Istilah “Godzilla El Nino” kembali mencuat dan menjadi perhatian publik setelah dikaitkan dengan potensi kemarau panjang dan kekeringan ekstrem. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya menyebut fenomena ini dapat menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan kering.
Perubahan ini dipicu berakhirnya La Nina lemah pada Februari, yang kemudian bergeser ke fase netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun 2026.
Kondisi tersebut mengingatkan masyarakat pada peristiwa El Nino ekstrem tahun 2015 yang menyebabkan kekeringan parah dan kebakaran hutan besar di Indonesia.
Namun, apakah kondisi serupa akan kembali terjadi tahun ini?
Pakar lingkungan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) Dr, Syamsudduha Syahrorini ST, MT, menegaskan, fenomena yang terjadi saat ini tidak seburuk yang dikhawatirkan.
“El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur yang dapat memengaruhi pola cuaca global, termasuk Indonesia,” jelasnya, Kamis (2/3/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tahun 2026 tidak termasuk kategori ekstrem.
Menurutnya, istilah “Godzilla El Nino” bukan istilah ilmiah, melainkan sebutan populer untuk El Nino yang sangat kuat atau super El Nino.
“Berbeda dengan tahun 2015, kondisi 2026 cenderung netral bahkan mengarah ke La Nina lemah, sehingga dampaknya tidak signifikan,” ujarnya.
Ia juga membandingkan kondisi beberapa tahun terakhir:
2015: El Nino ekstrem, kekeringan parah
2023: El Nino kuat, kemarau panjang
2026: Netral hingga La Nina lemah, relatif normal
Dampak El Nino Tetap Perlu Diwaspadai
Meski tidak ekstrem, dampak El Nino tetap perlu diantisipasi, terutama pada sektor lingkungan.
1. Ketersediaan Air
Sektor paling cepat terdampak adalah ketersediaan air. Perubahan curah hujan dapat langsung memengaruhi pasokan air bersih, irigasi, hingga produksi listrik tenaga air (PLTA).
2. Kebakaran Hutan dan Lahan
Risiko kebakaran hutan dan lahan dapat meningkat dalam hitungan minggu hingga bulan, terutama di wilayah rawan.
3. Ketahanan Pangan
El Nino juga berpotensi memicu krisis pangan, meski pada 2026 risikonya masih tergolong rendah. Curah hujan yang masih normal hingga cukup tinggi membuat belum ada indikasi krisis nasional.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa risiko lokal tetap bisa terjadi, khususnya di daerah rawan kekeringan.

El Nino Bukan Fenomena Buatan Manusia
Syahrorini menegaskan, El Nino merupakan siklus alami bumi yang terjadi setiap 2–7 tahun akibat interaksi laut dan atmosfer di Samudra Pasifik.
Meski bukan disebabkan langsung oleh manusia, perubahan iklim akibat emisi karbon dan deforestasi dapat memperkuat dampaknya.
“Ke depan, El Nino ekstrem berpotensi terjadi lebih sering akibat pemanasan global,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi dampak ke depan, diperlukan langkah strategis dan berkelanjutan, antara lain:
– Manajemen air berkelanjutan melalui embung, sumur resapan, dan penampungan air hujan
– Pertanian adaptif dengan irigasi hemat air dan varietas tahan kekeringan
– Restorasi ekosistem seperti reforestasi dan perlindungan lahan gambut
– Pencegahan kebakaran dengan monitoring hotspot dan pengelolaan lahan
– Pemanfaatan teknologi seperti IoT dan AI untuk prediksi kekeringan
– Pengembangan energi terbarukan seperti PLTS saat intensitas matahari tinggi
Melalui penjelasan ini, masyarakat diimbau untuk tidak mudah panik terhadap istilah “Godzilla El Nino”.
Meski fenomena tersebut pernah terjadi dan berdampak besar, kondisi Indonesia pada 2026 saat ini masih dalam kategori aman dan terkendali.
Penulis:





0 Tanggapan
Empty Comments