Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mengungkap adanya komunikasi langsung dengan Amerika di tengah memanasnya konflik kawasan. Namun, Iran dengan tegas membantah adanya proses negosiasi dengan Washington.
Dalam wawancara bersama Al Jazeera, Araghchi mengaku dirinya menerima pesan langsung dari utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff. Meski begitu, ia menegaskan bahwa komunikasi tersebut tidak bisa diartikan sebagai upaya perundingan damai.
“Saya menerima pesan secara langsung, seperti sebelumnya. Tapi ini bukan negosiasi,” tegas Araghchi.
Ia juga menepis berbagai klaim yang menyebut Iran sedang menjalin pembicaraan dengan pihak mana pun terkait konflik yang berlangsung. Menurutnya, semua komunikasi hanya bersifat terbatas dan melalui jalur resmi pemerintah.
Ketidakpercayaan Iran terhadap Amerika Serikat menjadi alasan utama. Araghchi mengingatkan pengalaman pahit masa lalu saat kesepakatan nuklir tahun 2015 dibatalkan sepihak oleh AS.
“Kami tidak punya kepercayaan sama sekali. Tingkat kepercayaan kami nol. Kami tidak melihat adanya kejujuran,” ujarnya.
Pernyataan senada juga disampaikan Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang menilai Amerika Serikat tidak benar-benar percaya pada jalur diplomasi. Ia bahkan menyebut Iran sempat diserang saat proses negosiasi berlangsung.
Di sisi lain, Amerika Serikat melalui Menteri Pertahanan Pete Hegseth justru menyampaikan pernyataan keras. Washington disebut siap melanjutkan “negosiasi dengan bom” jika diperlukan, sembari tetap membuka peluang kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Situasi semakin memanas di kawasan strategis Selat Hormuz. Iran menegaskan bahwa jalur tersebut berada dalam wilayahnya bersama Oman dan dapat digunakan secara strategis dalam kondisi perang.
“Iran tidak akan membiarkan musuh menggunakan wilayah perairannya untuk kepentingan ekonomi,” kata Araghchi.
Ia menambahkan bahwa kapal dari negara yang tidak terlibat konflik masih bisa melintas, meskipun banyak yang memilih menghindari jalur tersebut karena alasan keamanan dan biaya asuransi yang tinggi.
Terkait kemungkinan operasi militer darat oleh Amerika Serikat, Iran menunjukkan sikap tegas dan siap menghadapi segala kemungkinan.
“Kami sudah siap. Kami tahu bagaimana mempertahankan diri, bahkan lebih kuat dalam perang darat,” ujarnya.
Hingga saat ini, Iran juga belum memberikan respons terhadap proposal 15 poin yang diajukan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik. Proposal tersebut mencakup pembatasan senjata hingga komitmen terkait program nuklir Iran.
Meski demikian, Iran menegaskan bahwa satu-satunya syarat untuk mengakhiri konflik adalah penghentian total serangan di kawasan, bukan sekadar gencatan senjata.
Situasi ini menandakan bahwa ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih jauh dari kata reda, bahkan berpotensi semakin meluas dalam waktu dekat.





0 Tanggapan
Empty Comments