Search
Menu
Mode Gelap

Dari Mahasantri Menjadi Wamen, Fajar Riza Ul Haq: Pondok Shabran UMS Wadah Tempa Pemimpin Bangsa

Dari Mahasantri Menjadi Wamen, Fajar Riza Ul Haq: Pondok Shabran UMS Wadah Tempa Pemimpin Bangsa
Foto bersama setelah acara. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar talkshow dan ramah tamah dalam rangka Semarak Milad ke-43, Sabtu (10/1), bertempat di Lapangan Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS.

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Republik Indonesia, Fajar Riza Ul Haq, S.Hi., M.A., yang juga merupakan alumni Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS angkatan 1998.

Dalam sambutannya, Fajar mengaku bahagia bisa kembali ke Pondok Shabran UMS untuk bernostalgia mengenang masa-masa menjadi mahasantri.

“Mungkin kunjungan saya ke UMS sudah cukup sering, tetapi menghadiri acara alumni Pondok Shabran ini termasuk jarang. Karena itu, ini menjadi kebahagiaan tersendiri bisa kembali bernostalgia sebagai mahasantri,” ungkapnya, Senin (12/1/2026).

Mengawali pemaparan materi, Fajar menceritakan perjalanan pendidikannya selama mondok di Shabran dan menempuh studi di UMS. Ia dikenal sebagai mahasiswa aktivis yang aktif di berbagai organisasi, seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Pondok Shabran, IMM Cabang Sukoharjo, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agama Islam (BEM FAI), hingga BEM Universitas Muhammadiyah Surakarta.

“Selama dua dekade perjalanan hidup saya, sebagian besar dipengaruhi oleh Pondok Shabran UMS. Di sinilah saya ditempa menjadi seorang aktivis,” tuturnya.

Menurut Fajar, dunia aktivisme menjadi “candu” yang terus mengiringi langkahnya pasca-kuliah. Ia kemudian bekerja di Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS) UMS, sebelum melanjutkan kiprah di Maarif Institute; lembaga yang merupakan manifestasi pemikiran Ahmad Syafii Maarif.

Dari pengalamannya di Maarif Institute yang banyak bersentuhan dengan birokrasi lembaga, Fajar mulai dekat dengan dunia pemerintahan.

“Saat di Maarif Institute saya fokus pada birokrasi kelembagaan. Dari situlah saya kemudian ditarik oleh Pak Muhadjir Effendy untuk menjadi staf khusus menteri,” jelasnya.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menjadi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menurut Fajar, merupakan amanah yang tidak sepenuhnya linear dengan latar belakang akademiknya. Namun, proses panjang sebagai aktivis dan kader Muhammadiyah telah membentuk jati dirinya.

Wamen Dikdasmen saat memberikan pencerahan di Pondok Shabran. (Istimewa/PWMU.CO)

“Ada dua kelebihan menjadi aktivis dan pemimpin Muhammadiyah. Pertama, cepat beradaptasi. Kedua, cepat belajar hal baru. Dua hal ini menjadi kunci kesuksesan yang saya rasakan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Fajar menyoroti diaspora alumni Pondok Shabran UMS yang kini tersebar di berbagai penjuru negeri. Selama menjalankan tugas sebagai wakil menteri, ia kerap bertemu alumni Shabran yang berkiprah di pelosok daerah, pemerintahan kota, wilayah, hingga pusat.

Ia menegaskan bahwa diaspora alumni tersebut merupakan modal sosial yang sangat besar bagi UMS dan perlu dimobilisasi secara strategis.

“Ini kekuatan luar biasa. Kiprah para alumni harus bisa diwariskan dan menjadi inspirasi bagi mahasantri yang sedang berjuang saat ini,” ujarnya.

Menutup pemaparannya, Fajar mengungkapkan rasa bangga menjadi bagian dari Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS yang dinilainya sebagai pusat kaderisasi talenta muda Muhammadiyah.

“Talenta-talenta terbaik Muhammadiyah telah dilahirkan dari Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS,” pungkasnya. (*)

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments