Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menatap Rahasia Penciptaan Manusia

Iklan Landscape Smamda
Menatap Rahasia Penciptaan Manusia
Oleh : Junaedi Anwar Susanto Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya

Tuhan berfirman kepada malaikat untuk bersujud setelah Dia menyempurnakan kejadian fisik manusia pertama dan meniupkan roh ciptaan-Nya.

Arti surah tersebut menjelaskan secara benderang bahwa proses penciptaan manusia pertama berasal dari tanah yang mengalami pembentukan.

Tuhan kemudian menyempurnakan fisik tersebut dengan cara meniupkan roh, lalu memerintahkan para malaikat untuk bersujud sebagai penghormatan.

Di sisi lain, Surah Al-Mu’minun ayat 12-14 menguraikan bahwa Allah menciptakan manusia dari sari pati yang berasal dari tanah.

Tuhan kemudian menjadikan sari pati tersebut sebagai air mani (nuthfah) yang menetap di dalam tempat yang kukuh (rahim).

Selanjutnya, Allah mengubah air mani itu menjadi sesuatu yang menggantung (‘alaqah) atau segumpal darah yang melekat kuat di rahim.

Tuhan memproses sesuatu yang menggantung itu menjadi segumpal daging (mudghah) sebelum mengubahnya lagi menjadi struktur tulang belulang (‘izham).

Setelah itu, Allah membungkus tulang belulang tersebut dengan daging atau jaringan otot (kasauna al-‘izham lahma) hingga membentuk struktur kokoh.

Pada fase akhir (khalqan akhar), Tuhan menjadikannya makhluk berbentuk lain yang sempurna, lengkap dengan fungsi akal dan roh yang hidup.

Rangkaian kronologis dalam teks suci ini mengusung hikmah spiritual yang sangat mendalam bagi setiap manusia yang mau merenung.

Kajian Al-Qur’an ini mengetuk kesadaran kita tentang asal-usul diri yang berasal dari tanah agar manusia menghindari sifat sombong.

Sejalan dengan wahyu, sains modern—khususnya cabang ilmu embriologi—menjelaskan proses penciptaan manusia ini secara empiris, biologis, dan terukur.

Kerja sains melacak awal mula kehidupan dari fase fertilisasi, yaitu ketika sel sperma membuahi sel telur untuk membentuk zigot.

Janin kemudian memasuki fase germinal atau embrio, di mana zigot membelah diri dan menempel erat pada dinding rahim ibunya.

Fase ini juga mengawali pembentukan struktur dasar seluruh organ tubuh manusia sebelum beralih ke tahapan yang lebih kompleks.

Proses biologis tersebut berlanjut ke tahap organogenesis, yaitu fase krusial pembentukan sistem organ vital seperti saraf, jantung, dan rangka.

Akhirnya, janin memasuki fase fetus yang fokus pada perkembangan serta penyempurnaan organ hingga bayi siap lahir ke dunia.

Jika kita menyejajarkan kedua perspektif ini, kajian Al-Qur’an dan sains sama sekali tidak saling bertentangan di dalam penerapannya.

SMPM 5 Pucang SBY

Kedua disiplin ini justru saling melengkapi, di mana penjelasan embriologi dalam Al-Qur’an menjadi bukti kemukjizatan ilmiah (I’jaz ‘Ilmi).

Umat manusia kemudian mengimplementasikan isyarat Al-Qur’an tersebut ke dalam dunia sains melalui ilmu pengetahuan dan teknologi modern abad ini.

Kedua wilayah ini juga memiliki hubungan yang sangat kokoh yang terikat oleh titik temu, batas, dan peran yang jelas.

Secara titik temu, Al-Qur’an menyediakan framework (bingkai) kebenaran makro, sedangkan sains merinci mekanisme mikro dalam proses biologis tersebut.

Sedangkan secara batas, Al-Qur’an menjawab pertanyaan filosofis “dari mana, bagaimana, dan untuk apa”, sedangkan sains menjawab pertanyaan mekanis tentang anatomi tubuh.

Dan secara peran, Al-Qur’an memberikan pedoman nilai yang absolut, sedangkan sains terus berkembang dan bersifat relatif terhadap pembaruan temuan ilmiah.

Oleh karena itu, kita harus menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi moral, kompas etika sains, sekaligus motor penggerak motivasi spiritual.

Kedua kutub ini mampu membimbing akal manusia agar menggunakan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan, melarang kerusakan, dan bernilai ibadah.

Islam sendiri mewajibkan umatnya untuk membangun tiga sikap ilmiah yang proporsional di tengah derasnya arus kemajuan zaman:

Pertama, Tidak Anti-Sains: Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan mendorong manusia mengoptimalkan akal untuk melakukan eksperimen serta eksplorasi alam.

Langkah observasi dan penjelajahan alam semesta ini menjadi kunci utama yang akan mendorong kemajuan peradaban manusia ke tingkat tertinggi.

Kedua, Tidak Terjebak Pseudosains: Kita tidak boleh mencampuradukkan teks suci agama dengan teori ilmiah yang belum memiliki metodologi sah.

Sikap memaksakan bukti yang belum valid (cocokologi) harus kita hindari karena ilmu pengetahuan harus tegak di atas fakta yang teruji.

Ketiga, Tidak Memaksakan Ayat Menjadi Teori Ilmiah: Kita harus ingat bahwa Al-Qur’an adalah buku pedoman hidup, bukan buku teks sains.

Memaksakan penafsiran ayat agar selalu cocok dengan teori sains yang bersifat sementara justru berisiko mengurangi keagungan teks agama itu sendiri.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 15/07/2026 07:21
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu