Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Berpikir dalam Islam: Modal Kecerdasan dan Jalan Kebenaran

Iklan Landscape Smamda
Berpikir dalam Islam: Modal Kecerdasan dan Jalan Kebenaran
Moh.Helman Sueb. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Moh.Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat-Lamongan
pwmu.co -

Islam mengajarkan umatnya untuk berpikir sebagai jalan menemukan kebenaran. Dalam ilmu mantiq atau logika disebutkan “Al-insânu hayawânun nâtiqun”, yang berarti manusia adalah makhluk yang berpikir.

Kemampuan berpikir mendorong seseorang untuk bertanya, dan dari pertanyaan itulah kebenaran bisa ditemukan. Karena itu, eksistensi manusia terletak pada pikirannya yang terus bekerja. Ketika manusia tidak memanfaatkan akalnya, ia mudah terjebak dalam penyimpangan yang menyesatkan.

Dalam al Quran, banyak ayat yang memotivasi manusia untuk berpikir. Di antaranya sebagai berikut.

Pertama, Al-An’am: 32

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain permainan dan senda gurau. Dan sungguh, kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Kedua, Al-An’am: 50

“Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepadamu bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, tidak pula aku mengetahui yang gaib, dan aku bukan seorang malaikat. Aku hanya mengikuti wahyu yang diturunkan kepadaku. Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak memikirkannya?”

Ketiga, Al-Baqarah: 266

“Apakah ada di antara kamu yang ingin memiliki kebun kurma dan anggur yang dialiri sungai-sungai, lalu ia telah tua dan memiliki keturunan kecil, kemudian kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api hingga terbakar? Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya agar kamu memikirkannya.”

Ketiga ayat tersebut mendorong orang beriman untuk memperhatikan kejadian-kejadian yang mereka saksikan, sekaligus mengajak mereka melakukan penelitian terhadap fenomena kehidupan. Ini menunjukkan bahwa Islam menginginkan pemeluknya menjadi pribadi yang cerdas, kritis, dan senantiasa menggunakan akal.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Kita bisa membandingkan hal itu dengan masyarakat yang menolak ajaran agama—masyarakat sosialis yang meyakini bahwa kehidupan hanyalah soal materi dan tidak ada Tuhan di alam semesta. Cara berpikir seperti ini sering kali menjauhkan manusia dari nilai-nilai luhur.

Dalam sejarah pun, masyarakat tanpa agama cenderung menunjukkan kekerdilan: tunduk kepada penguasa diktator, hidup dalam kekakuan, serta melahirkan lingkungan yang penuh kedengkian dan penyesatan (Sayyid Sabiq, Islamuna).

Bagi orang beriman, berpikir adalah kewajiban. Melalui akal, kita dapat mengambil hikmah dari ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berpikir positif membuat seorang mukmin lebih bersemangat dalam berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ia menumbuhkan sifat-sifat terpuji, membentuk perilaku yang bijaksana, serta membuat hidup menjadi lebih bermakna. Berpikir juga mendidik diri untuk berhati-hati dalam bersikap, berkata, dan bertindak, sehingga kita terhindar dari kesalahan yang pernah terjadi di masa lalu. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu