Suasana mssjid di SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya mendadak hening. Ratusan pasang mata tertuju ke depan, menyimak dengan penuh takzim sosok-sosok renta yang berdiri perlahan—namun menyimpan sejarah besar bangsa.
Dua veteran dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Ranting Wonokromo hadir, membawa kisah perjuangan yang tak lekang oleh waktu, Rabu (8/4/2026). Mereka adalah Abbas Hasan (83) dan Mulyadi (84). Usia boleh senja, langkah boleh tak lagi tegap, tetapi semangat mereka tetap menyala—seperti bara yang tak pernah padam.
Di hadapan sekitar 250 siswa kelas 3, 4, dan 5, Mulyadi membuka kisah tentang masa-masa genting perjuangan kemerdekaan. Ia menuturkan bagaimana bangsa ini pernah berada di titik kritis saat Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditawan oleh Belanda.
“Ibu kota negara saat itu dipindahkan ke Yogyakarta. Pemerintahan dijalankan oleh Sjafruddin Prawiranegara. Itu bukti bahwa bangsa ini tidak pernah menyerah,” tuturnya pelan, namun penuh penekanan.
Cerita itu membuat suasana kelas berubah. Riuh khas anak-anak perlahan sirna, berganti kesunyian yang sarat makna.
Belajarlah dari Sejarah
Sementara itu, Abbas Hasan menguatkan dengan pesan yang sederhana, tetapi menghunjam.
“Belajarlah dari sejarah. Karena sejarah adalah pijakan untuk masa depan,” ujarnya.
Ia menegaskan, kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukanlah hadiah, melainkan hasil dari pengorbanan harta, tenaga, bahkan nyawa.
“Para pejuang berkorban segalanya. Kalian hari ini cukup berkorban waktu—belajar dengan sungguh-sungguh,” pesannya, disambut anggukan para siswa.
Antusiasme Siswa
Suasana kembali hidup saat sesi tanya jawab dibuka. Tangan-tangan kecil terangkat, berebut kesempatan bertanya. Apalagi, Kepala Urusan Kurikulum SD Musix, Anisah Herwati, S.Pd.I., M.Pd., menyiapkan doorprize bagi siswa yang aktif.
Salah satu momen mengundang senyum terjadi saat Lintang, siswa kelas 5 ICP, bertanya dengan polos, “Siapa namanya, Pak?”
Mulyadi pun tersenyum, “Oh iya, saya lupa memperkenalkan diri. Nama saya Mulyadi.” Tawa ringan pun pecah, mencairkan suasana.
Pertanyaan lain datang dari Hilal, siswa kelas 5 ICP, yang ingin tahu makna veteran.
Menjawab itu, dijelaskan bahwa di Indonesia, veteran terbagi dalam beberapa kategori: Veteran Pejuang Kemerdekaan, Veteran Pembela Kemerdekaan, Veteran Anumerta, dan Veteran Perintis Kemerdekaan—yang semuanya memiliki peran penting dalam sejarah bangsa.
Menyentuh Hati, Menghidupkan Semangat
Kegiatan ini turut didampingi oleh Diana Puspitasari dari Dinas Sosial, yang memfasilitasi kehadiran para veteran. Kehadiran mereka bukan sekadar berbagi cerita, tetapi menanamkan nilai—tentang perjuangan, pengorbanan, dan cinta tanah air.
Di penghujung acara, suasana berubah menjadi haru sekaligus hangat. Para siswa berbondong-bondong mendekat, meminta foto bersama. Mereka ingin mengabadikan momen bersama para saksi hidup sejarah.
Di balik senyum para siswa, tersimpan kesan mendalam—bahwa kemerdekaan bukan sekadar cerita di buku pelajaran, tetapi nyata, hidup, dan pernah diperjuangkan dengan darah dan air mata. Dan hari itu, di masjid sederhana, api perjuangan itu kembali dinyalakan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments