Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buya Anwar Abbas di Kajian Pencerah: Muhammadiyah Harus Cetak 20 Persen Entrepreneur dan Kuasai Kapital

Iklan Landscape Smamda
Buya Anwar Abbas di Kajian Pencerah: Muhammadiyah Harus Cetak 20 Persen Entrepreneur dan Kuasai Kapital
pwmu.co -
Buya Anwar Abbas saat mengisi Kajian Ahad Pagi (Syahroni Nur Wachid/PWMU.CO)

PWMU.CO – Majelis Tabligh PDM Kota Surabaya kembali menggelar Kajian Ahad Pagi Pencerah pada Ahad (22/6/2025), bertempat di Masjid Al Badar PCM Gayungan. Hadir sebagai narasumber utama, Anwar Abbas, yang akrab disapa Buya, salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.

Dengan mengangkat tema “Spirit Al-Ma’un: Pemberdayaan UMKM Berbasis Komunitas”, Buya Anwar menyoroti pentingnya Muhammadiyah menumbuhkan kembali semangat kewirausahaan sebagaimana dicontohkan para pendirinya.

“Kalau pengusaha di Muhammadiyah sama sulitnya dengan mencari uban di kepala anak kuda,” ujarnya, menyentil dominasi profesi pegawai negeri, guru, dan karyawan dalam struktur Muhammadiyah saat ini.

Buya menegaskan bahwa masa depan akan dikuasai oleh mereka yang memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, dan modal (kapital). Ia mengutip hadis, “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah melalui perdagangan (tijarah),” sebagai penguatan bahwa bisnis adalah jalan utama menuju kemandirian ekonomi.

Lebih lanjut, ia memberikan auto kritik terhadap sistem pendidikan Muhammadiyah yang dinilai masih berorientasi pada pencetak pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja. “Sekolah Muhammadiyah harus berpikir out of the box. Harus ada kurikulum kewirausahaan yang menargetkan 20 persen lulusannya menjadi entrepreneur,” tegasnya.

Buya mencontohkan model pendidikan berbasis entrepreneur mentality seperti yang diterapkan di Universitas Ciputra dan oleh Dr. Syafi’i Antonio, yang mendorong mahasiswa memiliki bisnis sejak awal perkuliahan. “Jangan sampai mahasiswa semester lima belum punya business plan, apalagi belum break even point (BEP),” katanya.

Dalam pengamatannya, kesuksesan komunitas Tionghoa bukan karena faktor keturunan, melainkan mentalitas wirausaha yang mereka bangun. Mereka terbiasa hidup hemat, menabung hingga 60 persen dari penghasilan, menghindari utang berbunga, dan menjalani hidup sederhana.

“Jangan benci orang kaya, apalagi yang sukses dengan cara etis. Kita harus hijrah secara mentalitas, dari employee mentality menjadi entrepreneur mentality,” serunya.

Buya Anwar juga menyinggung pentingnya peran umat Islam Indonesia di masa depan. Mengutip riset internasional seperti PricewaterhouseCoopers, ia menyampaikan bahwa Indonesia diprediksi menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia bersama China, India, dan Amerika Serikat pada tahun 2042—dengan catatan: umat Islam mampu menguasai kapital.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Kalau Indonesia menjadi negara maju tapi umat Islamnya tetap miskin, itu berarti kita gagal. Karena yang akan menentukan arah bangsa ini adalah mereka yang menguasai kapital,” tegasnya.

Kajian ditutup dengan pesan reflektif dari Buya Anwar Abbas yang mengutip almarhum Prof. Ali Yafi:

أَعْطِ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ أَمِيرٌ، وَاسْأَلْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ أَسِيرٌ

“Berilah siapa pun yang kamu kehendaki, maka engkau adalah pemimpin. Mintalah kepada siapa pun yang kamu kehendaki, maka engkau adalah tawanan.

”Dengan semangat tajdid dan gerakan amar ma’ruf nahi munkar, Buya Anwar mengajak warga Muhammadiyah untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis komunitas sebagai perwujudan nyata dari spirit Al-Ma’un. (*)

Penulis Syahroni Nur Wachid

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡