Suasana berbeda terlihat di ring satu, depan kediaman Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh, saat Jidor Surya Nada PR IPM SMP Muhammadiyah 12 Paciran menyambut kehadiran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI pada Puncak Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah, Ahad (27/9/2026).
Seperti terlihat dalam video, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., bersama Bupati Lamongan Dr. Yuhronur Effendi, MBA, berjalan memasuki gang utama menuju ndalem pengasuh. Di kanan dan kiri jalan, santriwati serta ibu-ibu menyambut dengan senyum.
Kedatangan menteri disambut alunan musik tradisional khas Sendangagung. Grup Jidor Surya Nada membawakan lagu Suwe Ora Jamu dan Lir-Ilir dengan tabuhan rebana, jidor, dan kendang yang dipadukan dengan gamelan Jawa.
Perpaduan musik tersebut membuat suasana penyambutan berlangsung meriah, khidmat, sekaligus sarat nuansa budaya pesisir.
“Grup Jidor ini menjadi satu-satunya grup yang ditampilkan oleh Ponpes Al-Ishlah di ring satu, begitu dekat sehingga langsung bisa disapa tamu agung,” ujar Iwantoro, koordinator Jidor Surya Nada.
Penempatan Jidor Surya Nada di ring satu memang bukan tanpa alasan. Grup tersebut merupakan grup binaan PR IPM SMPM 12 Paciran yang aktif melestarikan seni jidor, kesenian Islam tradisional yang hampir punah dan kini dihidupkan kembali oleh Al-Ishlah.
Dengan seragam khas dan semangat santri SMP, mereka tampil percaya diri di hadapan menteri. Tabuhan jidor yang menggelegar berpadu dengan vokal lagu Jawa-Islam, menciptakan penyambutan yang hangat dan membumi, jauh dari kesan formalitas protokoler.
Mendikdasmen tampak tersenyum dan menikmati sambutan tersebut sebelum masuk ke kediaman pengasuh untuk mengikuti ramah tamah. Setelah itu, rangkaian kegiatan berlanjut ke acara puncak di lapangan pondok yang dihadiri sekitar 4.000 orang.
Momen tersebut menjadi bukti bahwa Al-Ishlah tidak hanya mengembangkan pendidikan akademik, tetapi juga konsisten dalam pembinaan karakter berbasis budaya lokal.
SMPM 12 Paciran tercatat memiliki 1.200 siswa dan disebut sebagai SMP Muhammadiyah terbesar se-Indonesia.
Di usia 40 tahun, Al-Ishlah menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan beriringan dengan pelestarian seni tradisi.
Jidor yang dahulu hanya hadir dalam hajatan desa kini tampil sebagai bagian dari penyambutan tamu negara di lingkungan pondok.
Bagi generasi muda, keberadaan Jidor Surya Nada sekaligus menjadi ruang pembelajaran budaya. Seni tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter dan identitas generasi pelajar.






0 Tanggapan
Empty Comments