Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Eksplorasi Spiritualitas dalam Manhaj Pendidikan Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Eksplorasi Spiritualitas dalam Manhaj Pendidikan Muhammadiyah
Oleh : Brilly Yudho Willianto Jamaah Masjid Muhammadiyah Darussalam Sukodadi

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk multidimensi yang sangat kompleks.

Berbagai dimensi yang melekat dalam diri manusia inilah yang menjadi faktor pembeda fundamental dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya di muka bumi.

Seandainya seorang manusia memilih sikap skeptis bahkan apatis terhadap institusi agama sekalipun, dalam kondisi-kondisi eksistensial tertentu, ia pasti akan merasakan dorongan batin untuk mengeksplorasi dimensi spiritualitas.

Hal ini terjadi karena agama, secara historis dan filosofis, senantiasa menjadi sumber utama spiritualitas bagi peradaban.

Eksistensi spiritualitas sebagai salah satu dimensi integral manusia tidak dapat disingkirkan, dinihilkan, ataupun diabaikan begitu saja dari dinamika kehidupan.

Pencapaian rasionalitas manusia terhadap sains, medis, politik, teknik, hingga ilmu humaniora terbukti tidak selalu sanggup menjawab fenomena keabnormalan dan deviasi moral yang terjadi.

Dewasa ini, aspek kerohanian justru berada pada pusat perhatian utama manusia yang sedang dilanda berbagai penyakit psikologis modern, seperti kecemasan kronis, rasa takut, kesedihan mendalam, gejala overthinking, depresi, rasa tidak percaya diri (insecure), gangguan bipolar, dan berbagai fenomena kesehatan mental lainnya.

Agama yang bersifat revealed (diwahyukan) maupun agama yang lahir dari hasil kreasi spiritualisme manusia, keduanya sama-sama menawarkan obat serta solusi atas kegelisahan jiwa, meskipun efektivitasnya tidak selalu bersifat instan atau manjur bagi setiap individu.

Kedua jenis agama tersebut memiliki peran krusial dalam membangun fondasi spiritualitas demi mewujudkan kehidupan di dunia secara ideal dan harmonis.

Dalam konteks nasional, UU Sisdiknas mendefinisikan pendidikan sebagai upaya sadar serta terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang kondusif.

Tujuannya adalah agar peserta didik secara aktif mampu mengembangkan potensi dirinya guna memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri yang kuat, kepribadian unggul, kecerdasan intelektual, akhlak mulia, serta keterampilan praktis yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia.

Dari definisi ini, tercermin secara jelas bagaimana Pemerintah sekaligus segenap elemen Bangsa Indonesia telah mufakat bahwa pendidikan nasional diselenggarakan guna membangkitkan kekuatan spiritual keagamaan dalam diri setiap insan.

Dalam Manhaj Muhammadiyah

Muhammadiyah, yang merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar kedua di Indonesia, sejak awal berdirinya telah menunjukkan konsentrasi yang sangat besar dalam menangani sektor pendidikan bagi seluruh penduduk Nusantara.

Kontribusi nyata ini bahkan telah dimulai sejak 33 tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dikumandangkan.

Kiai Haji Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah didorong oleh aspirasi besar yang merupakan buah manis dari perjalanan intelektual, spiritual, dan sosial beliau yang sangat panjang.

Beliau memandang pendidikan sebagai kunci utama transformasi sosial dan dakwah. [Nurhayati, ST., dkk., 2019).

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Melalui Khittah Ujung Pandang tahun 1971 pada masa kepemimpinan K.H. AR. Fachroeddin, organisasi mengamanatkan kepada Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah untuk terus meningkatkan partisipasi aktif dalam pelaksanaan pembangunan nasional.

Hal ini diwujudkan melalui pembuatan kebijakan strategis dan pengambilan langkah nyata dalam pembangunan mental spiritual, penguatan ekonomi, serta pemberdayaan sosial masyarakat luas.

Amanat ini dipandang selaras dengan misi besar agama Islam yang, menurut Ahmad Satori Ismail, dkk. (2012), senantiasa memperhatikan keseimbangan antara aspek material dan spiritual, dimensi sosial dan individu, nilai rabbani dan insani, serta antara idealitas ajaran dan realitas kehidupan nyata.

Rumusan mengenai “Filsafat Pendidikan Muhammadiyah” sebagaimana tertuang dalam dokumen Tanfidz Keputusan Muktamar ke-46 menggambarkan sebuah visi besar.

Pendidikan Muhammadiyah sejatinya adalah proses penyiapan lingkungan yang memungkinkan seseorang tumbuh sebagai manusia seutuhnya yang senantiasa menyadari kehadiran Allah Swt. sebagai Rabb semesta alam, sembari tetap menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks).

Dengan integrasi kesadaran spiritual makrifat (iman/tauhid) dan penguasaan ipteks yang mumpuni, seseorang diharapkan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri.

Lebih dari itu, mereka diharapkan memiliki kepedulian tinggi terhadap sesama yang masih menderita akibat belenggu kebodohan serta kemiskinan.

Insan yang lahir dari rahim pendidikan ini akan senantiasa berupaya menyebarluaskan kemakmuran dan mencegah segala bentuk kemungkaran demi pemuliaan nilai-nilai kemanusiaan.

Semua ini dilakukan dalam kerangka kehidupan bersama yang ramah lingkungan dalam naungan bangsa dan tata pergaulan dunia yang adil, beradab, serta sejahtera sebagai bentuk pengabdian atau ibadah total kepada Allah Swt.

Di sisi lain, spiritualitas kini telah menjadi istilah yang sering diperebutkan maknanya oleh berbagai kalangan.

Masing-masing pakar lintas disiplin ilmu sering kali mengalami benturan istilah demi meraih hegemoni bahasa dalam ruang publik.

Berbagai teori dan konsep ilmiah bertebaran untuk membingkai kata spiritualitas dengan tujuan menginternalisasi ajaran agama masing-masing ke dalam konsep spiritualitas tersebut agar dapat dikonsumsi oleh publik, baik disadari maupun tidak oleh masyarakat luas.

Spiritualitas kini telah bertransformasi menjadi diskursus global yang sangat menggejala sebagai keyakinan batin yang mampu menggerakkan manusia secara kolektif di tengah masyarakat modern.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡