Pernahkah kita tanpa sadar menaruh ponsel, buku catatan, kunci kendaraan, atau bahkan pakaian di atas mushaf Al-Qur’an? Kebiasaan itu mungkin terlihat sepele. Padahal, Islam mengajarkan adab yang sangat tinggi dalam memperlakukan Kalamullah.
Mushaf Al-Qur’an bukan sekadar buku yang berisi tulisan. Ia adalah wadah firman Allah yang menjadi petunjuk hidup manusia. Karena itu, setiap muslim diperintahkan untuk menghormati dan memuliakannya.
Bayangkan ketika kita menerima surat penting dari orang yang sangat kita hormati. Tentu kita tidak akan meletakkannya sembarangan, apalagi menindihnya dengan barang-barang lain. Jika kepada manusia saja kita mampu menunjukkan penghormatan seperti itu, maka sudah semestinya penghormatan kepada Kalam Allah jauh lebih besar.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)
Salah satu bentuk mengagungkan syiar Allah adalah memuliakan mushaf Al-Qur’an, termasuk dengan menempatkannya di posisi yang layak dan tidak menjadikannya alas bagi benda-benda lain.
1. Bolehkah Mushaf Ditumpuk dengan Mushaf?
Para ulama membolehkan meletakkan satu mushaf di atas mushaf yang lain.
Al-Haitami berkata,
“Boleh meletakkan mushaf di atas mushaf.”
(Al-Fatawa al-Haditsiyah, hlm. 164).
Namun beliau juga menjelaskan bahwa sebaiknya tidak meletakkan apa pun di atas mushaf selain mushaf itu sendiri, baik berupa kitab, pakaian, maupun benda lainnya. Bahkan Al-Halimi memasukkan kitab-kitab hadis dalam anjuran tersebut sebagai bentuk penghormatan kepada Al-Qur’an.
2. Meletakkan Benda Lain di Atas Mushaf
Mayoritas ulama memandang bahwa meletakkan benda selain mushaf di atas mushaf tidak pantas dilakukan karena bertentangan dengan adab memuliakan Al-Qur’an.
Hakim At-Tirmidzi mengatakan,
“Termasuk bentuk penghormatan kepada mushaf adalah tidak membiarkannya berserakan dan tidak meletakkan kitab apa pun di atasnya, sehingga mushaf Al-Qur’an selalu berada di atas semua kitab.” (Nawadir al-Ushul, 3/254).
Keterangan senada disampaikan Imam Al-Baihaqi,
“Jangan meletakkan kitab lain, pakaian, ataupun benda apa pun di atas mushaf. Kecuali apabila yang ditumpuk adalah dua mushaf.” (Syu’abul Iman, 3/329).
Adab yang Sering Terlupakan
Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kita sering menjadikan mushaf sebagai tempat menaruh barang. Misalnya saat belajar, sebuah pulpen, buku tulis, atau ponsel diletakkan begitu saja di atas mushaf.
Ada pula yang menaruh dompet atau kunci kendaraan di atasnya karena merasa hanya sebentar.
Walaupun tidak ada niat merendahkan Al-Qur’an, kebiasaan seperti ini sebaiknya dihindari. Seorang muslim diajarkan untuk memiliki kepekaan adab, yaitu menjaga penghormatan kepada sesuatu yang dimuliakan Allah, bahkan dalam perkara-perkara kecil.
Sebaliknya, biasakan meletakkan mushaf di tempat yang bersih, rapi, dan lebih tinggi dari barang-barang lain.
Setelah selesai membaca, simpanlah dengan baik. Sikap sederhana ini menjadi cerminan rasa cinta dan hormat kepada Kalamullah.
Menghormati mushaf bukan berarti menyembah benda fisiknya, melainkan menghormati firman Allah yang terkandung di dalamnya.
Adab lahiriah ini juga diharapkan melahirkan adab batin, yaitu semakin rajin membaca, mentadabburi, menghafal, dan mengamalkan isi Al-Qur’an.
Karena pada hakikatnya, penghormatan tertinggi kepada Al-Qur’an bukan hanya dengan menempatkannya di rak paling atas, tetapi dengan menempatkan ajarannya di posisi paling tinggi dalam kehidupan kita. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments