Di balik sorak-sorai penonton dan gegap gempita stadion, ada kisah lain yang tak kalah menarik dari dunia sepak bola. Bukan dari para pemain yang berlari di lapangan, melainkan dari tangan-tangan kreatif yang menjahit semangat dan identitas sebuah tim melalui jersey yang mereka kenakan.
Salah satunya adalah Muhammad Faqih Zuhdi, alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, pendiri Almer Apparel, brand lokal asal Yogyakarta yang tengah naik daun berkat desain khas, layanan personal, dan kualitas yang tak kalah dari produk nasional bahkan internasional.
Bagi Faqih, perjalanan Almer bukan sekadar bisnis, tetapi cermin dari hobi dan semangatnya terhadap olahraga.
Sekitar tahun 2018–2019, awalnya saya bikin jersey untuk tim futsal saya. Dari situ muncul keinginan untuk punya brand sendiri,” kenang pemuda asal Klaten ini saat ditemui di Yogyakarta, Rabu (8/10/2025).
Kecintaannya terhadap futsal dan kegemarannya berganti jersey membuatnya peka terhadap detail. Mulai dari bahan, desain, hingga kenyamanan saat dikenakan di lapangan. Dari situlah ide untuk menciptakan brand apparel sendiri mulai tumbuh.
Nama Almer sendiri lahir dari proses panjang pencarian makna. Faqih ingin sesuatu yang tidak sekadar enak didengar, tapi juga membawa nilai.
Setelah menggali berbagai referensi, ia menemukan kata “Almer” yang berasal dari bahasa Turki, berarti mulia.
“Saya ingin Almer bukan sekadar apparel, tapi membawa semangat kebanggaan dan nilai mulia dalam olahraga,” ujarnya.
Filosofi itu menjadi fondasi yang ia pegang hingga kini—bahwa setiap jersey bukan hanya pakaian pertandingan, tapi simbol semangat, kerja keras, dan kebersamaan.
Namun, jalan menuju kesuksesan tidak selalu lurus. Faqih mengawali usahanya dengan keterbatasan modal dan tanpa mesin produksi sendiri.
Dia bahkan sempat meminjam merek teman yang sudah lebih dulu terjun di dunia apparel untuk bisa tetap berproduksi.
“Dari uang sewaan jersey itu saya kumpulkan sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa produksi sendiri,” tuturnya.
Pelan tapi pasti, setiap pesanan ia tangani dengan serius, memastikan setiap jahitan membawa kepuasan bagi pelanggan.
Klien pertama Almer bukanlah tim besar atau klub profesional, melainkan teman-teman sekolahnya sendiri.
Namun justru dari lingkaran kecil itulah nama Almer mulai dikenal. Desainnya yang segar dan layanannya yang cepat membuat banyak pelajar, komunitas futsal, hingga grup musik di Yogyakarta mulai melirik.
Dari mulut ke mulut, Almer tumbuh menjadi salah satu apparel lokal yang punya identitas kuat—menggabungkan profesionalisme dengan sentuhan personal.
Kini, Almer Apparel telah berkembang pesat. Faqih dan timnya tidak hanya memproduksi jersey untuk komunitas, tapi juga telah dipercaya bekerja sama dengan klub profesional, termasuk Persiba Bantul, selama dua musim berturut-turut.
Capaian ini tentu bukan datang begitu saja, melainkan hasil dari komitmen menjaga kualitas di setiap proses produksi.
“Kami selalu mengajak klien untuk riset dan berdiskusi dari awal, bukan sekadar mencomot desain yang sudah ada. Kami juga edukasi konsumen supaya menghargai orisinalitas desain,” jelas Faqih.
Dari pra-produksi hingga pengemasan, Almer menjaga kualitas dengan penuh ketelitian. Setiap jersey melalui tahap quality control yang ketat. Bahkan, mereka berani memberikan garansi penggantian jika ada cacat produksi.
“Almer selalu menjaga kualitas dengan ketat. Bagi kami, kepercayaan pelanggan adalah modal terbesar,” tegasnya. Tak heran jika kini, produk-produk Almer bukan hanya dikenakan oleh tim-tim futsal kampus, tetapi juga melangkah ke stadion-stadion besar.
Di balik kesuksesan itu, tersimpan semangat seorang anak muda yang berani bermimpi besar dari hal kecil.
Faqih Zuhdi menunjukkan bahwa industri olahraga tidak hanya tentang kompetisi di lapangan, tetapi juga tentang kreativitas, ketekunan, dan nilai-nilai yang dijahit dengan sepenuh hati.
“Saya percaya, setiap keringat yang jatuh di lapangan selalu punya cerita. Dan kami di Almer ingin menjadi bagian dari cerita itu,” ujarnya menutup perbincangan, sambil menatap sederet jersey warna-warni yang tergantung rapi di ruang produksinya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments