Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Grabagan Tulangan mengadakan pengajian rutin Sabtu Ba’da Magrib dengan tema Menyikapi Fenomena LGBT. Kegiatan ini digelar di Masjid Al Mahdi Perumtas 3 Grabagan Tulangan, Sabtu (18/7/2026).
Pemateri pengajian kali ini adalah dr. Tjatur Prijambodo, M.Kes. yang saat ini menjabat sebagai Dosen dan Kepala Unit Kedokteran Islam FK Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
Dalam prolognya, dr. Tjatur menerangkan Kabupaten Sidoarjo masuk daftar nomor 1 sebagai wilayah penderita AIDS terbanyak di Jawa Timur.
“Kabar buruk ini semakin memprihatinkan setelah adanya penggerebekan pesta sex kelompok gay di salah satu hotel di Surabaya pada awal Juli lalu,” terangnya.
“Mengapa hal ini terjadi?” tanya dr. Tjatur.
Ia memperingatkan agar para jamaah bisa mengambil peran dalam mencegah penyimpangan orientasi seksual dan perilaku seksual lingkungannya. “Kita harus bisa mengambil langkah pencegahan agar perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) bisa kita bendung. Perlu kita garis bawahi, kita harus membenci perilaku menyimpang tersebut, namun jangan benci orangnya,” ujarnya.
dr. Tjatur menerangkan bahwa derajat kesehatan masyarakat Indonesia itu ditentukan 4 hal, yakni genetik (8%), pelayanan kesehatan (16%), lingkungan (23%), dan gaya hidup (53%).
“Sebagai contoh, seorang anak yang ayah atau ibunya menderita diabetes, maka anak tersebut memiliki potensi terkena diabetes sebesar 8 persen. Jika anak tersebut mencoba hidup sehat, berolahraga, dan menjaga pola makan, maka kemungkinan ia tidak akan terkena diabetes karena lingkungan memiliki pengaruh sebesar 53 persen,” terang dosen Umsura tersebut.
Ia menambahkan bahwa dalam dunia medis, bayi laki-laki yang terlahir normal memiliki hormon laki-laki sebesar 80 persen dan perempuan 20 persen. Sedangkan bayi perempuan memiliki hormon laki-laki sebesar 40 persen dan perempuan 60 persen.
dr. Tjatur kemudian mencontohkan bagaimana adanya pembiaran gaya anak laki-laki yang menyerupai perempuan. “Penyebabnya bisa karena sang ibu ingin memiliki bayi perempuan, namun yang lahir malah laki-laki sehiingga ia kecewa,” ungkapnya.
“Contoh di atas menunjukkan bagaimana hormon sang anak terbentuk secara tidak normal, sehingga secara otomatis dipengaruhi oleh orang tuanya. Maka, langkah pencegahan bisa dimulai sejak fase kehamilan,” lanjut dr. Tjatur.
Ia menambahkan, orientasi seksual ke arah LGBT memang tidak terlihat, namun kita bisa melihat bagaimana perilaku menyimpang kelompok LGBT.
“Sebagai pelayan kesehatan, pemerintah memiliki tugas melahirkan regulasi atau aturan agar LGBT tidak semakin meluas. MUI juga mendorong pemerintah agar segera membuat dan mengesahkan undang-undang peluang menyebarnya penyakit LGBT,” jelas dr. Tjatur.
“Pemerintah saat ini sudah memasukkan LGBT sebagai penyakit menyimpang yang masuk dalam kategori ancaman non-militer. Maka dalam hal ini, MUI meminta agar pemerintah dan kepolisian mencegah munculnya program berbau LGBT muncul di media,” terangnya.
“Sebagai informasi, di Indonesia, LGBT masuk sebagai penyakit jiwa, sedangkan World Health Organization (WHO) tidak menetapkannya demikian,” sambung dr. Tjatur.
Dosen FK Umsura tersebut kembali menekankan agar kita membenci perilaku LGBT, bukan penderitanya. “Maka apabila menemukan anak yang perilakunya mengarah ke LGBT, segera edukasi orang tuanya untuk membawa sang anak ke psikiater atau psikolog,” tegasya.
Di akhir acara, dr. Tjatur berdoa bersama jamaah yang hadir. “Semoga anak-anak dan jamaah yang hadir selalu dijauhkan dari segala penyakit dan selalu diberikan kesehatan baik jasmani maupun rohani,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments