Fenomena procrastination (menunda-nunda) menjadi salah satu penyakit yang sering menjangkiti manusia. Hal ini tidak hanya terjadi dalam urusan dunia, tetapi juga dalam urusan ibadah.
Banyak manusia menunda ibadah karena masih bekerja, menunda kebaikan karena merasa belum tepat waktunya, bahkan menunda bertobat setelah melakukan kemaksiatan.
Padahal, Al-Qur’an mengajarkan karakter yang sebaliknya.
Berulang kali Allah menggunakan diksi dalam Al-Qur’an yang bermakna segera, berlomba, atau berlari kepada-Nya.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan bahwa salah satu kerugian seorang hamba adalah menunda amal hingga kesempatan itu berlalu.
Pesan ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus bersikap cepat dan tanggap ketika ada kesempatan untuk beramal baik, bukan menjadi pribadi yang lambat dalam kebaikan.
Segera Bertobat, Jangan Ditunda
Al-Qur’an menyerukan semangat untuk bersegera mengerjakan kebaikan ini. Seruan yang pertama terdapat dalam Surah Ali ‘Imran ayat 133:
Wa sarii’uu ilaa maghfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘ardhuhas samaawaatu wal ardhu u’iddat lil muttaqiin.
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)
Allah menggunakan kata wasari‘u untuk mengajak kita bersegera meraih ampunan dan surga.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah untuk segera melakukan perbuatan yang mendatangkan ampunan Allah dengan cara memperbanyak istighfar, bertobat, dan mengerjakan amal saleh.
Oleh karena itu, menunda tobat akan menjadi kebinasaan yang datang secara perlahan, sebab tidak ada manusia yang mengetahui kapan ajalnya tiba.
Dunia Berhenti Saat Azan Berbunyi
Surah Al-Jumu’ah ayat 9 memuat seruan kedua. Allah berfirman: Yaa ayyuhal ladziina aamanuu idzaa nuudiya lish shalaati miy yaumil jumu’ati fas’aw ilaa dzikrillaahi wa dzarul bai’, dzaalikum khairul lakum in kuntum ta’lamuun.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila penyeru mengumandangkan azan untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah: 9)
Turunnya ayat ini berkaitan dengan panggilan untuk melaksanakan salat Jumat.
Menurut Ibnu Abbas, makna fas‘aw di sini bukan berlari secara fisik menuju ke masjid, melainkan bersegera secara sikap, meneguhkan niat, dan bersungguh-sungguh untuk memenuhi panggilan Allah.
Kehidupan memiliki skala prioritas, sehingga seorang muslim harus mengesampingkan segala urusan dunia terlebih dahulu ketika azan Jumat berkumandang.
Pelajaran dari ayat ini tidak hanya berlaku pada salat Jumat saja, melainkan seorang muslim harus menempatkan ibadah di skala prioritas tertinggi dalam kehidupan.
Jika kesibukan dunia sedang menyita waktu, kita harus bersegera mengingat Allah, karena urusan dunia tidak boleh membuat hati ini terlambat memenuhi panggilan-Nya.
Berlomba Tanpa Menunggu Sempurna
Allah memuji orang-orang yang beriman dalam Surah Al-Mu’minun ayat 61 sebagai seruan yang ketiga: Ulaaa’ika yusaari’uuna fil khairaati wa hum lahaa saabiquun.
“Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.” (QS. Al-Mu’minun: 61)
At-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan karakter orang beriman yang tidak perlu menunggu sempurna untuk berbuat baik, karena kesempatan berbuat baik terkadang tidak datang dua kali.
Ayat ini mencerminkan kompetisi yang sangat sehat. Kata yusari’una selaras dengan Surah Al-Baqarah ayat 148 yang berbunyi fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan), di mana setiap individu saling meningkatkan kualitas serta kuantitas ibadahnya dan saling menginspirasi sesama.
Surah Adz-Dzariyat ayat 50 memuat seruan yang keempat. Allah berfirman: Fa firruuu ilallaah, innii lakum minhu nadziirum mubiin.
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kalimat fafirru ilallah mengandung makna hijrah secara keseluruhan, dari kemaksiatan menuju ketaatan, kesyirikan menuju ketauhidan, serta dari murka Allah menuju rahmat-Nya.
Hakikatnya, seorang hamba akan mencari tempat pelarian ketika sedang mengalami ketakutan, kegelisahan, atau masalah hidup. Tempat pelarian yang paling aman adalah kembali kepada Allah.
Al-Baghawi menerangkan hakikat unik dari psikologi iman; ketika manusia merasa takut terhadap sesuatu, umumnya ia akan menjauhinya.
Namun, rasa takut seorang hamba kepada Allah justru membuatnya ingin semakin dekat dan berlindung kepada-Nya.
Keempat ayat ini sejatinya mengikis kebiasaan menunda sehingga membentuk pendidikan karakter dan spiritual yang utuh.
Perintah pertama bagi orang beriman adalah bersegera membersihkan masa lalunya dengan bertobat.
Selanjutnya, mereka harus bersegera memenuhi panggilan Allah dalam ibadah.
Mereka tidak boleh berhenti pada kesalehan pribadi saja, melainkan harus berlomba memperbanyak amal yang bermanfaat bagi sesama.
Pada akhirnya, tahapan demi tahapan yang telah mereka lalui ini akan membentuk karakter seorang muslim untuk terus menjaga arah hidupnya kembali kepada Allah.***





0 Tanggapan
Empty Comments