Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Eksplorasi Spiritualitas dalam Manhaj Pendidikan Muhammadiyah

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Eksplorasi Spiritualitas dalam Manhaj Pendidikan Muhammadiyah
Oleh : Brilly Yudho Willianto Jamaah Masjid Muhammadiyah Darussalam Sukodadi

Perbincangan mengenai hal-hal spiritual selalu menjadi topik yang hangat karena adanya kesadaran kolektif akan eksistensi hal-hal yang berada di luar jangkauan nalar logika rasional semata.

Fenomena berbagai krisis multidimensional saat ini, mulai dari krisis ekonomi global, kelangkaan bahan bakar, krisis pangan dunia, kerusakan lingkungan, hingga krisis kesehatan publik, pada dasarnya bersumber dari krisis spiritual yang akut dan krisis pengenalan jati diri manusia terhadap Sang Mahakuasa.

Menghadapi situasi ini, dunia internasional seolah berbondong-bondong menawarkan berbagai konsep spiritualitas alternatif dan teori-teori baru demi melakukan hegemoni atas istilah tersebut.

Secara etimologis, istilah spiritualitas memang tidak berasal dari khazanah bahasa Arab-Islam.

Istilah “spiritualis” dalam konteks budaya tertentu bahkan sering kali disematkan kepada orang-orang yang dianggap memiliki kekuatan supranatural, baik dalam konotasi positif maupun negatif.

Padahal, makna spiritualitas yang sesungguhnya tidaklah sesempit atau se-klise pengertian tersebut.

Kata spiritual kini telah menjadi milik universal sehingga setiap agama berupaya menyusun konsep spiritualitasnya masing-masing sesuai dengan teologi mereka.

Spiritualitas sejatinya adalah buah manis dari religiusitas yang mendalam.

Meskipun berkaitan erat, religiusitas memiliki perbedaan mendasar dengan spiritualitas.

Religiusitas yang dipraktikkan dengan baik akan melahirkan spiritualitas yang berkualitas, dan demikian pula sebaliknya.

Namun, perlu dicatat bahwa spiritualitas yang hanya dilahirkan sebatas pemahaman kognisi tanpa adanya pengaruh dari ritual religius yang konsisten hanya akan menghasilkan bentuk spiritualitas yang dangkal, gersang, sempit, serta labil dalam menghadapi ujian kehidupan.

Secara ringkas, spiritual merujuk pada aspek kejiwaan yang berfungsi sebagai kata benda, bukan kata kerja ataupun kata sifat.

Spiritualitas barulah merupakan sematan atau atribut bagi sesuatu yang memiliki sifat spiritual.

Akar katanya, spirit, berarti jiwa atau ruh. Kita dapat menyebut ruh manusia sebagai spirit manusia.

Dalam perspektif filosofis, ruh manusia terbagi menjadi dua bagian besar, yakni ruh kehidupan yang bersifat biologis dan ruh kesadaran yang bersifat transenden.

Spirit pada hakikatnya adalah ruh kesadaran yang menjadi penggerak utama bagi manusia dalam melakukan setiap tindakan.

Hakikat ‘sesuatu’ yang menggerakkan tersebut memang sulit didefinisikan secara mutlak, sebagaimana sulitnya mendefinisikan esensi ruh itu sendiri.

Meskipun demikian, terdapat ulama yang mencoba menyimpulkan bahwa ruh memiliki keterkaitan dengan rih yang berarti angin.

Manusia mampu bergerak secara fisik karena adanya molekul udara dalam tubuhnya, di samping keberadaan molekul-molekul organik lainnya.

Oleh karena itu, konsep mentalitas, moralitas, mistisisme, filosofi hidup, pola pikir (mindset), intuisi batin, nilai-nilai (value), motivasi, hingga inspirasi, semuanya tercakup dalam payung besar istilah spiritualitas.

Agama Islam, dalam pandangan yang lebih fundamental, tidak bisa hanya disebut sebagai sebuah bentuk spiritualitas semata karena Islam bersifat given (pemberian Tuhan), sakral, dan transenden.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Sementara itu, berbagai agama hasil kreasi manusia serta kepercayaan-kepercayaan praktis lainnya lebih tepat dikategorikan sebagai bentuk spiritualitas.

Walaupun demikian, Islam tetap menjadi sumber spiritualitas yang tak pernah kering bagi para pemeluknya, bahkan bagi kalangan nonmuslim sekalipun.

Jika diamati, terdapat cukup banyak praktik keberagamaan nonmuslim yang sebenarnya secara tidak langsung teradopsi dari nilai-nilai universal Islam.

Perlu diingat kembali bahwa Islam bukanlah agama yang baru muncul pada periode terakhir sejarah manusia, melainkan merupakan agama tauhid yang telah ada sejak zaman Nabi Adam as.

Oleh karena itu, setiap Muslim mana pun akan memiliki spiritualitas yang tinggi, dalam, dan luas manakala kualitas pemahaman serta praktik keberislamannya dijalankan dengan baik dan benar.

Dalam dokumen Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM), terdapat sebuah pernyataan fundamental yang menegaskan bahwa Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya.

Risalah ini dimulai sejak Nabi Adam as. hingga mencapai kesempurnaannya pada Nabi Muhammad saw. sebagai hidayah serta rahmat bagi seluruh umat manusia sepanjang masa.

Islam dalam pandangan Muhammadiyah menjamin tercapainya kesejahteraan hidup secara materiil dan spiritual, baik dalam kehidupan duniawi maupun ukhrawi.

Dengan dasar pernyataan tersebut, menjadi sangat jelas bahwa Muhammadiyah menerima dan mengadopsi konsep spiritualitas secara terbuka.

Muhammadiyah dalam praktiknya menjalankan konsep spiritualitas yang bersifat sufistik namun tetap moderat.

Dalam hal ini, Muhammadiyah memilih untuk menolak formalisasi institusi tarekat sebagai bentuk operasionalisasi ilmu tasawuf, namun di saat yang sama tetap menerima ilmu tasawuf sebagai sumber kekayaan spiritualitas.

Tujuannya adalah untuk membimbing umat menuju tingkatan iḥsān dan pencapaian akhlak mulia, dengan catatan semua praktik tersebut harus tetap melalui proses tarjih untuk menghindari terjadinya pelanggaran terhadap Syarī’at Islam.

Penerimaan Muhammadiyah terhadap konsep spiritualitas semakin dipertegas dalam dokumen Risalah Islam Berkemajuan (RIB).

Risalah ini menjelaskan adanya tiga pendekatan utama dalam memahami ajaran agama yang harus digunakan secara bersamaan dan proporsional, yaitu pendekatan bayani (tekstual), burhani (rasional), dan ‘irfani (spiritual-intuitif).

Pendekatan ‘irfani secara khusus memberikan penekanan pada kedalaman spiritual, kepekaan nurani, ketajaman intuisi batin, serta cita kearifan seorang hamba.

Dalam RIB juga diberikan klarifikasi bahwa yang dimaksud dengan kedalaman spiritual adalah khushū’ (kekhusyukan), sementara kearifan diartikan sebagai hikmah dalam bersikap.

Lebih jauh lagi, RIB menerangkan bahwa tasawuf merupakan unsur yang harus hadir dan menyatu dalam setiap tindakan manusia di semua bidang kehidupan.

Oleh karena itu, seluruh aspek kehidupan duniawi, baik dalam ranah sosial, hukum, ekonomi, maupun politik, harus senantiasa mengandung nilai-nilai spiritualitas yang luhur agar tidak kehilangan arah dan maknanya yang hakiki bagi kemanusiaan.***

SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu