Di era media sosial, mencari jawaban atas persoalan agama menjadi semakin mudah. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan ribuan potongan ceramah, kutipan ayat, hingga fatwa yang beredar di berbagai platform.
Kemudahan ini tentu patut kita syukuri. Namun, di balik kemudahan tersebut muncul persoalan lain yang sering luput dari perhatian: semakin mudah memperoleh informasi, semakin sedikit pula orang yang mau berpikir.
Tidak sedikit orang yang merasa cukup setelah menemukan satu pendapat yang sesuai dengan keyakinannya.
Setelah itu, proses berpikir berhenti. Menganggap keliru pada pemikiran yang berbeda, bahkan tidak jarang memberi label sebagai penyimpangan.
Ironisnya, sikap seperti ini justru bertentangan dengan semangat Islam yang berkali-kali mengajak manusia menggunakan akal.
Al-Qur’an berulang kali mengajukan pertanyaan yang menggugah kesadaran manusia, seperti afalā ta’qilūn (apakah kalian tidak berpikir?), afalā tatafakkarūn (apakah kalian tidak berpikir?), dan afalā yatadabbarūn (apakah mereka tidak mentadabburi?).
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa berpikir bukan sekadar kemampuan intelektual, melainkan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim.
Sayangnya, dalam kehidupan sehari-hari, terkadang memahami agama secara berbeda. Sebagian orang menganggap bahwa berpikir kritis merupakan bentuk keraguan terhadap agama.
Ada pula yang menilai bahwa mempertanyakan suatu pendapat sama dengan tidak menghormati ulama.
Akibatnya, ruang dialog semakin sempit, sementara budaya menerima informasi tanpa menguji kebenarannya semakin luas.
Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan kepatuhan yang membutakan akal.
Al-Qur’an justru memerintahkan umatnya melakukan tabayun ketika menerima berita agar tidak mencelakakan orang lain karena informasi yang belum jelas kebenarannya.
Perintah ini menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak boleh berhenti pada sikap “katanya”, melainkan harus berusaha mencari kebenaran dengan penuh kehati-hatian.
Menghormati ulama tentu merupakan bagian dari adab. Akan tetapi, penghormatan tidak identik dengan menganggap setiap pendapat manusia pasti benar.
Para ulama sendiri memiliki perbedaan pendapat dalam banyak persoalan fikih.
Perbedaan itu tidak lahir karena mereka meremehkan agama, melainkan karena mereka sama-sama menggunakan akal, ilmu, dan metode istinbat untuk memahami dalil.
Persoalan muncul ketika seseorang lebih sibuk mencari tokoh yang mendukung pendapatnya daripada mencari kebenaran itu sendiri.
Menilai pandangan atau pemikiran bukan dari kekuatan argumennya, melainkan dari personal yang mengucapkannya.
Akibatnya, fanatisme kepada figur perlahan menggantikan kecintaan kepada ilmu.
Keadaan ini semakin mengkhawatirkan di era algoritma media sosial.
Seseorang akan terus disuguhi konten yang sesuai dengan pandangannya sehingga merasa bahwa hanya pendapatnya yang benar.
Lambat laun, ia hidup di dalam ruang gema (echo chamber) yang terus mengulang keyakinannya sendiri tanpa pernah memberi kesempatan kepada akal untuk menguji atau mengevaluasinya.
Padahal, berpikir kritis bukan berarti gemar membantah.
Berpikir kritis adalah kesediaan untuk memeriksa alasan di balik suatu pendapat, menguji kebenaran sebuah informasi, serta bersedia mengubah pandangan apabila mendapatkan dalil dan argumentasi yang lebih kuat.
Sikap seperti inilah yang justru mencerminkan kerendahan hati seorang pencari ilmu.
Islam adalah agama wahyu, tetapi wahyu tidak pernah meniadakan fungsi akal. Sebaliknya, akal menjadi sarana untuk memahami wahyu secara benar.
Tanpa akal yang sehat, seseorang dapat dengan mudah terjebak dalam fanatisme, hoaks, maupun pemahaman agama yang dangkal.
Oleh karena itu, menjadi Muslim yang taat tidak cukup hanya rajin mendengar ceramah atau menghafal dalil.
Seorang Muslim juga dituntut membangun tradisi berpikir yang jernih, gemar membaca, terbuka terhadap diskusi, dan berani melakukan tabayun sebelum mempercayai suatu informasi.
Sebab, iman yang kokoh bukanlah iman yang takut diuji oleh pertanyaan, melainkan iman yang semakin kuat karena dibangun di atas ilmu, akal, dan petunjuk Allah Swt.***





0 Tanggapan
Empty Comments