abbas mengenai makna Surat An-Nasr.
Suatu ketika Umar bin Khattab mengumpulkan para sahabat dan bertanya tentang kandungan surat tersebut. Sebagian memahami Surat An-Nasr sebagai kabar tentang datangnya kemenangan Islam dan manusia berbondong-bondong memeluk agama Allah.
Namun Umar meminta pendapat Abdullah bin Abbas. Sahabat muda yang dikenal memiliki kedalaman ilmu tafsir itu menjelaskan bahwa surat tersebut juga mengandung isyarat tentang semakin dekatnya wafat Rasulullah saw.
Menurut Ibnu Abbas, ketika surat itu diturunkan, Rasulullah saw telah memasuki usia sekitar 60 tahun. Allah memerintahkan Nabi untuk memperbanyak tasbih, memuji-Nya, serta memohon ampunan sebagai tanda bahwa tugas kerasulan telah hampir sempurna.
“Pesan ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia berjalan begitu cepat. Apa yang kita rasakan panjang di dunia, sesungguhnya sangat singkat bila dibandingkan kehidupan akhirat,” tutur Ridwan.
Karena itu, dia mengingatkan jamaah agar tidak menunda amal saleh. Kesempatan beribadah hanya ada selama manusia masih hidup.
Mengutip hadis Nabi Muhammad saw, Riduwan menjelaskan, terdapat tiga golongan yang memperoleh ancaman sangat berat pada hari Kiamat.
“Mereka adalah orang-orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak dipandang dengan rahmat-Nya, tidak disucikan, dan bagi mereka azab yang sangat pedih,” katanya.
Golongan pertama adalah orang tua yang berzina. Perbuatan zina merupakan dosa besar bagi siapa pun. Namun, ancamannya menjadi lebih berat ketika dilakukan oleh seseorang yang telah lanjut usia karena seharusnya ia telah memiliki kematangan iman dan pengalaman hidup.
“Tantangan menjaga kehormatan diri pada era digital semakin besar. Berbagai godaan hadir melalui media sosial, hiburan, hingga pergaulan yang semakin terbuka,” katanya.
Godaan hari ini memang begitu dekat. Di media sosial, tempat hiburan, bahkan dari layar telepon genggam yang setiap hari kita pegang. Karena itu, kita harus benar-benar menjaga diri dan keluarga.
Golongan kedua adalah pemimpin yang gemar berdusta. Riduwan mengatakan, “Isuk dele, sore tempe,” sebagai gambaran sikap yang mudah berubah dan tidak konsisten.
Kepemimpinan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Kebohongan yang dilakukan seorang pemimpin bukan hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga berdampak luas kepada masyarakat yang dipimpinnya.
Pemimpin seharusnya menjadi teladan dalam kejujuran, bukan mengumbar janji yang tidak ditepati.
Golongan ketiga adalah orang miskin yang sombong. Kesombongan tidak selalu berkaitan dengan kekayaan atau jabatan. Sifat angkuh dapat muncul pada siapa saja, termasuk mereka yang hidup dalam keterbatasan.
Seorang muslim diperintahkan untuk senantiasa rendah hati, menyadari bahwa seluruh nikmat dan keadaan hidup berada dalam ketentuan Allah SWT.
Di akhir khotbah, Riduwan juga menyoroti praktik riba yang menurutnya semakin sulit dihindari dalam kehidupan modern.
Dia mengingatkan, banyak aktivitas ekonomi masyarakat yang kini bergantung pada sistem utang berbunga, mulai dari pembelian rumah, kendaraan bermotor, hingga kebutuhan konsumtif lainnya.
“Kita hari ini banyak terkepung riba. Rumah dibeli dengan kredit, motor dibeli dengan kredit,” katanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments