Pemahaman tentang hidayah dan fitrah manusia ditegaskan sebagai fondasi gerakan tajdid Muhammadiyah dalam Kuliah Subuh yang disampaikan Ketua PP Muhammadiyah Dr. Saad Ibrahim di Masjid Al Ikhlas Kapuas, Kalimantan Tengah, Jumat (27/2/2026).
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Saad Ibrahim menegaskan bahwa pemahaman tentang hidayah dan fitrah manusia merupakan fondasi penting dalam gerakan tajdid Muhammadiyah.
Hal itu ia sampaikan dalam Kuliah Subuh di Masjid Al Ikhlas Kapuas, Kalimantan Tengah.
Hidayah dan Kesadaran Tauhid Sejak Awal
Kiai Saad menjelaskan bahwa hidayah Allah telah diberikan kepada manusia bahkan sebelum dilahirkan ke dunia. Ia merujuk pada Surah Al-A’raf ayat 172 tentang perjanjian primordial antara Allah dan ruh manusia sebagai dasar teologis kesadaran tauhid.
“Manusia itu sejak awal sudah memiliki potensi untuk mengenal Allah dan mengakui-Nya sebagai Tuhan,” ujarnya. Menurutnya, kesadaran tauhid inilah yang menjadi landasan pembaruan dalam kehidupan umat.
Tajdid Bukan Sekadar Simbol Keagamaan
Kiai Saad menekankan bahwa gerakan Muhammadiyah tidak berhenti pada simbol dan fenomena keagamaan semata. Tajdid harus diarahkan pada pemurnian akidah dan pendalaman makna ayat-ayat Allah, baik yang terbentang di alam semesta maupun yang ada dalam diri manusia.
Ia mengingatkan agar umat tidak terjebak pada tanda-tanda tanpa sampai kepada Dzat yang ditunjukkan oleh tanda tersebut. “Kalau hanya berhenti pada gejala, kita tidak akan sampai kepada sumber kebenaran, yaitu Allah SWT,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan inilah yang menjadi ciri gerakan pencerahan Muhammadiyah, yakni mengajak umat berpikir mendalam, rasional, dan berlandaskan wahyu. Tajdid tidak berarti mengubah ajaran, tetapi mengembalikan praktik keberagamaan kepada kemurnian Al-Qur’an dan Sunnah.
Integrasi Iman, Ilmu, dan Amal
Kiai Saad juga menjelaskan bahwa manusia terdiri dari jasmani dan rohani, dengan aspek rohani sebagai pusat kesadaran spiritual. Dalam konteks tajdid, penguatan rohani menjadi syarat penting agar gerakan dakwah tidak kehilangan arah.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan ayat Al-Qur’an yang menyebut bahwa Allah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya di ufuk dan dalam diri manusia. Ayat ini, menurutnya, mendorong umat Islam untuk mengintegrasikan iman, ilmu, dan amal dalam kehidupan nyata.
“Islam adalah agama yang memelihara fitrah, yaitu kecenderungan pada kebenaran, kebaikan, dan keindahan,” tuturnya. Karena itu, gerakan Muhammadiyah harus terus merawat fitrah tersebut melalui pendidikan, dakwah, dan amal usaha.
Menutup ceramahnya, Kiai Saad mengajak jamaah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan pribadi maupun sosial. Ia menegaskan bahwa tajdid dan gerakan pencerahan Muhammadiyah bertujuan menghadirkan Islam yang mencerahkan, memajukan, dan memberi manfaat bagi semesta.






0 Tanggapan
Empty Comments