Dari Event Menuju Gerakan
Sudah saatnya masjid bergerak dari sekadar event oriented menuju movement oriented. Bukan hanya banyak kegiatan, tetapi jelas dampaknya.
Masjid masa depan setidaknya perlu membangun lima fungsi strategis: Pertama, Islamic Learning Center: pusat ilmu dan pembinaan keislaman. Kedua, Youth Development Center: pusat pembinaan dan kaderisasi generasi muda. Ketiga, Social Service Center: pusat pelayanan sosial jamaah.
Keempat, Muslim Economic Center: pusat pemberdayaan ekonomi umat. Dan kelima, Leadership and Dakwah Center: pusat kaderisasi dai dan pemimpin.
Semua itu tetap berakar pada shalat berjamaah dan ketakwaan. Sebab masjid bukan sekadar lembaga sosial. Masjid memiliki ruh spiritual yang menjadi sumber energi seluruh gerakannya.
Kebangkitan masjid juga membutuhkan tata kelola. Pengurus perlu memiliki visi, misi, program, indikator keberhasilan, kaderisasi, transparansi keuangan, pemetaan jamaah, dan evaluasi.
Profesionalisme bukan lawan keikhlasan. Profesionalisme merupakan bagian dari amanah.
Jika dana umat dikelola, harus transparan. Program yang dibuat harus terukur. Dan kader dibina harus berkelanjutan.
Jika pemuda direkrut, harus diberi ruang berkembang. Jika dhuafa dibantu, harus dipikirkan bagaimana mereka dapat menjadi mandiri.
Pengurus harus mulai berpikir bukan hanya tentang berapa kegiatan yang dilakukan, tetapi berapa perubahan yang dihasilkan.
Kita tidak perlu menunggu perubahan besar untuk memulai kebangkitan umat.
Mulailah dari masjid. Hidupkan shalatnya. Kuatkan ilmunya. Dekatkan pemudanya. Bangun keluarganya. Berdayakan ekonominya. Layani dhuafanya. Kaderkan pemimpinnya. Profesionalisasikan pengelolaannya.
Dan yang paling utama: hidupkan ketakwaannya.
Sebab kebangkitan umat tidak lahir semata-mata dari gedung yang megah. Kebangkitan lahir dari manusia yang ditempa oleh masjid.
Dari masjid lahir manusia beriman. Sedangkan ari manusia beriman lahir jamaah yang bersatu. Dari jamaah yang bersatu lahir gerakan. Dari gerakan yang berilmu dan terorganisasi lahir kemaslahatan. Dan dari kemaslahatan yang terus tumbuh lahirlah peradaban.
Maka pertanyaan terbesar kita hari ini bukan:
“Berapa banyak masjid yang sudah kita bangun?”
Melainkan: “Berapa banyak manusia yang berhasil kita bangun melalui masjid?”
Inilah saatnya mengubah paradigma.
Masjid bukan hanya tempat umat berkumpul. Masjid adalah tempat umat dibentuk. Ketika masjid benar-benar hidup, umat tidak hanya memiliki tempat untuk bersujud. Umat memiliki pusat kekuatan untuk bangkit.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb





0 Tanggapan
Empty Comments