Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

8 Bulan Dampingi Mahasiswa, Fasilitator PKMU Umsida Dibekali melalui ToT

Iklan Landscape Smamda
8 Bulan Dampingi Mahasiswa, Fasilitator PKMU Umsida Dibekali melalui ToT
8 Bulan Dampingi Mahasiswa, Fasilitator PKMU Umsida Dibekali melalui ToT. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Menjadi fasilitator Pendidikan Karakter Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (PKMU Umsida) tidak cukup hanya dengan kemampuan berbicara di depan kelas.

Fasilitator juga dituntut memiliki kemampuan membaca Al-Qur’an, pemahaman ibadah, karakter yang baik, serta ketahanan kerja. Sebab, proses pendampingan mahasiswa berlangsung sekitar delapan bulan, mulai Oktober 2026 hingga Mei 2027.

Bekal tersebut diperkuat melalui Training of Trainer (ToT) Fasilitator PKMU 2026–2027 yang digelar Direktorat Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) di Graha Umsida, Sabtu–Ahad (15–16/8/2026).

Program pendidikan karakter di Umsida dengan model tersebut telah berjalan sejak 2016.

Pada periode 2026–2027, sebanyak 37 fasilitator akan mendampingi delapan gelombang PKMU yang berlangsung mulai Oktober 2026 hingga Mei 2027.

Setiap gelombang berlangsung selama tiga pekan dan ditutup dengan kegiatan bermalam pada pekan terakhir.

Fasilitator PKMU Harus Siap untuk Pendampingan Panjang

Direktur Direktorat AIK Umsida, Drs Muadz MAg, mengingatkan bahwa tugas fasilitator membutuhkan komitmen dan stamina karena berlangsung dalam waktu yang cukup panjang.

Karena itu, ia meminta peserta tidak hanya bersemangat pada awal program, tetapi juga mampu menjaga kondisi hingga gelombang terakhir.

“Kalau lari 100 meter atau 200 meter tentu berbeda dengan lari maraton yang jauh. Jadi kesehatannya perlu dijaga supaya nanti bisa terus mengiringi pendidikan karakter sampai gelombang terakhir,” ujarnya.

Selain kondisi fisik, kompetensi fasilitator juga perlu terus dikembangkan. Terlebih, mereka nantinya berhadapan langsung dengan mahasiswa dan terlibat dalam proses pembentukan karakter.

Drs Muadz menekankan bahwa proses tersebut harus dimulai dari diri sendiri.

“Jangan hanya membangun karakter orang lain, tapi karakter kita sendiri masih kurang,” pesannya.

Ia juga mengingatkan fasilitator yang masih berstatus mahasiswa agar tidak mengesampingkan perkuliahan demi tugas pendampingan.

“Jangan sampai nanti kita membina orang lain, membina BQ, setelah itu kuliahnya hancur. Jadi harus berjalan sama-sama,” katanya.

Lewati Sejumlah Tahapan Seleksi

Kasi Pembinaan AIK Mahasiswa, Ima Faizah SP MPdI, menjelaskan bahwa fasilitator merupakan salah satu bagian penting dalam pelaksanaan PKMU. Karena itu, tidak semua mahasiswa dapat langsung mengambil peran tersebut.

Beberapa syarat utama yang harus dipenuhi mencakup kemampuan membaca Al-Qur’an, kemampuan ibadah, serta karakter calon fasilitator.

“Fasilitator itu tugasnya berat. Karena tugasnya berat, kami ingin tahu bagaimana ketahanan mereka terhadap pekerjaan, kemampuan bekerja sama, sampai kemampuan menangkap perintah,” jelas Ima.

Menurutnya, ketahanan kerja penting karena tugas fasilitator tidak berhenti pada pertemuan PKMU di akhir pekan.

Di luar jadwal tersebut, fasilitator juga bertugas melakukan mentoring dan pembimbingan kepada mahasiswa.

SMPM 5 Pucang SBY

Fasilitator PKMU Dilatih Hadapi Situasi di Kelas

Para fasilitator juga mendapatkan pembekalan teknis mengenai berbagai situasi yang mungkin ditemui ketika mendampingi mahasiswa.

Ima mengatakan, peserta tidak hanya diajarkan membaca Al-Qur’an atau menjalankan salat. Kemampuan dasar tersebut telah menjadi bagian dari proses seleksi.

“Lebih ke teknis bagaimana mendampingi mahasiswa. Termasuk bagaimana membimbing, bagaimana mengelola kelas, kalau dosennya datang terlambat mereka harus apa, atau ketika materi selesai tetapi masih ada waktu itu mau digunakan untuk apa,” terang Ima.

Dalam materi aqidah dan akhlak, misalnya, fasilitator disiapkan untuk memandu diskusi ketika mahasiswa membawa persoalan mengenai akhlak, tauhid, maupun persoalan lain yang muncul selama pembelajaran.

Begitu pula dalam materi ibadah. Peserta dibekali cara merespons ketika mahasiswa mengajukan pertanyaan atau menemukan perbedaan dalam praktik ibadah.

Rangkaian materi ToT mencakup pembinaan aqidah akhlak, Metode Tarjih Muhammadiyah, tata cara ibadah sesuai HPTM, pembelajaran BQ dewasa, hingga penilaian BQ dan PKMU.

Pada hari kedua, peserta mengikuti sesi microtraining yang membahas komunikasi di depan kelas, pengelolaan kelas, pembuatan ice breaking, cara membaca kondisi mahasiswa yang bosan atau mengantuk, hingga sikap fasilitator selama berada di kelas.

Peserta juga mengikuti outbound yang mengangkat materi teamwork, komunikasi, problem solving, ketahanan kerja, dan kepemimpinan.

Jadi Pengalaman Baru bagi Mahasiswa

Muhammad Dzulfahmi Al Abror menjadi salah satu fasilitator yang mengikuti ToT. Ia sebelumnya telah memiliki pengalaman mengajar di TPQ.

Pengalaman tersebut membuatnya tertarik mencoba menjadi fasilitator PKMU.

“Saya guru TPQ juga. Fasilitator PKMU ini hampir sama seperti guru TPQ, cuma yang diajar sederajat. Saya ingin mencoba dan mencari pengalaman, kalau mengajar seangkatan itu seperti apa,” ungkapnya.

Dzul mengaku tahapan psikotes menjadi salah satu proses yang cukup menguras tenaga dibandingkan wawancara.

Meski demikian, ia bersyukur dinyatakan lolos karena mendapat kesempatan memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru.

Setelah mengikuti pembekalan, ia mulai mendapat gambaran mengenai kondisi yang mungkin dihadapi selama mendampingi mahasiswa. Termasuk kemungkinan mendampingi mahasiswa yang belum menuntaskan PKMU maupun yang masih mengalami kesulitan dalam BQ.

Menurutnya, pendampingan tidak hanya sebatas menyampaikan materi. Ia juga ingin menyediakan waktu bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan.

“Saya bisa meluangkan waktu buat teman-teman yang masih bingung. Kalau materi atau ilmu, ya pasti saya salurkan juga,” katanya. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 16/08/2026 09:23
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu