Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Muhammadiyah: Antara Kader Hafiz dan Kader Ideologis

Iklan Landscape Smamda
Muhammadiyah: Antara Kader Hafiz dan Kader Ideologis
Oleh : Ahmad Muwaffiqul Choir Kader IMM Pondok Shabran, Surakarta

Eksistensi Muhammadiyah sejak zaman Kiai Haji Ahmad Dahlan hingga saat ini masih bertahan kokoh. Keberadaan organisasi yang tetap utuh ini disokong oleh kuatnya sistem kaderisasi di dalamnya.

Seiring perkembangan zaman, terdapat corak dan karakter kader di Muhammadiyah yang sangat beragam. Ragam tersebut meliputi kader biologis, kader ideologis, kader Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dan kader naturalisasi.

Dengan sependek perjalanan pendidikan saya saat ini, munculah sebutan kader hafiz. Sebutan ini lahir dari pengalaman penulis saat berada di lingkungan pondok tahfiz kala itu.

Sempat suatu hari, penulis mendengarkan ungkapan spektakuler, ”Muhammadiyah ini kurang akan kader penghafal Qur’an.” Kalimat yang terdengar sederhana itu justru penuh dengan pertanyaan reflektif.

Apakah benar Muhammadiyah kurang kader penghafal Al-Qur’an? Kok bisa organisasi Islam terbesar se-Indonesia ini kekurangan kader penghafal? Ungkapan yang memunculkan pertanyaan tadi akhirnya memicu semangat penulis untuk menjadi seorang penghafal Qur’an.

Namun, arah pandang menjadi berbalik ketika saya masuk ke pendidikan Muhammadiyah yang notabene merupakan ”Pondok Perkaderan”. Di sana, muncul perspektif baru yang saya dapatkan lewat forum diskusi non-formal di meja perkopian maupun diskusi formal organisasi otonom (ortom).

”Muhammadiyah ini terus butuh kader yang kuat ideologinya,” begitulah ucapan yang sering saya dengar di forum-forum diskusi.

Dua pengalaman pendidikan yang saling bertolak belakang ini memicu saya untuk mengulasnya lebih dalam.

Bagaimana seharusnya Muhammadiyah memandang dikotomi kaderisasi yang sedang terjadi ini? Masalah tersebut harus segera diselesaikan, sebab jika dikotomi terus diperpanjang, Muhammadiyah akan mengalami dekadensi pergerakan yang mengancam esensi aslinya.

Memaknai Kader Hafiz

Penghafal Al-Qur’an atau yang disebut dengan hafiz Qur’an di Indonesia dipahami oleh mayoritas masyarakat sekadar sebagai orang yang menghafal ayat-ayat saja. Pemahaman yang dangkal ini menyebabkan pergeseran orientasi menghafal Al-Qur’an yang sebenarnya.

Banyak orang tua yang menuntut anak-anaknya untuk memperbanyak kuantitas hafalan Al-Qur’an. Hal itu dikarenakan adanya paradigma bahwa indikator penghafal Al-Qur’an yang berhasil adalah yang memiliki jumlah hafalan banyak.

Begitu juga dengan sekolah Muhammadiyah yang mulai menerapkan program tahfiz. Pada program tersebut, peserta didik ditempa untuk memperbanyak kuantitas hafalan tanpa adanya proses pemaknaan.

Sistem seperti ini biasanya dibalut dengan tawaran-tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi pendidikan. ”Hafalin 5 Juz dulu, barangkali nanti bisa jadi alternatif ngambil beasiswa untuk kuliah,” begitulah tawaran-tawaran yang menggiurkan bagi pelajar.

Tidak salah menjadikan tawaran beasiswa sebagai pemicu semangat anak untuk menghafal Al-Qur’an. Namun, hal yang salah adalah ketika memperbanyak hafalan juz Al-Qur’an tanpa adanya pemaknaan pada setiap ayat suci Tuhan tersebut.

Pemahaman komersial seperti ini menyebabkan pergeseran esensi menghafal Al-Qur’an. Menghafal Al-Qur’an yang awalnya dijadikan sebagai antisipasi menjaga kemurnian wahyu Tuhan kini bergeser menjadi ajang kompetisi kuantitas hafalan.

Lebih lanjut, orang dengan jumlah hafalan banyak akan cenderung sibuk murojaah demi menjaga hafalannya semata. Akibatnya, kegiatan setiap hari dipenuhi aktivitas mensalehkan diri sendiri dan cenderung meninggalkan keterlibatan sosial.

Namun, ada juga orang yang mengejar hafalan sampai khatam lalu membiarkannya sirna begitu saja demi mendapat validasi publik. Maka, celakalah orang-orang yang memiliki niat seperti itu.

Seorang hafiz Qur’an yang sebenarnya adalah orang yang menghafalkan Al-Qur’an disertai pemahaman makna di setiap ayatnya. Mereka menjadikan hafalan sebagai pelindung agar tidak terjerumus ke kawah kemaksiatan. Ayat-ayat tersebut juga menjadi landasan dalam beramal, sekaligus fondasi untuk membentuk pribadi yang responsif dengan kondisi sosial di sekitarnya.

Kader Ideologis Muhammadiyah

Ideologi merupakan fondasi utama dalam suatu organisasi. Tanpa adanya ideologi, organisasi akan bergerak tanpa arah dan kehilangan makna.

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai landasan utama ideologinya. Secara formal, Muhammadiyah menyatakan ideologinya dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM), Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH), serta Khittah Muhammadiyah.

SMPM 5 Pucang SBY

Kader ideologis dalam Muhammadiyah sering didefinisikan sebagai kader yang paham dengan putusan dan rumusan organisasi. Mereka juga kerap dikenal sebagai sosok yang aktif mengikuti perkaderan di Persyarikatan dan ortom-ortom di dalamnya.

Kader-kader ideologis ini gemar berdiskusi, membaca, dan menjadikan putusan Muhammadiyah sebagai landasan utama dalam beramal. Bagi mereka, sejarah panjang berdirinya Muhammadiyah dan karakter KH Ahmad Dahlan merupakan pemahaman fundamental untuk menggerakkan organisasi.

Penulis menemui bahwa kader ideologis menjadikan kebiasaan KH Ahmad Dahlan sebagai nilai awal yang diturunkan kepada kader-kader yang mereka didik. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa terkadang kader ideologis masih mengesampingkan ritualitas peribadahan.

Kesibukan berdiskusi, menyelami perkaderan, dan berkutat dengan urusan organisasi sering melalaikan mereka pada kewajiban menyembah Tuhan yang seharusnya diprioritaskan. Ironi sekali jika seorang kader ideologis masih mengesampingkan perihal peribadatan utama tersebut.

Seharusnya, dengan paham ideologi Muhammadiyah yang berlandaskan Al-Qur’an dan sunah, kader ideologis wajib menyeimbangkan antara kebutuhan intelektualitas dan spiritualitas.

Keduanya tidak boleh jomplang, karena dengan ideologi yang kuat pada diri kadernya, Muhammadiyah akan selalu bergerak lurus demi mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Menurut saya, sekolah-sekolah di Muhammadiyah saat ini lebih menekankan pada proyek mencetak kader penghafal Al-Qur’an secara kuantitas.

Pasalnya, banyak sekolah atau pesantren Muhammadiyah yang memiliki program khusus tahfiz dengan target hafalan yang beraneka ragam.

Sampai saat ini, program tahfiz di sekolah dan pesantren Muhammadiyah masih sebatas menghafal tanpa ada penafsiran serta pemahaman komprehensif.

Program tersebut sebenarnya akan sangat bagus jika dibarengi dengan pemahaman mendalam tanpa sekadar mengejar kuantitas target.

Saat ini, penguatan ideologi di sekolah Muhammadiyah dirasa cukup disampaikan di waktu pembelajaran kelas saja. Padahal, institusi justru perlu memberikan waktu khusus dalam proses penguatan ideologi bagi pelajar atau kader Muhammadiyah.

Apabila ideologi itu tidak tertanam kuat pada diri kader, Muhammadiyah lambat laun akan kehilangan arah dan redup secara perlahan.

Integrasi Kader Hafiz dan Kader Ideologis

Fenomena ini sebenarnya merupakan hal yang wajar bagi organisasi yang ingin terus berkembang di tengah zaman.

Adanya cita-cita mencetak kader hafiz di Muhammadiyah berfungsi sebagai antisipasi agar tidak kehilangan penjaga ayat suci Tuhan yang kian tertelan dinamika modernisasi.

Di sisi lain, cita-cita merawat kader ideologis bertindak sebagai tonggak utama arah gerak persyarikatan Muhammadiyah. Oleh karena itu, sekolah sebagai tempat pembentukan karakter siswa wajib mengintegrasikan dua kebutuhan tersebut.

Sekolah harus menyelenggarakan program tahfiz yang autentik dan bukan sekadar mengejar kuantitas hafalan agar melahirkan kader yang hafal sekaligus paham isi Al-Qur’an.

Di saat yang sama, pihak sekolah perlu menguatkan ideologi siswa lewat program khusus di luar jam formal pembelajaran.

Dengan mengintegrasikan keduanya, Muhammadiyah akan memiliki generasi kader yang digdaya. Mereka akan tumbuh menjadi sosok yang matang secara ideologi sekaligus kuat secara spiritualitas di tengah zaman yang menggerogoti moral anak muda.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 04/08/2026 19:31
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu