Kebijakan yang Tidak Berkeadilan
Sebagai negara dengan mayoritas penduduknya memeluk agama islam seharusnya kita dapat memerangi sistem atau kebijakan yang merugikan dan tidak berkeadilan.
Sayangnya muslim di Indonesia khususnya dalam lingkup muslim tradisional masih memiliki logical fallacy, dua logica fallacy tersebut adalah dimana kemiskinan bagi mereka adalah merupakan takdir Allah yang tidak dapat di hindari, sekeras apapun kita bekerja jika takdir kita miskin maka akan tetap miskin.
Selain itu kemiskinan adalah sebuah sunatullah, hukum alam, ada yang miskin ada yang kaya, ada yang pintar ada yang bodoh, dan lain sebagainya, konon agar kehidupan ini seimbang. Tanpa mereka mau berpikir bisa saja kemiskinan ini adalah hasil dari pada kebijakan buruk yang menghasilkan sistem yang buruk pula.
Prinsip Islam: Menjunjung Tinggi Soal Kasih Sayang
Masyarakat Islam Indonesia harus kembali pada konsep penting Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Di mana ada Islam disitulah ada kebaikan bagi sekelilingnya. Agar Islam tidak hanya dipandang sebagai agama dakwah tetapi juga agama yang memanusiakan. Sehingga pemeluknya tidak hanya sholeh secara spiritual tetapi juga sholeh sosial.
Meski demikian kita tahu, pemegang kendali adalah tetap pemerintah, jika pemerintahnya dapat menerapkan prinsip keadilan dalam Islam juga pancasila, maka sejahterahlah semua rakyat Indonesia, meski kaya miskin itu tetap ada setidaknya perbandingannya tidaklah sebesar hari ini, yakni 60,3% rakyat Indonesia masih miskin.
Fenomena yang terjadi hari ini begitu timpang. Di saat banyak rakyat bunuh diri karena tak kuasa menghadapi ekonomi sulit, bahkan ada yang mati perlahan karena kelaparan. Justru pemerintahnya hidup dalam kemewahan fasilitas negara. Jauh dari sabda nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud “Pemimpin yang baik adalah yang memperhatikan kepentingan rakyatnya, sedangkan pemimpin yang buruk adalah yang memperhatikan kepentingan dirinya sendiri.”
Selain pemerintah sebagai pelayan rakyat, adapula orang-orang dari golongan mampu atau kaya, namun mereka acuh pada kondisi kebanyakan rakyat Indonesia yang masih miskin. Mereka yang memiliki daya dan kemampuan untuk merubah tetapi mereka enggan melakukan usaha apapun.
Mereka itulah yang Allah sebut dengan para pendusta agama. Seperti yang terdapat dalam QS Al-Maun ayat 1 sampai 3 yang artinya “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”
Tepat rasanya jika dikatakan kondisi masyarakat Islam Indonesia hari ini jauh dari prinsip Islam yang menjunjung tinggi soal kasih sayang dan keadilan. Seolah Islam itu telah asing bagi pemeluknya. (*)
Editor Amanat Solikah





0 Tanggapan
Empty Comments