Pekarangan rumah warga Desa Lebakrejo, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, menyimpan beragam tanaman yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan minuman herbal. Di antaranya daun sambiloto, kelor, dan salam yang selama ini lebih dikenal sebagai tanaman obat keluarga (Toga) atau bumbu masakan.
Potensi tersebut dikenalkan mahasiswa KKN-P 16 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kepada warga Desa Lebakrejo melalui program “Tiga Ramuan Sehat”. Kegiatan sosialisasi yang menyasar ibu-ibu PKK itu digelar Kamis (13/8/2026) di Balai Desa Lebakrejo.
Program tersebut bertujuan mengenalkan cara mengolah tanaman Toga menjadi minuman herbal yang praktis dan dapat dibuat sendiri di rumah.
Potensi Toga Lebakrejo Diolah Jadi Minuman Herbal
Acara dibuka Ketua Tim KKN-P 16, Muhammad Alkindi. Dalam sambutannya, ia menjelaskan latar belakang program yang berangkat dari pengamatan tim terhadap potensi tanaman Toga di lingkungan Desa Lebakrejo.
Menurutnya, tanaman Toga cukup mudah ditemukan di pekarangan warga, tetapi pemanfaatannya masih terbatas.
“Ibu-ibu PKK biasanya sudah familiar menanam Toga di pekarangan, tapi sering kali hanya untuk keperluan tertentu. Padahal, tanaman tersebut juga dapat diolah menjadi minuman yang praktis untuk dikonsumsi keluarga,” paparnya.
Melalui sosialisasi tersebut, ia berharap warga tidak hanya menanam tanaman obat keluarga di pekarangan, tetapi juga memiliki keterampilan untuk mengolahnya menjadi minuman herbal secara mandiri.
Setelah pembukaan, materi disampaikan secara bergantian oleh empat anggota tim, yakni Syafiq, Aliyah, Rosa, dan Riris. Mereka menjelaskan karakteristik, kandungan, manfaat, serta cara mengolah tiga tanaman Toga tersebut.
Kenalkan Manfaat Sambiloto, Kelor, dan Salam
Syafiq menyampaikan materi mengenai sambiloto. Ia menjelaskan bahwa daun sambiloto mengandung senyawa andrografolid yang memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan.
“Sambiloto ini rasanya memang pahit, tapi kandungan andrografolidnya punya sifat antiinflamasi dan antioksidan yang bisa membantu menjaga daya tahan tubuh,” ujarnya.
Selanjutnya, Rosa menjelaskan mengenai daun kelor. Menurutnya, daun kelor mengandung sejumlah zat gizi, seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan protein.
“Daun kelor ini kaya vitamin A, C, kalsium, zat besi, dan protein, jadi cocok banget buat bantu kebutuhan gizi harian keluarga,” jelasnya.
Sementara itu, Riris memaparkan manfaat daun salam. Ia menjelaskan bahwa daun salam mengandung flavonoid, tanin, dan minyak atsiri yang dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan upaya menjaga kadar gula darah dan kolesterol.
“Daun salam ini mengandung flavonoid, tanin, dan minyak atsiri, yang dari beberapa penelitian disebut berperan membantu menjaga kadar gula darah dan kolesterol,” terangnya.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa senyawa yang terdapat pada daun salam berkaitan dengan upaya menjaga kadar kolesterol dan tekanan darah.
Adapun Aliyah menjelaskan tahapan pembuatan tiga minuman herbal tersebut. Mulai dari membersihkan bahan, merebus atau menyeduh daun, hingga menyaring hasil seduhan.
Agar dapat dipraktikkan kembali di rumah, tim KKN-P 16 juga membagikan brosur yang berisi resep dan langkah pembuatan minuman herbal.
“Dengan mengetahui cara pengolahannya, ibu-ibu diharapkan dapat mencoba membuatnya sendiri di rumah dengan tetap memperhatikan kebersihan bahan dan alat yang digunakan,” jelas Aliyah.
Warga Tertarik Olah Toga di Rumah
Sesi mencicipi menjadi salah satu momen yang menarik perhatian peserta. Mereka berkesempatan mencicipi tiga varian minuman berbahan sambiloto, kelor, dan salam.
Rasa pahit khas sambiloto, aroma daun kelor, serta cita rasa daun salam memberikan pengalaman baru bagi ibu-ibu PKK yang selama ini lebih mengenal ketiga tanaman tersebut sebagai tanaman pekarangan atau bumbu masakan.
Salah satu kader PKK Desa Lebakrejo, Nia, mengaku tertarik mencoba membuat minuman herbal tersebut di rumah setelah mengikuti kegiatan.
“Ternyata tanaman Toga bisa diolah menjadi minuman herbal. Saya jadi tertarik mencobanya di rumah,” tuturnya.
Melalui program “Tiga Ramuan Sehat”, mahasiswa KKN-P 16 Umsida berharap pemanfaatan tanaman Toga di Desa Lebakrejo tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Warga diharapkan dapat mengembangkan keterampilan tersebut sebagai bagian dari upaya memanfaatkan potensi tanaman yang tersedia di lingkungan sekitar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments