Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memento Mori: Cara Pandang tentang Kehidupan dan Kematian

Iklan Landscape Smamda
Memento Mori: Cara Pandang tentang Kehidupan dan Kematian
Oleh : Moch. Alfian Na'im Mahasiswa STIT Muhammadiyah Bojonegoro

Di era digital saat ini, kita terbiasa merencanakan masa depan: mengejar karier, membangun citra, dan mengumpulkan berbagai pencapaian. Namun, ada satu kepastian yang justru sering kita hindari untuk dibicarakan, yaitu kematian.

Seolah-olah dengan mengabaikannya, kematian akan datang lebih lambat.

‎‎Dalam tradisi filsafat terdapat sebuah frasa Latin, memento mori, yang berarti ingatlah bahwa engkau akan mati.

Sekilas, ungkapan ini terdengar suram. Padahal, maknanya bukanlah ajakan untuk hidup dalam ketakutan atau pesimisme.

Sebaliknya, memento mori mengajak manusia menyadari bahwa hidup memiliki batas, sehingga setiap waktu yang dimiliki layak digunakan sebaik-baiknya.

‎Di tengah budaya yang mengukur keberhasilan melalui angka jumlah pengikut di media sosial, besarnya penghasilan, atau tingginya jabatan, memento mori mengajak kita melihat ukuran yang berbeda.

Semua pencapaian dunia memiliki batas. Ketika seseorang meninggal, gelar, kekayaan, dan popularitas tidak lagi menjadi pembeda.

Yang tetap bernilai adalah amal saleh, kejujuran, dan manfaat yang pernah diberikan kepada sesama.

‎Kesadaran akan kematian membuat seseorang lebih bijaksana dalam mengambil keputusan, lebih menghargai waktu, tidak mudah terjebak dalam ambisi yang berlebihan, serta menyadari bahwa segala yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah Swt.

Dengan demikian, orientasi hidup tidak lagi semata-mata mengejar pengakuan manusia, tetapi berusaha meraih rida-Nya.

‎‎Mengingat kematian juga membentuk kualitas hubungan seorang hamba dengan Tuhannya.

Orang yang sadar bahwa hidupnya terbatas akan lebih berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatannya.

Ia menyadari bahwa setiap kesempatan untuk salat, bersedekah, menolong orang lain, atau meminta maaf mungkin merupakan kesempatan terakhir.

Kesadaran inilah yang melahirkan keikhlasan dalam beramal, bukan karena ingin dipuji manusia, tetapi karena berharap diterima oleh Allah Swt.

Menariknya, jauh sebelum istilah memento mori dikenal dalam tradisi Barat, Islam telah lebih dahulu mengajarkan pentingnya mengingat kematian sebagai sarana muhasabah dan penyucian jiwa.

Allah Swt. berfirman, “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185).

Rasulullah saw. juga bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi).

‎Ayat dan hadis tersebut tidak mengajarkan umat Islam untuk takut kepada kematian, melainkan untuk mempersiapkan diri sebelum kematian itu datang.

Mengingat kematian bukanlah tentang menghitung berapa lama usia yang tersisa, tetapi tentang bagaimana setiap detik kehidupan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.

‎Kesadaran seperti ini juga tampak dalam kehidupan para sahabat Nabi.

SMPM 5 Pucang SBY

Diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan sering menangis ketika berdiri di dekat kuburan hingga janggutnya basah oleh air mata.

Ketika ditanya mengapa beliau begitu menangis, padahal saat mendengar gambaran surga dan neraka beliau tidak menangis seperti itu, Utsman menjawab bahwa kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat.

Jika seseorang selamat di sana, maka perjalanan setelahnya akan lebih mudah. Namun, jika tidak, maka apa yang datang setelahnya akan lebih berat.

Kisah ini menunjukkan bahwa mengingat kematian bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan hati yang sadar akan besarnya tanggung jawab di hadapan Allah Swt. ‎

‎Barangkali, persoalan terbesar manusia bukanlah karena ia tidak mengetahui bahwa dirinya akan mati.

Semua orang mengetahui hal itu. Persoalannya adalah manusia sering hidup seolah-olah kematian masih sangat jauh.

Perasaan memiliki waktu yang panjang membuat seseorang mudah menunda kebaikan, menunda meminta maaf, bahkan menunda bertobat.

Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kesempatan terakhir itu datang.

‎Seseorang yang selalu mengingat kematian tidak akan sibuk bertanya, “Berapa lama lagi aku akan hidup?”

Sebaliknya, ia akan bertanya, “Sudahkah aku mengisi hidup ini dengan amal yang bermanfaat?”

Pertanyaan inilah yang akan mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Fokusnya bukan lagi mengejar pujian, melainkan memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.‎

‎Pada akhirnya, kesadaran akan kematian mengubah cara kita mengukur keberhasilan.

Keberhasilan tidak lagi dinilai dari seberapa banyak harta, jabatan, atau popularitas yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang telah kita tinggalkan.

Sebab, ketika kehidupan dunia berakhir, yang akan menyertai kita bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang telah kita lakukan.

‎Kita memang tidak pernah tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Namun, kita selalu memiliki pilihan tentang bagaimana mengisinya.

memento mori bukanlah ajakan untuk takut kepada kematian, melainkan ajakan untuk tidak menyia-nyiakan kehidupan.

Sebab, hidup yang baik bukan diukur dari panjangnya usia, melainkan dari banyaknya manfaat yang kita tinggalkan ketika Allah Swt memanggil kita pulang.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 15/07/2026 06:32
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu