Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Buka Musykerwil III PWNA Jatim di Ponorogo, Ketua PWM Tekankan Empat Etos Kerja Kader Muhammadiyah

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Buka Musykerwil III PWNA Jatim di Ponorogo, Ketua PWM Tekankan Empat Etos Kerja Kader Muhammadiyah
Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M. dalam memberikan sambutan sekaligus membuka agenda Musykerwil III Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur (Foto: Models Media Center)
pwmu.co -

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, menekankan empat etos kerja yang harus tertanam dalam diri setiap kader Muhammadiyah. Pesan tersebut disampaikan saat membuka Musyawarah Kerja Wilayah (Musykerwil) III Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur di Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo), Jumat (16/10/2026).

Di hadapan peserta Musykerwil, Sukadiono mengingatkan bahwa kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada program kerja yang disusun, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia dan etos kerja para kader yang menjalankannya.

Ia mengawali sambutan dengan mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan Ponorogo. Menurutnya, Ponorogo memiliki kenangan tersendiri karena menjadi tempat dirinya terpilih sebagai Ketua PWM Jawa Timur.

“Ponorogo memiliki kenangan tersendiri bagi saya karena di sinilah saya terpilih menjadi Ketua PWM Jawa Timur. Selamat Musyawarah Wilayah PWNA Jawa Timur ke-13 dan Musykerwil ke-3. Semoga kegiatan ini menghasilkan keputusan terbaik bagi kemajuan organisasi,” tuturnya.

Sukadiono juga menyampaikan apresiasi kepada Umpo atas perkembangan institusi yang dinilainya luar biasa. Ia mengaku bangga karena Umpo kini telah meraih akreditasi Unggul.

Namun, menurutnya, masih ada cita-cita besar yang perlu diwujudkan, yakni pendirian Fakultas Kedokteran. Ia berharap Umpo dapat segera merealisasikan rencana tersebut.

“Tidak sempurna rasanya jika Umpo belum memiliki Fakultas Kedokteran. Harapan saya, jangan terlalu lama. Kalau bisa, tahun akademik 2027/2028 sudah dapat membuka pendaftaran mahasiswa baru Fakultas Kedokteran,” ungkapnya.

Empat Etos Kerja Kader

Prof. Sukadiono menjelaskan empat etos kerja yang perlu diinternalisasi oleh setiap kader Nasyiatul Aisyiyah maupun kader Muhammadiyah secara umum. Empat etos tersebut adalah guyub dan rukun, tertib dan taat aturan, berdedikasi tinggi, serta suka berbagi.

Pertama, guyub dan rukun.

Ia menegaskan bahwa kekompakan menjadi modal penting dalam menjalankan roda organisasi. Ketika seluruh anggota memiliki semangat kebersamaan, pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, program sebaik apa pun akan sulit terlaksana apabila para penggeraknya tidak mampu membangun kekompakan.

Prof. Sukadiono mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaff ayat 4 yang menggambarkan kecintaan Allah kepada orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.

“Jihad itu kalau kita punya tim yang kuat, tantangan seberat apa pun akan bisa dihadapi. Karena itu, guyub dan rukun menjadi hal yang sangat penting dalam organisasi,” tegasnya.

Kedua, tertib dan taat aturan.

Menurut Prof. Sukadiono, salah satu ciri orang yang terdidik dengan baik (well educated) adalah kemampuannya menghadapi persoalan dengan mencari solusi, bukan justru menciptakan masalah baru.

Ia menguraikan sejumlah kebiasaan yang perlu dibangun kader, mulai dari disiplin dan tepat waktu, efisien dalam menggunakan waktu maupun anggaran, hingga sigap menyelesaikan persoalan tanpa bertele-tele. Selain itu, kader harus memiliki ketaatan terhadap aturan organisasi. Setiap regulasi yang telah ditetapkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah harus dipahami dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

  • “Kalau ada masalah, segera selesaikan. Jangan bertele-tele. Kemudian, apa pun regulasi yang sudah ditetapkan Muhammadiyah dari pusat, kita harus memiliki sikap sami’na wa atha’na, mendengar dan menaati,” pesannya.

Ketiga, berdedikasi tinggi.

Prof. Sukadiono mengingatkan bahwa pengabdian seorang kader tidak boleh dibatasi oleh kepentingan pribadi. Dedikasi harus diwujudkan melalui kesediaan memberikan waktu, pikiran, tenaga, dan kemampuan terbaik demi kemajuan organisasi.

Ia juga mendorong kader Muhammadiyah dan Aisyiyah agar tidak hanya berkiprah di lingkungan internal Persyarikatan, tetapi berani mengambil peran di tingkat yang lebih luas, termasuk dalam lingkup nasional.

“Kader-kader kita jangan hanya menjadi jago kendang. Jangan hanya hebat di internal Muhammadiyah dan Aisyiyah, tetapi juga harus mampu berada di level nasional. Kalau ada posisi-posisi strategis, kader Muhammadiyah harus bisa mengisinya agar dapat ikut mewarnai,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kader yang memperoleh kesempatan menempati posisi strategis harus mampu menjaga marwah Muhammadiyah dan melanjutkan keteladanan para senior yang telah berkiprah di berbagai bidang.

Keempat, suka berbagi.

Etos kerja terakhir yang disampaikan Prof. Sukadiono adalah kemurahan hati atau kesediaan untuk berbagi. Menurutnya, kader harus memiliki sikap loman, tidak pelit dalam memberikan kontribusi bagi organisasi maupun membantu sesama.

Ia mengutip kandungan Al-Qur’an surah Al-Lail ayat 5–7 tentang orang yang memberikan hartanya di jalan Allah, bertakwa, dan membenarkan adanya pahala terbaik. Allah menjanjikan kemudahan baginya menuju jalan kemudahan. Sebaliknya, sikap kikir dan merasa cukup dengan diri sendiri dapat mengantarkan seseorang pada jalan kesukaran.

“Apa yang kita berikan, insyaallah akan kembali kepada diri kita sendiri. Allah menjanjikan akan memudahkan urusan orang yang mau memberi dan bertakwa. Karena itu, ketika mendapatkan amanah, jalankan dengan serius. Jangan setengah-setengah,” pesannya.

Musykerwil sebagai Penguat Gerakan

Melalui empat etos kerja tersebut, Prof. Sukadiono berharap Musykerwil III PWNA Jawa Timur tidak berhenti pada agenda konsolidasi dan penyusunan program kerja, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kualitas kader dan budaya organisasi.

Guyub dan rukun menjadi fondasi kebersamaan, tertib dan taat aturan membangun kedisiplinan, dedikasi tinggi menggerakkan pengabdian, sedangkan semangat berbagi menumbuhkan kepedulian dan kebermanfaatan.

Dengan menginternalisasi keempat nilai tersebut, kader Nasyiatul Aisyiyah diharapkan semakin siap menghadapi tantangan zaman, memperluas kontribusi di tengah masyarakat, serta mengambil peran strategis dalam membangun bangsa melalui gerakan perempuan muda Muhammadiyah. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 16/10/2026 17:58
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu