Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dakwah Transformatif, Dari Ayat Menjadi Perubahan dan Peradaban

Iklan Landscape Smamda
Dakwah Transformatif, Dari Ayat Menjadi Perubahan dan Peradaban
Muchamad Arifin saat menyampaikan kajiannya. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Alfain jalaluddin ramadlan

Kajian Ahad Pagi Majelis Tabligh PCM Lakarsantri berlangsung penuh antusias di Kompleks MIM 28, Jalan Tlogo Tanjung, Bangkingan, Surabaya, Ahad (16/8/2026).

Kajian yang mengangkat tema “Dakwah Transformatif: Menguatkan Umat, Membangun Peradaban” menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah, Ustaz Muchamad Arifin

Sejak pagi, jamaah tampak memenuhi halaman SD Muhammadiyah 28. Suasana kajian berlangsung hangat dan penuh perhatian. Bahkan, antusiasme jamaah membuat tausiyah berlangsung lebih lama dari waktu yang telah dijadwalkan. Jamaah tetap mengikuti uraian materi hingga selesai, terutama ketika Muchamad Arifin mengisahkan pengalaman perjalanan dakwah di berbagai daerah pedalaman dan kawasan 3T.

Dalam tausiyahnya, Muchamad Arifin menegaskan bahwa dakwah transformatif merupakan bagian dari nafas dakwah Muhammadiyah. Dakwah tidak cukup hanya menyampaikan pesan agama dari atas mimbar, tetapi harus mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.

“Dakwah di Muhammadiyah bukan dakwah yang hanya berhenti di mimbar. Dakwah harus bergerak keluar dari mimbar, hadir di tengah masyarakat, menjawab persoalan umat dan menghadirkan kemanfaatan,” ujarnya.

Menurutnya, Al-Qur’an tidak boleh berhenti sebagai teks yang hanya dibaca, dipelajari, dan dihafalkan. Nilai-nilai Al-Qur’an harus diterjemahkan menjadi amal nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan.

Ia kemudian mengajak jamaah melihat QS. Al-Ma’un bukan sekadar ayat yang dibaca dalam ibadah, tetapi sebagai sumber inspirasi gerakan sosial. Pesan tentang kepedulian terhadap anak yatim, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

“Ketika Al-Qur’an dibumikan, ayat tidak lagi hanya menjadi pengetahuan. Ayat menjadi amal, amal menjadi gerakan, gerakan menghadirkan manfaat, dan manfaat itulah yang pada akhirnya ikut membangun peradaban,” jelasnya.

Hal yang sama, lanjutnya, dapat dilihat dari perintah membaca dan belajar dalam QS. Al-‘Alaq. Perintah membaca tidak berhenti pada aktivitas memperoleh pengetahuan, tetapi harus melahirkan manusia berilmu yang mampu memberikan solusi bagi persoalan kehidupan.

Demikian pula QS. An-Nisa ayat 58 yang mengajarkan amanah dan keadilan. Nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendampingan masyarakat, penguatan kelembagaan, hingga berbagai bentuk pelayanan kemanusiaan.

Dakwah Harus Menjawab Kebutuhan Umat

Muchamad Arifin menjelaskan bahwa salah satu kekuatan dakwah Muhammadiyah adalah kemampuannya menerjemahkan nilai-nilai keislaman ke dalam gerakan nyata sesuai kebutuhan masyarakat.

Ia mencontohkan berbagai model dakwah yang dijalankan LDK PP Muhammadiyah, mulai dari penguatan dai di daerah 3T, pendampingan masyarakat pedalaman, penguatan mualaf melalui Mualaf Learning Center (MLC), pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga penguatan ketahanan sosial masyarakat.

“Dakwah harus hadir sesuai kebutuhan umat. Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, dakwah hadir melalui pendidikan. Ketika membutuhkan pemberdayaan ekonomi, dakwah hadir melalui pemberdayaan. Ketika masyarakat membutuhkan pendampingan keagamaan, dai harus hadir di sana,” tuturnya.

Pengalaman dakwah di berbagai daerah pedalaman menjadi bagian penting dalam tausiyah tersebut. Muchamad Arifin menceritakan bagaimana dakwah tidak selalu berjalan dalam situasi yang mudah. Di sejumlah wilayah, para dai harus menempuh perjalanan panjang, berhadapan dengan keterbatasan akses, serta mendampingi masyarakat dalam proses yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

SMPM 5 Pucang SBY

Namun, justru di situlah dakwah menemukan maknanya sebagai gerakan perubahan.

Dakwah tidak hanya tentang seberapa banyak orang yang mendengarkan ceramah, tetapi tentang seberapa jauh nilai agama mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik.

Dari Mimbar ke Medan, Dari Kata ke Karya

Di hadapan jamaah, Muchamad Arifin menggambarkan dakwah transformatif sebagai sebuah perjalanan: dari ayat menjadi amal, dari amal menjadi gerakan, dari gerakan menjadi manfaat, dan dari manfaat menuju peradaban.

Menurutnya, inilah salah satu karakter dakwah Muhammadiyah yang sejak awal tidak memisahkan antara pemahaman keagamaan dan amal sosial.

“Dari mimbar kita menyampaikan nilai. Setelah itu nilai harus dibawa ke medan kehidupan. Dari kata menjadi karya. Dari ilmu menjadi amal. Dari amal menjadi gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Suasana kajian semakin menarik ketika pengalaman dakwah di daerah pedalaman dan kawasan 3T dikaitkan dengan pesan-pesan Al-Qur’an. Jamaah terlihat menyimak dengan serius, seakan diajak melihat bahwa ayat-ayat Al-Qur’an sesungguhnya sangat dekat dengan persoalan kehidupan sehari-hari.

Bagi Muchamad Arifin, membumikan Al-Qur’an berarti menjadikan wahyu sebagai sumber perubahan. Al-Qur’an memberi nilai, manusia menerjemahkannya dalam tindakan, kemudian tindakan tersebut dilakukan secara terorganisasi sehingga melahirkan gerakan yang memberikan manfaat luas.

“Kalau Al-Qur’an hanya dibaca, kita mendapatkan pahala membaca. Tetapi ketika nilai Al-Qur’an kita hidupkan dalam kehidupan, maka lahirlah perubahan. Dari perubahan itulah peradaban dibangun,” ungkapnya.

Antusiasme jamaah yang tetap bertahan hingga tausiyah melampaui jadwal menunjukkan bahwa tema dakwah transformatif memiliki relevansi kuat dengan kebutuhan masyarakat. Kajian tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang refleksi tentang bagaimana umat dapat mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial.

Kajian Ahad Pagi tersebut akhirnya menjadi pengingat bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara tentang kebaikan, tetapi menghadirkan kebaikan itu sendiri di tengah kehidupan masyarakat.

Dari ayat menjadi amal. Dari amal menjadi gerakan. Dari gerakan menjadi manfaat. Dan dari manfaat, lahirlah peradaban. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 16/08/2026 08:57
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu