Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Kembali ke Rutinitas dan Cara Mengelola Post-Holiday Blues

Iklan Landscape Smamda
Kembali ke Rutinitas dan Cara Mengelola Post-Holiday Blues
Bening Satria (Foto: Istimewa)
Oleh : Bening Satria Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik

“Back to reality” merupakan frasa yang jamak digunakan oleh individu yang terbiasa dengan rutinitas pekerjaan atau oleh pelajar di sekolah untuk menggambarkan kondisi kembali ke kenyataan setelah berpekan-pekan terhanyut dalam euforia hari raya, silaturahmi yang hangat, serta jeda dari rutinitas yang menjemukan.

Kita tiba pada satu titik yang sering kali memicu kecemasan kolektif, baik bagi siswa yang harus kembali memanggul tas sekolah maupun karyawan yang kembali berhadapan dengan pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan. Transisi ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan juga tantangan psikologis yang nyata.

Fenomena “back to reality” ini kerap diikuti oleh kondisi yang secara populer disebut sebagai post-holiday blues. Pertanyaannya, mengapa kembali ke rutinitas terasa berat, dan bagaimana menyikapinya dengan cara yang lebih sehat serta produktif?

Larsen dan Prizmic (2019) dalam penelitiannya menemukan bahwa suasana hati positif akibat liburan cenderung menurun dengan cepat setelah seseorang kembali beraktivitas. Kondisi ini dapat memicu sindrom post-holiday blues, yang sering kali dipengaruhi oleh kembalinya tuntutan hidup yang sempat terabaikan. Perasaan sedih, lemas, atau mudah tersinggung merupakan respons alami ketika individu kehilangan rangsangan menyenangkan yang diperoleh selama masa liburan.

“Liburan memberikan jeda dari kortisol (hormon stres). Kembalinya rutinitas berarti kembalinya tuntutan hormon tersebut, dan jika kita tidak melakukan transisi dengan baik, sistem saraf akan mengalami ‘kejutan’ internal.”

Lalu, bagaimana menyikapi kondisi ini tanpa menimbulkan tekanan berlebih? Penulis yang merupakan guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMP Muhammadiyah 1 Gresik menyarankan beberapa langkah yang dapat diterapkan.

Pertama, teknik low-gear start (memulai secara bertahap). Pada hari pertama, sebaiknya tidak langsung mengerjakan tugas besar. Gunakan waktu untuk menata kembali ruang kerja, menyortir pekerjaan berdasarkan prioritas, serta menyusun rencana kegiatan. Langkah ini dapat memberikan rasa kendali yang membantu menurunkan kecemasan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Kedua, mengembalikan rutinitas tidur. Bagi siswa, pergeseran jam biologis sering menjadi kendala setelah liburan. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan kemampuan kognitif secara signifikan. Oleh karena itu, penyesuaian waktu tidur secara bertahap sebelum kembali beraktivitas menjadi langkah penting.

Ketiga, mempertahankan sebagian elemen liburan dalam rutinitas. Individu tidak harus sepenuhnya meninggalkan suasana liburan. Misalnya, berbagi cerita dengan rekan kerja atau teman sekolah, atau menyimpan kenangan liburan sebagai pengingat suasana menyenangkan. Hal ini dapat membantu menjaga suasana hati tetap positif.

Kembali ke realitas bukan berarti kehilangan kebahagiaan. Masa ini dapat menjadi kesempatan untuk membawa semangat baru ke dalam aktivitas sehari-hari. Bagi guru, pekerja, maupun pelaku usaha, pemahaman bahwa setiap individu membutuhkan waktu penyesuaian akan membantu menciptakan lingkungan yang lebih kondusif.

Selain itu, bersikap baik terhadap diri sendiri pada masa transisi merupakan bagian dari pengelolaan emosi yang penting. Realitas mungkin tidak selalu sehangat suasana liburan, tetapi di dalam realitas inilah seseorang membangun masa depan, bekerja, dan belajar untuk mencapai tujuan yang lebih baik. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡