Ribuan warga menggelar aksi demonstrasi di Times Square, New York City, untuk memprotes keputusan Presiden Donald Trump yang melancarkan operasi militer terhadap Iran bersama Israel.
Aksi yang berlangsung pada Sabtu (28/2/2026) waktu setempat itu diikuti pawai massa yang bergerak melewati sejumlah ruas jalan utama kota. Para demonstran menyatakan penolakan terhadap operasi militer tersebut karena dinilai berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Para peserta aksi mengecam serangan udara yang dikoordinasikan Washington dan Tel Aviv. Mereka juga mendesak pemerintah Amerika Serikat mengalihkan anggaran militer ke sektor domestik seperti pendidikan, perumahan, dan layanan sosial.
Beragam spanduk dibawa massa dengan pesan penolakan terhadap perang, seperti “Hentikan Perang di Iran”, “Tidak Ada Perang Penggantian Rezim”, hingga “Trump Harus Mundur Sekarang”.
Dalam orasinya, Direktur Pendidikan organisasi The People’s Forum, Layan Fuleihan, menilai kebijakan militer Washington tidak mencerminkan keinginan mayoritas masyarakat Amerika.
Ia menyinggung besarnya persenjataan nuklir yang dimiliki Amerika Serikat dan menilai hal itu menjadi ancaman global.
“Kita tidak boleh lupa bahwa Amerika Serikat memiliki lebih dari 5.000 hulu ledak nuklir yang siap digunakan dan diarahkan ke kota-kota serta pemukiman sipil di berbagai belahan dunia,” ujarnya dilansir dari Inilah.com.
Fuleihan juga menegaskan bahwa Iran tidak menjadi ancaman langsung bagi masyarakat Amerika.
“Iran tidak mengancam Amerika Serikat. Kami tidak akan lagi tertipu oleh narasi yang sama seperti yang digunakan dua dekade lalu,” katanya.
Menurut dia, masyarakat Amerika pada umumnya tidak hidup dalam ketakutan terhadap Iran. “Itu bukan kenyataan yang dirasakan rakyat di negara ini,” tambahnya.
Kritik terhadap Kebijakan Trump
Kritik keras juga datang dari Ketua Socialist Equality Party, David North. Dalam selebaran yang dibagikan kepada demonstran, ia menyebut serangan terhadap Iran sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Ia menilai kebijakan Trump telah membawa Amerika Serikat dan dunia menuju jalur konflik yang berbahaya serta tidak akan menyelesaikan persoalan domestik di dalam negeri.
Pandangan serupa disampaikan pensiunan dosen ekonomi dan kebijakan luar negeri di New York, Marilyn Vogt-Downey. Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan pola panjang intervensi militer Amerika di berbagai kawasan.
“Pemerintah AS merupakan kekuatan imperialis paling agresif dalam sejarah. Serangan ini hanyalah bentuk lain dari perang imperialis,” ujarnya.
Penyelenggara aksi menyatakan demonstrasi lanjutan kemungkinan akan kembali digelar dalam beberapa hari ke depan.
Jerman dan Belgia Menolak Terlibat
Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara Eropa mulai mengambil jarak dari operasi militer tersebut. Pemerintah Jerman dan Belgia secara terbuka menyatakan tidak akan ikut dalam serangan terhadap Iran.
Pernyataan itu disampaikan oleh Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, dalam sidang parlemen di Berlin pada Rabu (4/3/2026).
“Jerman bukan bagian dari perang ini. Angkatan bersenjata kami tidak akan berpartisipasi,” kata Pistorius.
Ia menegaskan Berlin akan lebih fokus pada upaya meredakan ketegangan serta mencegah konflik meluas. Pistorius juga mengingatkan bahwa memulai perang jauh lebih mudah dibandingkan mengakhirinya, terutama jika tidak disertai strategi pascakonflik yang jelas.
Sikap senada disampaikan Menteri Pertahanan Belgia, Theo Francken, di parlemen Brussels. Ia menegaskan negaranya tidak akan terlibat dalam operasi militer tersebut.
Francken menjelaskan bahwa Belgia membedakan antara memberikan dukungan defensif kepada mitra regional dengan ikut dalam serangan awal yang berpotensi melanggar hukum internasional. Menurutnya, bantuan hanya akan dipertimbangkan jika ada permintaan resmi dari negara mitra seperti Yordania atau Uni Emirat Arab serta sesuai dengan kerangka hukum internasional.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak operasi militer yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut kemudian dibalas Teheran dengan peluncuran rudal dan drone ke sejumlah target di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah negara Eropa kini mendorong jalur diplomasi agar konflik tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments