Selama ini Surabaya dikenal sebagai kota dengan karakteristik suhu udara yang relatif tinggi. Namun, dalam beberapa waktu terakhir masyarakat mulai merasakan perubahan kondisi cuaca yang cukup signifikan. Suhu udara pada pagi maupun malam hari terasa lebih rendah dibandingkan biasanya sehingga tidak sedikit warga yang memilih mengenakan pakaian lebih hangat ketika beraktivitas di luar rumah.
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh musim kemarau yang disertai tiupan angin timuran dari Benua Australia yang membawa massa udara lebih dingin dan cenderung kering.
Meskipun suasana yang lebih sejuk memberikan kenyamanan bagi sebagian masyarakat, perubahan suhu dan kelembapan udara tetap perlu mendapat perhatian dari aspek kesehatan. Perubahan kondisi lingkungan seperti ini dapat meningkatkan peluang terjadinya berbagai penyakit infeksi, terutama infeksi saluran pernapasan.
Perlu dipahami bahwa suhu udara yang lebih dingin bukan merupakan penyebab langsung timbulnya infeksi. Penyakit infeksi tetap disebabkan oleh paparan mikroorganisme, seperti virus, bakteri, maupun agen infeksi lainnya.
Namun demikian, perubahan lingkungan dapat menciptakan kondisi yang lebih mendukung penyebaran mikroorganisme sekaligus memengaruhi efektivitas sistem pertahanan alami saluran pernapasan.
Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa batuk, pilek, atau demam muncul semata-mata akibat udara dingin. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat karena infeksi hanya terjadi ketika tubuh terpapar mikroorganisme penyebab penyakit. Suhu yang lebih rendah, disertai tingkat kelembapan tertentu, memungkinkan beberapa virus penyebab infeksi saluran pernapasan bertahan lebih lama di lingkungan.
Selain itu, udara yang lebih dingin dapat menyebabkan lapisan mukosa pada saluran napas menjadi lebih kering sehingga kemampuan sistem pertahanan tubuh dalam menyaring serta mengeluarkan mikroorganisme menjadi berkurang.
Risiko penularan semakin meningkat akibat perubahan pola aktivitas masyarakat ketika cuaca lebih dingin. Banyak orang cenderung menghabiskan waktu di dalam ruangan dengan ventilasi yang kurang memadai sehingga proses penularan melalui droplet maupun aerosol menjadi lebih mudah terjadi.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), influenza, COVID-19, hingga pneumonia. Dampaknya akan lebih besar pada kelompok rentan, seperti balita, lanjut usia, ibu hamil, serta individu yang memiliki penyakit penyerta atau gangguan kesehatan kronis.
Di sisi lain, pandemi COVID-19 meninggalkan pembelajaran penting yang patut dipertahankan, yaitu meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan penggunaan alat pelindung diri dalam situasi tertentu. Sebelum pandemi, penggunaan masker umumnya hanya identik dengan tenaga kesehatan atau pasien dengan penyakit tertentu.
Kini, masyarakat telah memahami bahwa masker merupakan salah satu upaya pencegahan yang sederhana, mudah diterapkan, dan efektif dalam mengurangi penularan penyakit infeksi saluran pernapasan.
Oleh karena itu, kebiasaan menggunakan masker sebaiknya tetap dipertahankan meskipun pandemi telah berakhir. Seseorang yang mengalami batuk, pilek, atau demam dianjurkan mengenakan masker untuk mengurangi risiko menularkan penyakit kepada orang lain. Penggunaan masker juga tetap disarankan ketika berada di fasilitas pelayanan kesehatan, menggunakan transportasi umum yang padat, maupun saat merawat anggota keluarga yang sedang sakit. Tindakan sederhana tersebut mencerminkan kepedulian terhadap kesehatan bersama sekaligus menjadi bentuk perlindungan bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi.
Selain penggunaan masker, kebiasaan mencuci tangan yang berkembang pesat selama pandemi juga perlu terus dibudayakan. Tangan merupakan salah satu media utama perpindahan mikroorganisme dari berbagai permukaan ke mata, hidung, maupun mulut.
Oleh sebab itu, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setidaknya selama 20 detik, atau menggunakan hand sanitizer berbasis alkohol apabila tidak tersedia fasilitas cuci tangan, terbukti efektif dalam menurunkan risiko penularan penyakit infeksi, baik yang menyerang saluran pernapasan maupun saluran pencernaan.
Sayangnya, setelah pandemi mulai mereda, kepatuhan masyarakat terhadap kebiasaan ini perlahan mengalami penurunan, padahal praktik tersebut masih menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling sederhana, efektif, dan ekonomis.
Upaya pencegahan penyakit infeksi tidak hanya terbatas pada penggunaan masker dan kebiasaan mencuci tangan. Masyarakat juga perlu menjaga daya tahan tubuh melalui penerapan pola hidup sehat, antara lain dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memenuhi kebutuhan istirahat, berolahraga secara rutin, serta menghindari kebiasaan merokok yang dapat mengganggu fungsi pertahanan saluran pernapasan.
Selain itu, imunisasi tetap memiliki peranan penting, khususnya vaksin influenza, vaksin COVID-19 sesuai rekomendasi yang berlaku, dan vaksin pneumokokus bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penggunaan antibiotik secara rasional. Sebagian besar kasus ISPA disebabkan oleh infeksi virus sehingga tidak memerlukan terapi antibiotik.
Penggunaan antibiotik tanpa indikasi yang jelas justru dapat mempercepat terjadinya resistensi antimikroba, yaitu kondisi ketika bakteri menjadi tidak lagi sensitif terhadap antibiotik sehingga penanganan infeksi pada masa mendatang menjadi lebih sulit.
Oleh sebab itu, penegakan diagnosis oleh tenaga kesehatan sangat diperlukan agar penyebab infeksi dapat diidentifikasi secara tepat dan terapi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien.
Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami demam tinggi yang berlangsung terus-menerus, batuk yang disertai sesak napas, penurunan kesadaran, atau keluhan lain yang tidak menunjukkan perbaikan dalam beberapa hari.
Pemeriksaan sejak dini akan membantu menentukan apakah infeksi disebabkan oleh virus, bakteri, atau mikroorganisme lainnya sehingga pengobatan yang diberikan dapat berlangsung secara tepat, efektif, dan rasional.
Perubahan cuaca yang menyebabkan suhu udara di Surabaya terasa lebih rendah seharusnya tidak menimbulkan kepanikan. Sebaliknya, kondisi ini dapat dijadikan sebagai pengingat akan pentingnya mempertahankan berbagai kebiasaan baik yang telah terbentuk selama pandemi COVID-19.
Penggunaan masker ketika sedang sakit, kebiasaan mencuci tangan, penerapan etika batuk dan bersin, serta kesadaran untuk mencegah penularan penyakit kepada orang lain merupakan bagian dari budaya hidup sehat yang selayaknya terus dipertahankan.
Dengan membiasakan perilaku tersebut, masyarakat tidak hanya terlindungi dari COVID-19, tetapi juga dari berbagai penyakit infeksi lain yang hingga kini masih menjadi penyebab tingginya angka kesakitan di Indonesia.
Pengalaman selama pandemi menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit infeksi tidak hanya ditentukan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam menerapkan langkah-langkah pencegahan.
Oleh karena itu, di tengah perubahan cuaca yang membuat Surabaya terasa lebih sejuk, mempertahankan budaya hidup bersih dan sehat merupakan investasi jangka panjang yang penting untuk melindungi kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments