Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hasan bin Tsabit, Penyair yang Membela Nabi dengan Puisi

Iklan Landscape Smamda
Hasan bin Tsabit, Penyair yang Membela Nabi dengan Puisi
ilustrasi: Hasan bin Tsabit, Penyair yang Membela Nabi dengan Puisi. AI
Oleh : M. Anwar Djaelani, Peminat masalah pendidikan

Nama Hasan bin Tsabit disebut di dalam buku Biografi 60 Sahabat Nabi Saw. Buku karya Khalid Muhammad Khalid itu adalah salah satu karya terbaik terkait penulisan kisah para sahabat Nabi Muhammad Saw. Tiap sahabat yang enam puluh itu dikisahkan pokok-pokok kontribusinya untuk perjuangan Islam dengan bahasa yang indah.

Adapun kisah yang secara khusus membicarakan Hasan bin Tsabit tidak ada di buku itu. Namanya hanya disebut di kalimat pertama pada paragraf pembuka dalam tulisan berjudul Tsabit bin Qais, Juru Bicara Rasulullah Saw. “Hasan bin Tsabit adalah penyair Rasulullah Saw dan Islam, sedangkan Tsabit (bin Qais) adalah juru bicara Rasulullah dan Islam,” demikian kalimat pembuka paragraf itu (2018: 446).

Di paragraf yang sama, Khalid Muhammad Khalid melukiskan profil Tsabit bin Qais sebagai berikut: kata-kata dan kalimat yang keluar dari lisannya kuat, padat, keras, tegas, dan memesona. Lalu, siapa Hasan bin Tsabit? Seperti apa karyanya?

Puisi Bermakna

Hasan bin Tsabit lahir pada tahun 563 M di Madinah. Ia dikenal sebagai penyair terkemuka yang memiliki pengaruh besar.

Sebelum mendapat hidayah, Hasan bin Tsabit berada di “seberang” Nabi Saw. Saat itu, orang-orang Arab yang memusuhi Nabi Muhammad Saw mengundangnya untuk membuat syair yang menghina Rasulullah. Untuk itu, hadiah melimpah disediakan baginya.

Merespons hal tersebut, Hasan bin Tsabit yang belum pernah mengetahui sosok Nabi Muhammad Saw mengatakan bahwa dirinya akan melihat langsung orang yang dimaksud terlebih dahulu. Setelah itu, barulah ia akan membuat puisi. Hal ini menunjukkan bahwa ia adalah penyair profesional yang tidak sekadar mengarang tanpa dasar.

Awalnya, Hasan bin Tsabit yakin bahwa sebagai manusia biasa, sosok yang dimaksud pasti memiliki kekurangan. Ia berencana melihat langsung Nabi Muhammad Saw, lalu menulis puisi dari sisi yang bisa dijadikan bahan celaan.

Pada suatu hari, Hasan bin Tsabit bersembunyi di sebuah jalan yang biasa dilalui Nabi Muhammad Saw. Namun, setelah melihat wajah dan postur beliau, Hasan bin Tsabit tidak sanggup menjalankan niat awalnya. Ia tidak mampu membuat syair penghinaan, meskipun telah dijanjikan hadiah besar.

Setelah itu, Hasan bin Tsabit kembali kepada orang-orang yang mengundangnya dan menyatakan bahwa ia tidak bisa menghina Nabi Muhammad Saw. Bahkan, ia justru menulis puisi pujian:

Yang lebih baik darimu tak pernah dilihat mata siapa pun
Tak ada pula wanita yang melahirkan bayi seindah dirimu
Engkau tercipta bersih dan suci dari segala aib dan cacat
Seakan engkau tercipta sebagaimana keinginanmu sendiri

Peran Ajaib

Puisi, menurut KBBI, adalah gubahan bahasa yang disusun secara cermat untuk mempertajam kesadaran dan membangkitkan tanggapan melalui irama, bunyi, dan makna khusus. Oleh karena itu, puisi memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam perjuangan antara kebenaran dan kebatilan.

Sejalan dengan itu, para penyair memiliki kedudukan tinggi di tengah masyarakat. Karya mereka dihormati dan dihafalkan banyak orang, sementara isi puisinya sangat bergantung pada misi yang dibawa oleh masing-masing penciptanya.

Dalam sejarah Islam, sastra memiliki peran strategis sebagai media dakwah. Hal ini tampak dari kontribusi Hasan bin Tsabit yang menggunakan puisi sebagai sarana membela Islam.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Ia bukan sekadar penyair biasa. Hasan bin Tsabit membela Nabi Muhammad Saw dan Islam dengan kata-kata indah yang mampu membangkitkan semangat kaum Muslimin sekaligus memperkaya khazanah sastra Arab.

Hasan bin Tsabit memiliki tugas khusus untuk melawan kampanye negatif musuh Islam melalui syair. Suatu ketika, ia dipanggil ke Masjid Nabawi oleh Rasulullah Saw dan diminta untuk memadamkan semangat kaum musyrikin Mekkah serta membangkitkan semangat kaum Muslimin melalui puisinya.

Puisinya melesat bak anak panah yang tertuju kepada para penista kebenaran dan penghina Rasulullah Saw. Kontribusinya dalam dakwah dapat digambarkan sebagai “berperang tanpa pedang”. Meski tidak turun langsung ke medan perang, ia mampu melemahkan semangat musuh melalui sindiran dan ejekan yang tajam.

Dalam konteks kekinian, apa yang dilakukan Hasan bin Tsabit dapat diibaratkan sebagai jihad melalui tulisan. Berikut petikan dari salah satu karyanya:

Kau hina Muhammad, akulah membela
Di sisi Allah balasan itu semua
Kau menghina Muhammad yang baik yang bertakwa
Utusan Allah yang selalu tepat janjinya

Allah berfirman, telah Kuutus seorang hamba
Ia berkata benar tanpa ada samar
Allah berfirman, telah Kukirim pasukan
Orang-orang Anshar biasa berperang
Apakah yang menghina Rasulullah dengan yang memuji dan menolongnya adalah sama?
Jibril utusan Allah ada di pihak kami
Ruhul Qudus tak tertandingi

Jalan Membela

Atas kontribusinya dalam dakwah, Nabi Muhammad Saw sangat mengapresiasi Hasan bin Tsabit. Hal ini karena puisi terbukti memiliki peran penting dalam syiar Islam.

Salah satu bentuk penghargaan tersebut adalah disediakannya mimbar khusus di samping mimbar Rasulullah Saw di Masjid Nabawi untuk Hasan bin Tsabit. Mimbar itu digunakan untuk membacakan puisi-puisi yang membangkitkan semangat perjuangan dakwah.

Pada akhirnya, setiap individu dapat berkontribusi dalam dakwah sesuai kapasitasnya. Hasan bin Tsabit memberikan teladan bahwa puisi pun dapat menjadi sarana perjuangan.

Selain dirinya, terdapat pula sahabat lain seperti Ka’ab bin Malik, Ka’ab bin Zuhair, dan Abdullah bin Rawahah yang menggunakan puisi sebagai media membela Islam.

Hasan bin Tsabit sendiri masuk Islam pada usia 60 tahun dan wafat pada tahun 674 M (54 H) di Madinah dalam usia 120 tahun. Keteladanannya menunjukkan bahwa setiap potensi dapat dimanfaatkan untuk membela kebenaran. Semoga kita mampu meneladaninya.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡